Dia

5 0 0
                                        

Arkhan sudah tiba di depan rumahnya, ia menoleh ke arah halaman rumah yang masih tampak kosong, menyadari yang menyalahkan lampu rumah dimalam ini adalah Art nya.

Ia membuka pintu seperti biasa lalu masuk, suasana rumah hening karna pasti art sedang bekerja didapur atau malah sedang beristirahat.

"Khan, udah pulang,"

Arkha yang selesai melepas sepatu itu refrlek menoleh.

"Oh kakak, loe udah pulang juga," ucap nya.

"Iya, gue juga baru balik dari kampus, kalo loe? Kenapa baru balik malem gini," ucap si kakak.

"Gue ada les," ucap Arkha.

"Oh les, kirain keluyuran," ucap si kakak.

"Ya kagak lah, btw loe pulang gak pake motor?" ucap Arkha.

"M-motor gue rusak dan masuk bengkel," ucap si kakak.

"Oh," Arkha berjalan hendak menaiki tangga untuk kekanarnya yang berada di lantai atas namun suara si kakak kembali membuatnya menoleh.

"Khan, gue nyuruh bi yaya keluar beli makanan. Gak sekalian nitip loe," ucap si kakak.

"Gak deh kak, udah makan tadi," ucap Arkha.

"Loe gak akan keluar lagi kan," ucap si kakak.

"Gak, kenapa," ucap Arkha.

"Kalo loe pergi, gue sendiri lagi lah disini," ucap si kakak.

"Takut loe, dasar cemen," remeh Arkha.

"Gak gitu njir maksudnya," ucap si kakak.

Arkha tak mendengar lagi ocehan si kakak dan memilih melengos pergi namun tiba2 perasaan janggal muncul dibenaknya.

"Motor kak Seon rusak ya, tumben banget. Di kan rajin chek up motor ke bengkel, makanya gak pernah gue denger motornya rusak sampe nginep di bengkel,"

~~~~~~

Suasana tenang di perpustakaan sepertinya tak berpengaruh pada Hesa untuk saat ini, ia terus membalik buku dihadapanya tanpa membaca.

"Sayang?"

Hesa menoleh ketika Winter menyodorkan satu cup es krim padanya.

"Lagi banyak urusan osis ya?" ucap Winter.

"A-a iya, lumayan." balas Hesa gugup.

"Jangan stres2 ntar gila loh, aku mau kok denger cerita kamu," ucap Winter.

Cerita?

Sedari tadi Hesa sibuk memikirkan permasalahan terkait villa dan si sosok penghuni baru, Winter pasti tak akan percaya akan apa yang dipikiran Hesa sekarang dan mungkin malah mengira Hesa terlalu berlebihan mimikrkan masalah tak penting.

"Gak sayang, berat mending aku aja," gombal Hesa.

"Kamu tu ya," ucap Winter seraya mencubit pipi Hesa gemas.

Hesa membuka cup es krim dari Winter kemudian mulai memakanya.

"Oh iya yang, kayanya hari ini kita gak bisa pulang bareng," ucap Winter.

"Oh ya?" kebetulan sekali bagi Hesa karna hari ini ia ingin menguntit seseorang.

"Iya, temen ku ada yang ultah hari ini jadi sekarang aku harus buru2 ke kafe, maaf ya," ucap Winter.

"Gak apa2 kok," ucap Hesa dengan senyumnya.

Tak lama dari itu Winter berpamitan pada Hesa sedangkan Hesa masih diam di perpustakan untuk mengerjakan beberapa tugas sekolahnya.

UndercoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang