"Gue dimana?"
Si pemuda yang bernama Rahesa Adinarta itu tentu sangat kebingungan mendapati dirinya terbangun di tengah hutan. Ia ingat betul bila sebelumnya ia tidur di kosan nya sepeti biasa, namun kenapa sekarang berada di hutan gelap ini.
Secara perlahan Hesa bangkit lalu menoleh ke sekitarnya, aroma bunga tercium semerbak ditengah kegelapan itu yang tentu membuat Hesa semakin merinding.
"Gue kenapa sih?"
Hesa memberanikan dirinya untuk berjalan, di tengah hawa dingin yang kian menusuk, ia terus melangkah sampai tak jauh beberapa langkah di depannya terlihat siluet samar bayangan seseorang.
"Ada ya orang pake hoodie malem gini di hutan?"
Berfikir secara logika, itu sangat tak wajar namun Hesa kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Mau tak mau ia memberanikan diri untuk meminta bantuan atau hanya sekedar bertanya arah pada sosok yang dilihatnya itu.
Langkah kaki Hesa akhirnya membawanya ke hadapan si sosok, dengan segera Hesa memutuskan bertanya.
"M-maaf, apa kamu tau jalan keluar dari hutan ini, aku nyasar dan gak tau kenapa bisa tiba-tiba disini,"
Si sosok yang sedari tadi menatap pohon itu perlahan membalikan tubuhnya ke arah Hesa.
'Apa aku harus memberitahu jalan keluar pada seseorang yang sengaja ku bawa ke tempat ini,'
Seketika nafas Hesa terasa tercekat, ia merinding melihat sosok menyerupai dirinya sendiri itu ada di hadapanya.
"Loe s-sia, akh!"
Si sosok tak memberikan waktu pada Hesa untuk bicara, tangannya sigap mencengkram leher Hesa dengan kuat.
"L-lepas-in," Hesa memukul mukul tangan yang ada di lehernya itu meskipun masih belum berhasil.
'Gue harus lepasin hal berharga yang baru gue dapet?'
Tawa si sosok sungguh membuat telinga Hesa sakit, di tambah rasa nyeri di lehernya yang membuat Hesa semakin melemah,
"G...ue, mati..."
Pandangan Hesa sudah sangat tak jelas sekarang, senyum lebar si sosok yang hanya bisa Hesa lihat sebelum semuanya benar-benar lenyap.
"Kak, kak Hesa loe kenapa, jangan nyakitin diri loe sendiri kaya gini, bangun kak!"
Tunggu, Hesa belum mati? Ia masih bisa mendengar suara itu.
"Kak, lepasin tangan loe, berenti!"
Benar saja, secara perlahan Hesa mulai bisa membuka matanya kembali, pandangan pertama kali yang ia lihat adalah salah satu temannya yang berada disana, menatap Hesa penuh rasa khawatir.
"Untunglah, loe bisa bangun lagi, loe masih hidup," ucap si teman.
"J-Joan, loe ngapain disini?" tanya Hesa.
"Gue bakal bilang tapi lepasin dulu tangan loe, ngeri banget gue liatnya," ucap Joan seraya masih memegangi salah satu tangan Hesa.
Mendengar itu tentu Hesa melirik ke arah salah satu tangannya yang masih di pegangi Joan, ia terkejut reflek bangkit sembari mengusap dada. Dalam mimpi ada seseorang yang mencekiknya namun dalam dunia nyata Hesa mencekik dirinya sendiri dan sedari tadi Joan berusaha mennayadarkan Hesa bahkan menahan tangan si kakak kelas agar cekikan nya tak semakin kuat.
"Loe mimpi buruk ya kak?" ucap Joan.
Hesa yang terlihat masih gemetar itu mengangguk sebagai jawaban, Joan yang kasihan reflek memberi Hesa air minum agar sedikit lebih tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
Mystery / ThrillerBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
