Malem Hari

17 1 0
                                        

Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam ketika Arkha dan kakak nya berada di kamar Arkha untuk menonton bersama.

"Khan, mau tambah cemilan gak, sekalian gue ambilin ke dapur," ucap Si kakak.

"Gak deh kak, punya gue kayanya masih cukup," Arkha menolak halus tawaran itu.

Si kakak menengok ke toples kecil di sebelah Arkha yang memang isinya masih banyak sedangkan toples miliknya sudah hampir habis.

"Nonton enaknya sambil ngemil bukan sambil ngelamun," sindir si kakak.

"Hehe sorry, keliatan ya," ucap Arkha.

Si kakak membalas dengan tatapan datarnya. "Emang loe ngelamunin apaan?"

Arkha menoleh ke arah tv yang masih menyala menayangkan anime yang mereka tonton yaitu anime berjudul promise neverland, anime yang menceritakan kehidupan anak-anak di sebuah 'panti asuhan'

"Ntah kenapa gue ngerasa de javu." ucap Arkha.

"Maksudnya?" si kakak tak paham.

"Rasanya gue pernah tinggal di panti, mirip anime itu," ucap Arkha.

Si kakak mencomot snack di toples Arkha, "Kapan coba loe tinggal di panti? Dari lahir sampe sekarang loe ada di keluarga ini,"

"Gue tau tapi ntah kenapa gue bisa ngerasain itu, gue tinggal di panti sama beberapa orang deket yang kayanya sodaraan sama gue dan kita sering di gangguin sana anak panti disana," ucap Arkha.

Wajah serius dari Arkha malah membuat si kakak tertawa. "Lucu banget njir cerita loe, keknya seru kalo dilanjut,"

"Apa sih, tadi loe nanya ke gue ngelamunin apa tapi pas dijelasin malah ketawa," ucap Arkha menahan kesal.

"Yaampun Khan, gue gak tau kalo loe seserius ini nonton anime sampe bisa ngekhayal gitu," ucap si kakak.

"Bukan halu kak, gue be-"

"Udahlah gue mau ke dapur aja ngambil ni snack, dan lebih baik ntar kita ganti aja ya anime nya, jangan lanjut."

