Tetangga

72 28 7
                                        

"Loe bohongkan, soal gak kena teror,"

Arkha melirik Hesa yang tengah duduk di bangku sedangkan ia memilih berdiri di dekat pagar pembatas untuk menikmati angin.

"Kita semua emang kena teror, kecuali Setta. Darimana loe tau kalo gue juga sebenernya kena," ucap Hesa.

"Tangan loe, gue ngeliat daritadi loe sengaja sembunyiin tangan loe kebelakang," ucap Arkha.

"Peka juga ya loe," ucap Hesa.

"Jadi, apa yang loe alamin tadi," ucap Arkha.

"Heeseung ngejebak gue ke dunia lain, dia ngejar gue sambil bawa pistol tapi untungnya gue berhasil sembunyi di kelas dan pas sembunyi di kelas itu gue ketemu si setan lavender," ucap Hesa.

"Dia nolong loe?" ucap Arkha.

"Bukan. Gue liat gambaran masa lalu kalo dia sama temenya masuk ke kelas itu buat ambil jam misterius yang sebelumnya ada ditangan gue," ucap Hesa.

"Oh, jadi yang sebelumnya ibu loe liat orang bundir itu... Si setan lavender." ucap Arkha.

"Ya. Setelah mereka berdua pergi dari kelas, kembaran gue dateng kesana nyari gue, gue berhasil kabur tapi dia terus kejar gue sampe akhirnya gue bener2 cape, gue diem di lorong dan gue bilang ke dia kalo gue nyerah," ucap Hesa.

"Loe gak bercanda kan kak?!" Arkha tak percaya yang dikatakan si kakak kelas.

"Enggak, emang itu yang gue omongin sama dia," ucap Hesa.

"Kalo gue jadi Heeseung sih kesel banget, ngapain coba tiba2 nyerah gitu," ucap Arkha.

"Heeseung juga sama, dia kecewa sama keputusan gue, meskipun ya loe tau, dia belum berenti buat neror gue," ucap Hesa.

"Apa yang ada dipikiran loe, kenapa bisa milih keputusan yang bego," ucap Arkha.

"Gue pengen ketemu sama orang tua gue," ucap Hesa.

"Suatu hari loe pasti ketemu sama mereka berdua tapi kan gak sekarang, mereka malah bakal sedih kalo liat loe kaya gini," ucap Arkha.

"Saat itu gue udah bingung banget, gue tau kalo gue emang salah," ucap Hesa sembari menunduk.

"Ck, terus apa yang terjadi setelah itu," ucap Arkha.

"Heeseung nembak kepala gue dan gak lama dari itu gue balik ke dunia nyata, harusnya kepala gue cerdera agak parah kalo gak ada Jihan, dia nahan kepala gue supaya gak kebentur keras ke atas semen ini pas jatoh," Hesa melirik area pembatas roftoop dekat Arkha berdiri.

"Jihan? Cewek aneh yang sempet ketemu di ruang eskul tari itu kan," ucap Arkha.

Hesa mengangguk. "Dia anak indigo, pas ketemu kita di depan ruang eskul itu ternyata dia liat temenya yang udah gak ada, dia bilang kalo si temenya itu ternyata ada disana karna mau nunjukin gue kejadian yang temenya ini alamin,"

"Maksud loe, yang loe liat dua murid diserang?" ucap Arkha.

"Melvin alyas temenya Jihan ini ngalamin teror juga kaya kita, dia dan satu persatu temenya meninggal karna ini, termasuk Agantha sama si setan lavender," ucap Hesa.

"Dugaan kita soal 'permainan sebelumnya' berarti bener kan, tapi semua pemain udah gak ada?" Arkha melirik Hesa untuk memastikan dan Hesa mengangguk.

"Kalo pemainya gak ada, darimana kita mulai cari tau soal teror, apa mungkin Jihan kena teror ini juga makanya dia dibilang bawa sial?" ucap Arkha.

"Gak gitu Khan, Jihan abis kecelakaan motor sama temenya dan temen dia meninggal tapi yang gak suka Jihan nyebarin rumor aneh, dia tau teror ini dari Melvin, Jihan bilang kalo teror bakal berenti waktu kita nemuin penghianat," ucap Hesa.

UndercoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang