Hesa dan yang lainya sudah berkumpul di taman, lebih tepatnya di depan tong bekas yang sudah mereka nyalakan apinya.
Tak menunggu waktu lagi, Hesa langsung melempar boneka ditanganya ke arah api.
"Jadi gimana kronologi nya," ucap Niki.
"Kronologi apaan," ucap Hesa.
"Boneka itu, ketemu sama loe atau Setta?" ucap Niki.
"Gue yang ditemuin sama boneka itu, dia nusuk nusuk lemari tempat gue sembunyi tapi untungnya kak Hesa dateng," ucap Setta.
"I-iya, gue denger suara aneh gitu makanya gue dateng dan pas nyampe ternyata suara itu dari si boneka yang nusukin lemari," ucap Hesa agak gugup karna ia sedang berbohong.
Yang lain mendengarnya hanya mengangguk paham.
"Dan setelah itu kalian berdua nyari kita buat ngasih tau game nya selesai," ucap Satya.
"Iya lah, apalagi," ucap Setta.
"Tapi Set, tangan loe di plester padahal sebelumnya gue liat gak ada, itu gara2 si boneka?" ucap Joan.
"Gue sempet nahan pintu lemari itu supaya gak dibuka sama si boneka eh ternyata lemari nya dia tusuk, tapi ini luka kecil doang kok, gak masalah."
Arkha yang mendengar itu hanya menoleh sekilas. "Bener lagi firasat gue,"
~~~~~
Suasana malam sudah sangat hening dan sepi menunjukan para pemuda yang sedang menginap itu sudah berpindah ke alam mimpi namun di tengah kesunyian itu ada satu pemuda yang nampak gelisah dan akhirnya dia terbangun dari tidurnya.
"Jam berapa ini," Hesa mengucek mata sebentar lalu mengambil ponsel yang tepat berada di sebelah nya.
"Masih jam dua. Game beres jam satu berati gue tidur cuma satu jam tapi kenapa tiba2 kebangun gini, mau tidur lagi juga gak ngantuk," keluh Hesa.
Ia kembali menaruh ponselnya di sebelah bantal, lalu bangkit berjalan keluar kamar.
Cklekkk.
"Loh kok pintu kamar gue ke kunci?!"
Dengan panik Hesa berusaha menarik narik pintu ini bahkan sesekali menggedornya.
"Sialan gue ke kunci," Hesa mengambil ponsel untuk memberi tahu teman temanya namun saat dilihat lagi nomor semua temanya sedang tak aktif.
"Mereka pasti masih pada tidur njir, dahlah jangan ganggu mendingan gue juga tidur nunggu ntar siang pada bangun,"
Hesa kembali berbaring di tempat tidurnya, saat menutup mata ia malah teringat kejadian sebelum nya.
"Si setan lavender,"
Hesa memutuskan untuk menyebutnya begitu karna setan yang tadi ia temui memang memiliki rambut berwarna ungu.
Ntah kenapa Hesa merasa visualnya tak terlalu menyeramkan untuk ukuran se sosok makhluk gaib, ada vibe sedih ketika Hesa melihat dia apalagi saat tadi si setan sempat tertawa.
Namun apapun itu tetap hantu, sangat menyeramkan bertemu denganya.
Apalagi dia mengetahui nama Hesa dan Arkha.
"Tu setan gak ngawasin gue sama yang lain kan? bisa bisanya dia tau nama gue sama Arkha, eh tapi dia bilang bukan setan vila atau pun setan yang kepanggil pas ritual,"
Hesa berfikir sejenak, mencoba memikirkan sesuatu yang mungkin bisa jadi petunjuk.
"Arkha mau dipanggil Arkha kek, Arkhan atau bahkan Nael juga kek nya bakal noleh sih soalnya nama dia Arkhanael, ya meskipun emang yang manggil Arkhan biasanya orang baru,"
Sebentar..... Arkha mengatakan bila belakangan ini dirinya sering merasakan hal aneh seperti sebuah firasat. Apakah itu karna Arkha ketempelan si setan lavender, itu sebabnya si setan bisa mengenal Hesa.
