Tak terasa malam hari sudah tiba.
Ketujuh member thirteen sudah kumpul semua di dekat kolam untuk melakukan ritual terakhir sebelum mulai permainan.
Arkha merasa sedikit bosan, jadi ia menoleh kan kepalanya kearah lain namun malah tak sengaja menemukan sosok asing yang memperhatikan mereka tak jauh darisana.
"Ck Lavender lagi, bikin parno aja," ia teringat pada kejadian saat menonton di bioskop melihat seseorang di sebelah Setta, tapi bukan kah ini pertanda bila saat itu Arkha tidak sedang halu?
"Khan, jangan ngelamun dulu, ntar beneran kesambet," Satya yang berada di sebelah Arkha menyenggol lengan si teman untuk mengingatkan.
"Gak ngelamun gue," tepis Arkha.
"Tapi loe liat nya ke arah ruangan kosong itu terus, liat apaan loe?" ucap Niki.
"Cuma boneka," ucap Arkha santai.
"Gak ada bjir, lagian boneka ritualnya kan ini lagi gue pegang," ucap Jio.
"Bercanda elah, serius amat kalian," ucap Arkha.
"Sialan," dengus Satya.
Mereka pun lanjut menyelesaikan ritualnya.
~~~~~
Arkha masih berjalan mengikuti Setta padahal seharusnya ia segera mencari tempat sembunyi, dan Setta yang merasa diikuti reflek menoleh ke arah si teman.
"Khan?"
"Ah s-sorry, gue gak maksud ngikutin loe, g-gue cuma kepikiran, gimana kalo kita ngumpet bareng," ucap Arkha.
"Bareng? Bukanya kita tadi udah janji sendiri2 ya biar lebih seru," ucap Setta.
"Iya, tapi gue ngerasa kurang aman," ucap Arkha.
"Loe takut?" ucap Setta.
"Gak lah," Arkha reflek membantah.
"Terus loe ngerasa gak aman gimana maksudnya?" ucap Setta.
"G-gak tau,"
Setta menghela nafas sejenak, ia berfikir si teman hanya merasa gugup.
"Santai aja Khan, kita bawa kamera masing2 jadi kalo terjadi sesuatu pasti kerekam," ucapnya sembari menepuk pelan bahu Arkha.
"Gue bakal ngumpet ke ruangan yang di ujung sana, kalo loe masih agak takut mending cari tempat yang deket aja sama gue," ucapnya kemudian berlalu.
Arkha masih diam melihat Setta yang sudah berjalan ke tempat tujuannya.
"Gue emang takut Set, tapi ini bukan takut yang kaya loe kira,"
Arkha menetral kan nafasnya berusaha menepis hawa buruk yang menghampiri, ia memilih untuk berfikir positif.
Beralih ke tempat Setta.
"Hi guys," bisik Setta dengan suara bergetar, melambaikan tangannya ke arah kamera di ponselnya. "Sekarang gue ngumpet di lemari dapur sendirian. Tadinya gue mau bareng Kak Arka, tapi kita sepakat buat nggak ngumpet barengan, biar ada tantangannya."
Setta mencoba tersenyum, tapi senyumnya terlihat kaku. Di dalam lemari yang sempit dan pengap, aroma kayu lapuk bercampur debu memenuhi hidungnya. Rak di atasnya berderit pelan seolah menahan sesuatu yang berat. Udara terasa sesak, dan napasnya terdengar lebih keras dari seharusnya.
Drap... drap...
Langkah kaki menggema di kejauhan. Setta terdiam, matanya menatap nanar ke arah celah kecil di pintu lemari. "G-guys... gue denger suara langkah kaki," bisiknya pelan, hampir tak terdengar. Napasnya tertahan, matanya terbelalak mencari-cari asal suara. Tidak ada siapa-siapa. Hanya lemari yang sempit dan gelap, namun suara itu semakin jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
Mystery / ThrillerBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
