Sticky note

0 0 0
                                        

Jihan menutup jendela kamarnya karena hari sudah semakin larut. Ia lalu meletakkan buku tugas di atas meja untuk segera dikerjakan, namun tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah figura foto di meja belajar.

Tangannya bergerak perlahan mengambil figura itu. Perasaan gelisah tiba-tiba menyusup ke benaknya.

Foto tersebut adalah potret dirinya bersama teman-teman genknya—mereka yang kini telah tiada.
Sekejap, ingatannya kembali pada kejadian terakhir. Ia dan yang lain terikat di kursi-kursi yang disusun melingkar.

Ikatan Jihan memang dilepaskan oleh sosok itu, tetapi sebagai gantinya ia dipaksa menembak temannya yang telah terpengaruh. Jihan tentu memilih mengarahkan senjata ke sosok tersebut, namun usahanya sia-sia—karena sosok itu sudah mati.

Sosok itu hanya tertawa, lalu mengambil alih kendali tubuh Jihan, memaksanya menembak temannya sendiri.

Tanpa terasa, air mata Jihan jatuh seiring potongan masa lalu yang berputar di kepalanya.

Krieeett—

Suara pintu berderit membuat Jihan refleks menoleh.

Saat ini, rumah terasa sunyi. Kedua orang tuanya belum pulang dari kerja.

Seseorang yang menyerupai Jihan melangkah masuk ke kamar itu.

'Wah, apa gue ganggu loe?' ucap sosok itu santai.

“Pergi,” kata Jihan dengan suara rendah namun tegas.

'Loe gak kangen kembaran loe sendiri?' balas sosok itu.

“Loe cuma bisa ngubah wujud jadi mirip gue. Kenyataannya, loe itu Kak Hesa di masa lalu,” ucap Jihan.

Sosok itu tertawa pelan. 'Tapi sekarang gue mirip loe, kan? Dan loe juga yang megang peran gue di permainan itu.'

“Gue gak peduli soal loe atau permainan itu. Sekarang pergi. Gue gak punya urusan apa pun lagi,” kata Jihan.

'Gak ada urusan? Gue gak salah denger, kan?'

Sosok itu melangkah mendekat. 'Loe lupa apa yang terjadi di tanggal tiga belas? Perlu gue bikin loe inget lagi?'

“Gue udah nyelesain permainan gue. Seharusnya loe gak pernah dateng lagi ke hidup gue!” bentak Jihan.

'Loe bener,' jawab sosok itu.

'Tapi loe sendiri yang ngebuka masalah ini lagi, sampai gue harus berurusan sama loe.'

“Gue bebas ngelakuin apa pun. Gue udah gak ada hubungan sama kalian,” ucap Jihan.

'Ya, tapi seharusnya loe gak ganggu permainan yang lagi berlangsung,' balasnya dingin.

“Gue gak mungkin diem aja ngeliat orang-orang gak bersalah jadi korban,” kata Jihan.

Perkataan itu membuat sosok tersebut murka. Ia langsung mendorong Jihan ke dinding dan mencekik lehernya dengan kuat.

'Kalo gitu, loe harus nerima konsekuensinya.'

Tatapannya tajam menembus wajah Jihan yang kesakitan, berusaha melepaskan diri.

'Kita harus ngelenyapin loe… supaya gak ada lagi hama di permainan ini.'

******


Hesa menutup pintu kamarnya lalu melihat kembali sticky note yang tersimpan di atas meja belajar.

"Ini sebenernya dari siapa ya?"

"Dari gue."

Hesa reflek menoleh ketika mendengar bisikan itu, namun tak ada siapapun disana. Ditengah rasa keterkejutan itu sebuah tangan pucat nan dingin menyentuh bahu Hesa dari belakang.

UndercoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang