"Hai guys!" Ucap Shani, "Jadi disini aku berperan sebagai Shani Cendara Adnan, padahal nama asli aku Shani Indira Natio. Indira? Hahaha, aku jadi ke inget kembaran aku di cerita ini, udah gitu namanya Indira lagi, kayaknya author cerita Candramawa terinspirasi dari nama tengah aku, ya!"
Shani berjalan ke arah kamera yang menampilkan wajah Gracia, ia menunjuk Gracia, "Nah, kalo ini namanya Shania Gracia Harlan. Tapi disini dia berperan sebagai Shania Gracia Askara ya, guys, ya!"
Shani menyorotkan kameranya ke sekeliling restoran tempat ini, "Nah, guys! Jadi aku tuh lagi meranin jadi kembaran Shani gitu. Kayak, episode pertama tuh tentang mimpi Gracia."
Gracia yang sedang asik duduk di kursinya menghampiri Shani, "Sumpah, deh. Ini syuting pertama aku loh, guys."
"Sama. Ini juga syuting pertama akuuu." Jawab Shani dengan bangga.
Gracia mendekati wajahnya ke kamera Shani, "Aku deg-degan."
"Jangan gugup gitu dong, Ge. Kamu, kan, harus profesional."
"Iya, kak Shani."
"Eh, guys! Si Gracia selama meranin cerita ini tuh jadi kebawa di real life tauuuu. Dia jadi lebih sering manggil aku kak Shani mulu, biasanya kita berdua saling pake aku-kamu."
"Namanya juga harus profesional, kak Shaniiii." Gemas Gracia sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Shani.
"Iya-iya. Liat deh, sifat manjanya mulai keluar." Shani semakin mendekatkan kameranya ke wajah Gracia.
Gracia memanyunkan bibirnya, ia menutup kamera Shani, "Iiihhh, jangan di perjelas gitu dong."
Shani tertawa. Sutradara mereka menghampiri Shani dan Gracia, ia menyuruh keduanya untuk segera berdandan.
"Bentar, ya! Kita mau make up dulu nih," Ucap Shani, "Tenang, guys. Kameranya tetap lanjut terus kok. Kayaknya nih video bakalan berjam-jam deh."
Gracia mengangguk dengan ucapan Shani, ia melambaikan tangan ke kamera. Keduanya kembali ke meja masing-masing yang bersebelahan, terlihat para kru tim yang mendandani mereka.
"Okey, kali ini aku harus jadi Indira." Ucap Shani di sela stylish-nya.
"Dan aku jadi Gracia." Jawab Gracia.
Keduanya saling tertawa. Setelah selesai dengan make up, mereka mulai fokus terhadap acting yang mereka lakukan. Kali ini latar tempat yang mereka gunakan di sebuah restoran. Disini terlihat Gracia dengan lancang mengajak Shani berbicara di meja makannya.
Shani terlihat gugup dengan actingnya, groginya tak bisa di pungkiri, kakinya terus bergoyang di bawah sana, sengaja agar dirinya tak terlalu gugup.
"Cut!" Ucap sutradara.
Acting mereka telah selesai. Pipi Gracia benar-benar terlihat merah, ia sedikit baper ketika Shani mengelap bibirnya tadi.
"Eh, sumpah, aku beneran salting tauuu." Ucap Gracia, ia menghampiri Shani yang kembali memegang kameranya.
"Hahaha. Gitu doang baper. Ntar juga kamu bakalan ngerasa malu dengan alur selanjutnya."
"Emang iya?"
"Iya. Kamu gak baca novelnya apa?"
Gracia tampak berpikir, ia menjentikkan jarinya, dirinya mengambil alih kamera Shani, "oh iya. Aku inget, guys! Nanti bakalan ada scene yang bener-bener memalukan, bahkan bisa di rasakan secara nyata cuy."
"Scene yang gak bisa ngebuka kaitan helm gak sih?" Tanya Shani. Ia menaruh dagunya di bahu Gracia.
Kali ini posisi Shani tepat berada di belakang Gracia, mereka sama-sama berdiri, dengan Gracia yang mengarahkan kamera ke wajahnya, lalu Shani berada di belakangnya sembari menaruh dagunya di bahu Gracia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candramawa
Random[sudah end] Gracia selalu memimpikan seorang perempuan di setiap malamnya, ia hanya mengenal nama perempuan itu berupa Shani. Gracia tak begitu tau seperti apa wajah Shani di mimpinya. Namun, ia mengenali bagaimana perawakan bentuk tubuh Shani. Teta...