Di tambah lagi tadi Hesa nampak melihat reaksi aneh Arkha saat Setta mengatakan tangannya tergores pisau yang dibawa si boneka, sepeti nya anak itu merasakan hal aneh lagi.
"Ah mending besok gue ngobrol sama Arkha, si setan sempet liat Arkha dua kali, apa iya mereka emang saling kenal?"
Hm. bila dipikir ulang sih sepertinya hanya si setan yang bisa melihat Arkha namun tak ada salahnya bila Hesa menanyakan itu pada Arkha.
"Dahlah mending gue tidur,"
Hesa menarik selimutnya kemudian menutup mata.
Dugh dugh dugh.
Suara riuh dari luar tentu membuat Hesa tak tenang.
"Siapa yang lari diluar, ada yang masih bangun?"
Hesa bangkit kemudian menempelkan telinganya pada pintu untuk mendengar lebih jelas.
Dugh dugh dugh.
Suara itu semakin jelas diikuti suara hela nafas menggema seperti ada seseorang berlari diikuti sesuatu.
"WOI SIAPA DISANA," teriak Hesa sembari menggedor pintu.
Setelah beberapa menit akhirnya Hesa mendengar sesuatu lain.
"Pergi, gue gak tau siapa loe,"
Suara lirih itu terdengar, Hesa mencoba mengingat si pemilik suara.
"Jangan ikutin gue lagi, pergi."
Hesa semakin mengeraskan pukulanya pada pintu.
"WOI, LOE DENGER GUE KAN,"
Hesa terus mencoba pintu namun tetap saja tak kunjung terbuka sampai perlahan lahan suara yang ia dengar mulai menghilang digantikan keheningan.
"SETTA LOE DENGER GUE, LOE MASIH DISANA KAN,"
Sudah beberapa menit berlalu hanya suara kicauan burung gagak dari luar yang bersahutan seperti menjawab perkataan Hesa.
~~~~~
"Masih malem,"
Setta menoleh ke arah jendela, dari balik goreng terlihat pencahayaan samar dengan suasana hening yang membuat Setta bisa tahu bila ini masih malam.
"Biasanya gue kebangun tengah malem gini kalo lagi kebelet, tapi perasaan sekarang enggak,"
Rasa bingung seketika hinggap di kepalanya, ditambah suasana sunyi ini membuat hawa semakin tak nyaman.
"Dahlah cuma kebetulan aja, mending gue balik tidur,"
Setta mulai berbaring dan menutup mata, hanya beberapa detik saja.
"Setta Dinanta, susah2 gue ngebuat loe bangun tapi loe gak mikirin itu sama sekali,"
Sebenarnya Setta tahu itu bukan suara temanya dan seharusnya ia tetap menutup mata namun ia penasaran dan menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasa dari cermin pada lemari di dekatnya.
"L-loe,"
Setta gemetar melihat sosok itu yang hanya ada dalam cermin bukan dunia nyata dan yang membuat Setta semakin tak percaya adalah wajah si sosok yang sama dengan wajahnya, bedanya si sosok tampak sangat menyeramkan.
"LOE SIAPA!"
"Kembaran loe," ucap si sosok dengan santai nya.
"E-ENGGAK, LOE SETAN,"
Setta langsung turun dari kasur nya menuju pintu, dan saat memutar kenop ia menoleh pada kaca di lemari itu, dengan matanya sendiri ia melihat si sosok keluar dari cermin.
Dengan senyumanya ia menghampiri Setta yang masih mematung di tempat, beruntung Setta segera sadar. Ia berlari ke luar begitu si sosok semakin mendekat.
Langkahnya dengan cepat menapaki lantai menimbulkan bunyi menggema, tapi sepertinya keadaan sekitar tak terpengaruh sama sekali karna bunyi itu.
Setta menggedor satu persatu kamar temanya namun tetap sunyi tak ada kehidupan di dalamnya. Mereka terlalu terlelap di dalam alam mimpi.
Dalam rasa keputusasaan, Setta terus berlari di dalam gelapnya villa. Kakinya membawa Setta bersembunyi di dalam suatu ruangan yang tak lupa Setta tutup pintunya.
Setta tertunduk di balik meja itu sembari dalam hatinya terus berdoa untuk kesalamatan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
Mystery / ThrillerBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