Si kakak pergi ke dapur meninggalkan Arkha yang masih diam di tempat dengan wajah tomatnya, padahal Arkha sungguhan merasa de javu namun si kakak malah menganggap Arkha berkhayal karna terlalu serius menonton anime yang kebetulan jalan ceritanya mirip dengan apa yang ada di bayangan Arkha.

~~~~~~

Hesa duduk di tempat tidurnya, matanya melirik portal hitam di sampingnya sembari menggenggam erat jam kompas di tangan kirinya.

"Kenapa gue bisa gak fokus gini,"

Pikiranya melayang pada 9 bulan yang lalu, ketika ia masih tinggal di rumah bersama ibunya.

Tok tok tok.

Hesa yang sedang asik menonton itu reflek menoleh lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.

"Rahesa anak mama," ucap ibu Hesa sembari memeluk anaknya.

"Ma, kenapa," Hesa bingung sekaligus khawatir dengan pelukan tiba2 itu ditambah lagi ibunya menangis sekarang.

"Umur mama gak lama lagi karna penyakit kanker ini nak, mama takut sekali akan pergi tanpa memberitahu sesuatu padamu," ucap ibunya.

"Ma, jangan ngomong gitu, umur gak ada yang tau," Hesa melepaskan pelukan itu, tangannya terlulur mengusap air mata sang ibu.

"Benar nak, tapi sepertinya mama harus mengatakan hal yang mengganggu pikiran mama selama sebulan kebelakang, kamu ikut mama sebentar ya,"

Mereka berdua berjalan bersama ke kamar ibunya Hesa, setelah disana ibunya Hesa mengambil sesuatu di laci, yaitu sebuah jam kompas yang tampak ada noda merah.

"I-ini apa ma," Hesa kebingungan menerima benda itu dari ibunya.

"Sebulan yang lalu mama gak sengaja melihat seorang pemuda berdiri di atas rooftop sekolah, mama sudah berteriak memohon agar dia turun t-tapi dia tetap menjatuhkan dirinya dari sana. Mama takut dan panik langsung menelfon ambulance sambil teriak juga manggil orang2 tapi disana sedang sangat sepi, mama mendengar suara dari anak itu yang ternyata masih sadar meskipun sudah berlumuran darah, dia minta mama mendekat dan sambil susah payah dia mengeluarkan jam kompas ini dari saku jas almameternya, dia bilang 'kak Hesa perlu jam ini', mama gak tau Hesa yang dia maksud siapa tapi kenapa bisa kebetulan sekali mama memang punya kamu yang namanya sama," jelas ibunya.

Hesa reflek menjatuhkan jam kompas tersebut dari tangannya. "J-jadi itu barang milik seseorang yang bunuh diri,"

"Hesa, maafin mama tapi mama juga gak tau harus apa, mama emang bodoh waktu itu langsung ambil jam nya dan pergi darisana," ucap ibunya.

Hati Hesa rasanya tersentuh melihat sang ibu yang sangat panik bahkan hampir menangis sekarang, meskipun takut ia tetap memberanikan diri untuk memungut kembali jam kompas yang sudah tergeletak di lantai itu, jam tersebut terbuat dari bahan besi yang sangat kokoh mungkin karna itu jamnya jadi tak mudah rusak saat terbanting.

"Ma, mama tenang dulu ya, Hesa bakal bantu cari tau siapa yang orang itu maksud," ucap Hesa sembari memeluk mamanya agar lebih tenang.

Naas beberapa hari setelahnya sang ibu benar2 benar pergi meninggalkan Hesa, ditengah kesendirian Hesa dirumah ternyata jam kompas misterus itu bergerak sendiri dan bisa membuka portal yang memungkinkan Hesa untuk melihat sejenak ke masa lalu ataupun masa depan.

Untungnya Hesa bisa dengan cepat menyadari apa yang terjadi sehingga tak butuh waktu lama untuk ia bisa mengendalikan jam misterius tersebut.

Hesa akhirnya pergi meninggalkan rumah dengan penuh kenangan bersama kedua orang tuanya yang sudah tiada itu, ia menyewakan rumah dan uangnya ia gunakan untuk menyewa kosan serta kebutuhan hidup nya sehari hari.

Dan ntah keberuntungan atau musibah, saat datang ke kosan ini ia ketempelan anomali bernama Jaehyuk.

Kembali ke masa sekarang.

Hesa masih termenung di tepi kasur nya, dengan perasaan bingung.

"Gue kangen mama, apa karna itu gue gak bisa fokus?"

Hesa memainkan jam kompas ditanganya itu.

"Liat teror disekolahan emang penting, tapi soal penulusuran besok juga penting, gimana kalo ntar ada hal buruk,"

Hesa menutup mata sembari menggenggam erat jam nya, selama beberapa saat sampai ia membuka matanya kembali.

"Gue bakal coba lagi, semoga sekarang berhasil,"

Rasa dingin ditanganya membuat Hesa terkejut. Ia melirik jam ditanganya yang sudah dikelilingi asap hitam.

Klontang.

Secara reflek Hesa menjatuhkan jamnya. Tak disangka, didekat jam iru tiba-tiba muncul portal yang memunculkan sosok misterius yang membuat Hesa tercengang.

"Kau masih meragukan kepercayaan teman teman mu akan jam ini?" ucap si sosok sembari memungut jam milik Hesa.

"L-loe siapa, kenapa muka loe sama kaya gue," ucap Hesa.

Si sosok terkekeh geli melihat reaksi Hesa seperti itu. "Gue orang yang bakal ajak loe main nantinya, jadi jangan lupain gue,"

Hesa bangkit untuk mengambil jam kompas miliknya namun si sosok malah menghindar, tak ingin jam itu ada pada Hesa.

"Balikin jam gue!"

"Cukup sulit memanipulasi jam ini agar kau tak bisa melihat kejadian liburan mu besok, aku harus mengembalikanya padamu?"

Si sosok mundur perlahan ke portal di belakangnya. Hesa berusaha meraih si sosok namun tak sampai dan akhirnya si sosok hilang meninggalkan Hesa sendirian di kamar kosanya.

"Sialan!" Hesa memukul tembok di dekatnya dengan kuat.

Hesa merasa kesal pada si sosok yang ntah muncul dari mana langsung mengambil jam peninggalan mendiang ibunya, ditambah lagi Hesa belum menemukan si pemilik jam ataupun orang yang dimaksud si pemilik jam namun jam itu sekarang malah hilang.

UndercoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang