Rembulan sudah bersinar menerangi jalanan malam ini, mengiringi langkah Jihan yang berjalan di taman sekitar rumahnya, langkah kakinya terus berjalan membawanya ke area lain taman, tempat beberapa bangku tersusun disana.
Setelah melihat seseorang duduk di bangku taman, ia menghampiri dan duduk di samping pemuda itu.
"Apa kabar Kal," ucap Jihan.
"Gak baik, gue masih gak nyangka Kyungmin mau ngorbanin dirinya."
"Bukan pengorbanan, ini bantuan. Sebagai temen dia pengen bantu kita," ucap Jihan.
"Tapi gue takut Han," ucapnya khawatir.
"Apapun itu, kita tau kalo sekarang, ini jalan yang dia pilih," ucap Jihan.
"Gue ngerasa ada yang salah, dan gue takut kedepannya bakal jadi bencana,"
Jihan menatap pemuda dihadapanya itu dengan khawatir, sejujurnya ia pun sekarang merasa tak tenang namun semua sudah terjadi.
"Tenangin diri loe Kal, percaya dulu aja sama jalan ini," ucap Jihan sembari mengusap bahu si teman agar lebih tenang.
~~~~~~~
Pagi ini Jio berinisiatif bangun lebih awal, pagi sekali ia sudah didapur untuk menyiapkan sarapan, kebetulan ia memang lumayan jago memasak. Tak lama terdengar suara pintu terbuka disusul langkah kaki membuat Jio menoleh sekilas.
"Siapa yang bangun?" tapi ia masih tetap fokus dengan masakanya.
Karna merasa tak sendiri Jio pun berbalik ke belakang, ternyata Arkha sudah duduk di salah satu kursi meja makan. Jio terkejut sejenak lalu mengusap dadanya.
"Ngagetin aja loe." ucap Jio lalu ia menyajikan makanan buatan nya di depan Arkha.
"Wih enak banget ni baru bangun udah ada sarapan, btw gue boleh minta susu gak." tawar Arkha.
"Gue kan cowok bukan cewek." ceplos Jio dengan ekspresi datarnya.
"Sumpah Ji, otak loe perlu di cuci biar bersih." sindir Arkha.
"Canda elah." Jio tertawa garing.
"Sekarepmu." ucap Arkha lalu melahap roti bakar yang sudah tersaji di depanya.
Jio berbalik ke pantry kebetulan di sana ada bubuk kopi susu dan gula yang tersimpan jadi ia tak perlu berjalan lebih ke lemari di dapur, tak lama kemudian ia menghampiri Arkha dengan segelas susu ditanganya.
"Thanks ji." ucap Arkha sambil mengunyah.
"Kalo kurang manis tambahin aja gula, ada juga di pantry." ucap Jio
"Iye tempe, seru juga ya serasa di cafe." Arkha melihat sekilas dapur dan pantry yang berdekatan memang seperti di cafe atau kedai kopi.
Jio tak peduli lebih memilih melanjutkan memanggang roti bakarnya di dapur, saat sedang asik tak sangaja matanya melirik dinding kaca yang berfungsi membatasi taman dan juga ruang makan. Ia melihat pantulan kaca hanya ada bayangannya saja sedang memasak secara reflek Jio segera berbalik dan tak menemukan siapapun di meja makan, meja hanya terisi bermacam buah dan bunga yang diletakan pada tengah meja.
Bagaimana caranya? Jelas sekali tadi Arka ada disana berbicara padanya sembari sarapan, bahkan sempat meminta dibuatkan susu. Jio beberapa kali mengucek mata untuk memastikan penglihatnya namun sama, hanya ada dia sendiri di ruangan itu.
~~~~~~~
"Kak, loe udah bangun kan." ucap Arkha sembari mengetuk pintu kamar yang ditempati Hesa.
"Belum bangun ya,"
Arkha memutar knop pintu dan pintu terbuka namun tertahan sesuatu di baliknya, Arkha memasukan sedikit kepalanya ke sela pintu untuk melihat benda yang mengganjal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
FanfictionBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
