"Joan kemana?"
Setta memperhatikan kelas yang masih tampak ramai namun tak satupun temanya disana.
"Niki pasti masih latihan. Joan? Masa ia dia masih di toilet, orang gue juga udah beres makan dikantin,"
Setta melirik tas kedua temanya yang masih ada.
"Eh, mereka gak janjian mabal kan,"
Kring!
Sebuah pesan masuk keponselnya, Setta reflek membuka pesan tersebut.
"Niki? Kenapa dia ngirim chat kosong, spasi doang nih, mau ngerjain gue kayanya,"
Dengan bingung Setta menutup pesan itu kemudian beralih membuka aplikasi lain.
"Setta,"
Setta menoleh ketika si teman memanggil serta menghampirinya tergesa gesa.
"Taeyoung, kenapa?" ucap Setta.
"Temen loe," ucap Taeyoung terengah.
"Temen gue apa? nafas dulu." ucap Setta.
"T-Temen loe, Joan. Dia di bawa ke uks tadi soalnya pingsan di toilet," ucap Taeyoung.
Tak menunggu waktu lagi, Setta langsung pergi keluar kelas.
~~~~~
"Kenapa ni lorong jadi kaya labirin, gak ada jalan keluar sama sekali, gue cuma muter2 aja disini,"
Hesa berhenti berlari, ia jatuh tertunduk di lantai lorong itu. Hesa tahu dirinya payah karna memilih menyerah namun sekarang ia juga tak bisa berfikir jernih, apakah jalan keluarnya adalah dengan negosiasi bersama si kembaran?
"Sial!"
Hesa hanya bisa melirik ke area kosong sekitar nya itu pasrah, ditambah lagi perlahan ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Udah cape mainya?"
Heeseung duduk di sebelah Hesa.
"Gue nyerah," ucap Hesa.
"Secepet itu? Ayolah, kenapa loe jadi ngecewain gue gini, gue tau loe bukan pecundang." ucap Heeseung.
Hesa terkekeh. "Sorry bikin loe kecewa, tapi gue tau teror sekarang atau teror yang akan datang, semua ulah loe dan gue pengen loe gak libatin temen2 gue,"
Heeseung tampak tak suka melihat ekspresi Hesa yang tampak menyedihkan itu. "Loe sebagai ganti temen2 loe, apa ini maksudnya ngorbanin diri?"
"Terserah loe mau bilang apa, kalo target loe emang gue, lebih baik cuma fokus ke gue," ucap Hesa.
"Gak seru sih kalo gak libatin yang lain," ucap Heeseung.
"Gak! Jangan libatin siapun lagi," ucap Heeseung.
"Oh, beneran ngorbanin diri ya,"
Heeseung tersenyum lalu menempelkan ujung pistolnya pada kepala Hesa. "Padahal gue masih pengen main sama loe, gue berharap permainan ini berlangsung lama."
Hesa menatap balik si kembaran. "Cuma sama gue,"
"Gue gak mau, loe gak punya hak buat atur gue," ucap Heeseung. Tangannya bergerak cepat menarik platuk.
Dor!
Hesa masih bisa dengan jelas mendengar suara itu sebelum sedetik kemudian rasa sakit yang luar biasa mendera kepalanya, ia tak bisa bergerak sama sekali dan hanya bisa merasakan tubuhnya jatuh diatas lantai dingin itu.
"Gue bakal ketemu mama sama papa,"
Matanya seketika berat dan perlahan menutup. Samar, ia melihat si kembaranya menatapnya menyedihkan seperti tak suka dengan jalan yang di pilih Hesa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
Mystery / ThrillerBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
