Di pagi yang sudah cukup cerah ini, Hesa berjalan di koridor menuju kelas namun karna haus jadi ia memutuskan berhenti dulu membeli minuman di mesin vending.
"Joan kayanya belum nyampe sekolah, gue tunggu deh bentar," Hesa melirik jam di pergelangan tangannya lalu mengambil minumanya.
Tak lama dari itu ada seorang murid lain yang akan membeli minum juga, Hesa menggeser sedikit tubuhnya karna dirasa mengganggu siswa itu.
Ia berjalan kembali melewati para siswa yang sedang berkumpul menghabiskan waktu sebelum masuk kelas, namun Hesa merasa aneh karna para siswa membicarakan soal rasa kasihan mereka pada seorang siswa lain yang katanya baru tertimpa kesialan.
"Mereka nyebut Jihan?" Hesa bingung sendiri dalam hati karna sebelumnya ia sempat melihat nametag anak yang berpapasan denganya saat membeli minum di mesin vending.
"Dia kena sial apa? —eh kok gue jadi mikirin orang lain, mendingan sekarang gue temuin Joan sebelum dia jatoh,"
Hesa melanjutkan langkah nya menuju area tangga. Tepat waktu, ia melihat Joan yang akan menaiki tangga.
"Jo," panggil Hesa dari bawah.
Yang dipanggil reflek menoleh.
"Perhatiin langkah loe, hampir aja plastik itu keinjek." ucap Hesa.
Joan menunduk, dan benar saja kakinya hampir menginjak plastik licin, bila Hesa tak datang mengingatkanya mungkin saja plastik itu sudah terinjak, tekstur plastik yang licin sepertinya bisa membuat Joan terjatuh ketika menginjaknya.
"Thanks kak," ucap Joan.
"Yo," Hesa membalas singkat sembari menaiki tangga juga.
Mereka berjalan bersama sampai akhirnya tiba di depan kelas.
"Duluan Jo," Hesa melambaikan tangan sekilas, lalu kembali berjalan menuju kelasnya yang memang bersebelahan dengan kelasnya Joan.
Joan masih terus memperhatikan Hesa sampai sosok itu hilang dari pandangan Joan.
"Kak Hesa makin aneh, belum beres gue percaya soal kejadian lift kemarin emang cuma kebetulan dan sekarang terjadi lagi, ntah keberapa kali nya ini dia nyelamatin anak2 thirteen,"
Joan masuk ke kelas disambut kedua temanya yang ternyata sudah tiba lebih awal.
"Loe gak kerasukan Jo, lama amat diem di depan pintu," ucap Niki.
"Kagak lah bjir," balas Joan dengan ekspresi datarnya.
"Loe ngelamunin apa, tadi gue liat kak Hesa juga bareng loe," ucap Setta, temanya yang satu ini lebih mengerti.
"E-nggak, gak ada yang gue lamunin. Oh ya tadi gue gak sengaja ketemu kak Hesa ditangga, jadi sekalian aja jalan ke kelas," ucap Joan.
Murid lain mulai tiba satu persatu dan tak lama dari itu, bel masuk berbunyi menandakan akan dimulainya kegiatan belajar mengajar.
~~~~~~
Saat jam istirahat, semua member genk thirteen berkumpul di salah satu meja yang berada di kantin. Jadi hari ini mereka akan pergi ke sebuah villa untuk membuat video konten.
"Eh jadi kan kita hari ini," tanya Hesa pada yang lain.
"Jadi lah," jawab Jio.
"Ikut semua?" ucap Arkha.
"Ikut kok," ucap Setta.
"Kita bakal ngapain aja disana, ngerekam aja kaya biasa?" ucap Niki.
"Ya?" jawab Joan ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
Mystery / ThrillerBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
