Hesa membuka pintu ruang osis lalu melangkahkan kakinya masuk ke ruangan tersebut. Udara sekitar masih terasa dingin, di tambah lagi tak ada penghuni lainya selain Hesa disana.
Setelah menaruh minuman di salah satu meja, Hesa kembali ke meja nya sendiri kemudian mulai mengerjakan beberapa tugas.
Sampai tak terasa waktu terus berlalu, Hesa hampir selesai ketika seseorang membuka pintu ruang osis.
Kriettt–
"Pagi," sapanya sembari memasuki ruangan.
"Pagi juga Min," Hesa menoleh ke arah si teman.
"Belum banyak yang dateng ternyata," ucap Minju seraya menaruh tasnya diatas meja.
"Biasalah pada ngaret," balas Hesa, ia menutup bukunya karna sudah selesai.
Minju menghela nafas sebentar sebelum duduk di bangku namun pandanganya tak sengaja teralihkan pada minuman kemasan yang berada di atas meja, ia mengambilnya.
"Kayanya pas kemarin balik, gak ada yang ketinggalan," ucapnya heran.
"Itu dari gue," ucap Hesa.
"Winter gak akan marah ni," ucap Minju.
"Gak, santai aja," ucap Hesa.
Mata Minju menyipit menatap si teman, tumben sekali anak itu baik.
"Mau apa loe, pasti ada apa2 nya kan," ucap Minju.
Hesa seketika kikuk, menggaruk tekuknya yang tak gatal. "Hehe iya, gue mau ke ruang arsip dan seinget gue sekretaris osis pegang kunci ke ruang arsip juga kan, supaya gampang nyari berkas disana,"
"Emang loe ngapain ke ruang arsip, disuruh guru?" ucap Minju.
"B-Bukan, gue mau nyari data siswa," ucap Hesa.
"Buat?" ucap Minju.
"Buku gue ketuker sama Adkel, gue sempet liat nametag dia tapi gak tau dia dari kelas mana," Hesa beralibi.
"W-wait, ketuker? Kok bisa?" ucap Minju.
"Tabrakan di koridor, tapi waktu itu gue buru2, makanya langsung pergi, gak sadar buku kita udah ketuker," ucap Hesa.
"Oh," Minju mengangguk paham mendengar penjelasan itu.
"Loe bisa kan anter gue ke ruang arsip?" ucap Hesa.
"Buku itu penting," ucap Minju.
"Y-yaiyalah, pake nanya," ucap Hesa.
"Yaudah, ayo kita keruang arsip," ucap Minju.
Mereka berdua pun keluar dari ruang osis, berjalan di koridor menuju tempat yang di tuju.
Saat melewati lapangan, Hesa melihat salah satu temanya berlatih basket sendirian.
"Joanan Xavero,"
Hesa jadi teringat pada perkataan Arkha di hari kemarin, bila si pemuda berwajah imut itu perlu di curigai, tapi sekarang Hesa sudah tau siapa penghianat sebenarnya, lantas masih perlu kah ia mencurigai Joan?
"Apa Sa?" ucap Minju.
"H-hah, apa," Hesa ikutan heran, dikiranya Minju tak mendengar gumamnya tadi.
"Loe kaya ngomong sesuatu," ucap Minju.
"Gak kok, gue nyebut nama temen gue aja yang tadi latihan di lapangan," ucap Hesa.
"Oh," Minju mengangguk paham.
"Btw nama Adkel yang tabrakan sama loe itu siapa, barangkali aja gue tau,"
"Jihan Anastasya," ucap Hesa.
"Jihan?"
Minju tampak terkejut dan bingung mendengar nama itu, bahkan eksprsinya sedikit menunjukan raut sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
Mystery / ThrillerBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
