Para prajurit telah pergi dan kini tinggal Aksyatra sendiri di tempat persembunyiannya. Dia pun keluar, menarik diri dari celah batu itu setelah menunggu beberapa menit para prajurit pergi, memastikan tidak ada yang kembali masuk atau tertinggal.
Dengan sedikit usaha dirinya mencoba untuk keluar dari celah itu. "Argh!" ucapnya ketika salah satu kakinya tersangkut, tetapi kemudian berhasil dikeluarkan dengan selamat.
Ketika tubuhnya telah benar-benar bebas, Aksyatra memandangbke sekitar sambil mengelap peluh yang membanjiri wajahnya, terlihat jelas dia nampak lelah sekali, tapi dia harus terus betjaga-jaga.
Bisa dikatakan situasinya kini belum aman. Ia masih dalam kejaran walaupun kini dia telah mendapatkan tempat bersembunyi. Sebab dapat dipastikan saat ini para penjaga pasti sedang berpatroli di dalam hutan dan mencari dirinya.
Di dalam gua yang gelap itu, Aksyatra seorang diri bersandar pada batu besar. Menghabiskan waktu tengah malam hanya dengan duduk merenung menatap langit-langit gua. Tanpa merasa waktu masuk menuju dini hari. Dirinya baru bisa terlelap. Setelah hampir semalaman terjaga tak bisa tidur.
Saat terbangun, dia langsung bangkit dan berjalan mendekat ke arah mulut gua. Dia hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Dia khawatir akan tertangkap lagi.Untungnya keadaan di luar gua cukup aman. Tak ada penjaga atau prajurit kerajaan yang terlihat. Itu cukup membuatnya sedikit lega.
Kini yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu kabar dari Razin. Entah, apakah Razin akan bisa menemukan tempat persembunyiannya ataukah tidak. Yang jelas Aksyatra tidak bisa kemana-mana saat ini.
Masuk malam keduanya di tempat persembunyian. Ia semakin tidak bisa tidur. Mungkin karena di dalam gua terlalu gelap. Akhirnya dia berpikir untuk membuat api unggun. Selain untuk memberi penerangan juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Kebetulan malam itu udara cukup dingin.
Untuk membuat api unggun ia mengumpulkan beberapa ranting kering yang ada tak jauh dari mulut gua. Setelah dikumpulkan dan dibawa masuk ke dalam gua, dia pun menyulut api dengan menggesek bebatuan kecil.
Akhirnya api unggun pun berhasil dibuat. Barulah kemudian Aksyatra duduk di dekat api itu dan menghangatkan badannya. Namun, ada sesuatu yang baru ia sadari.
Ketika cahaya api unggun menyala dan menerangi dinding gua, terlihat sebuah prasasti yang tertulis dengan indah di atas sebuah batu besar tempat Aksyatra bersandar. Aksyatra yang menyadari itu adalah sebuah tulisan berbahasa Samkha langsung bangkit dan mendekat untuk membaca tulisan itu.
Inti dari prasasti itu cukup mengejutkan Aksyatra. Menurut prasasti itu yang menyebutkan adanya perjanjian antara tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Samkha, Kerajaan Tychiza, dan Kerajaan Amantara.
Jujur saja, Aksyatra tak pernah mendengar nama kerajaan yang disebutkan terakhir itu sebelumnya. Ditambah lagi dalam prasasti itu disebutkan bahwa kedua kerajaan lainnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Amantara, di bawah Raja bernama Yasatara.
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. batin Aksyatra.
Sejenak Aksyatra mencoba mengingat-ingat kapan dan di mana ia mendengar nama itu. Setelah beberapa kali mencoba mengingat-ingat akhirnya dia pun teringat.
Saat itu ia baru menjabat menjadi penasihat Kerajaan Samkha menggantikan ayahnya yang meninggal dunia. Karena baru menjabat, dia harus mengurus beberapa surat penting di ruangan ayahnya dan saat itulah dia menemukan surat bernama Yasatara.
Aksyatra tidak sempat membaca surat itu karena dia harus cepat mengembalikannya beserta tumpukan surat-surat penting lainnya ke dalam ruangan arsip kerajaan. Sementara itu, setau Aksyatra ruangan arsip yang lama sudah dirobohkan dan dipindahkan ke ruangan kerja Raja Samkhatra.
Salah satu orang yang dipercaya untuk mengurus pindahnya arsip-arsip kerajaan saat itu adalah Lazzar. Maka dari itu, jika harus bertanya tentang di mana keberadaan surat itu, orang yang paling tepat untuk ditanyai adalah Lazzar.
Saat ini Aksyatra mau saja langsung pergi menemui Lazzar. Tetapi keadaannya sedang sulit untuk pergi-pergi. Mungkin saja Lazzar sudah berada di Negeri Suba, yang artinya jika Aksyatra ingin menemuinya maka dirinya harus melewati perbatasan Negeri Samkha. Sementara itu, perbatasan Negeri Samkha adalah salah satu tempat yang harus ia hindari.
Alhasil, Malam itu Aksyatra hanya bisa menanti hingga Razin menemukannya atau sekedar menunggu waktu kembali aman untuk Aksyatra keluar dari tempat persembunyiannya. Dan ketika pagi pun tiba dan Aksyatra baru menyadari adanya celah berukuran kecil di atas gua, tempat di mana sinar matahari dapat menyelusup masuk.
Aksyatra pun mendekat hingga tepat di bawah celah itu dan seketika wajahnya langsung terkena sinar matahari yang hangat. Matanya menyipit karena silau dan bertepatan ketika awan menutup matahari sesaat dirinya dapat melihat langit yang cerah.
Apa sebaiknya aku keluar saja dari sini dan memastikan apakah di luar sana sudah aman? pikir Aksyatra sambil terus menatap langit dari celah berukuran kecil itu.
Lama ia berpikir memutuskan untuk pergi atau menetap saja di gua itu. Karena jika dia hanya menetap di sana maka mustahil bagi Razin untuk menemukannya. Namun, jika dia keluar dan berkeliaran di hutan maka dikhawatirkan para penjaga akan menemukannya.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang keputusan yang akan dia ambil. Dia pun memutuskan untuk keluar dari gua itu. Dengan berhati-hati sekali dia keluar melewati mulut gua sambil terus memperhatikan sekitarnya.
Lalu, setelah merasa keadaan aman-aman saja Aksyatra pun melanjutkan perjalanannya menuju perbatasan Negeri Tychiza. Dimana Aksyatra menunggu Razin yang kemungkinan masih berada di dalam wilayah Kerajaan Tyichiza.
Sesampainya di dekat perbatasan, Aksyatra yang bergerak dengan hati-hati sekali memutuskan untuk bersembunyi di antara semak belukar. Di sana ia menanti kedatangan Razin dan Puteri Zatyach.
Namun, sayangnya hingga hari kembali gelap lagi pun tak ada tanda-tanda kedatangan Razin dan Puteri Zatyach. Dan karena hari sudah gelap dan dia juga butuh istirahat, akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali ke dalam gua. Beristirahat sejenak dan akan kembali lagi esok hari.
Begitulah terus yang dulakukan olehnya selama beberapa hari berturut-turut. Hingga akhirnya hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Dari dalam semak belukar itu, Aksyatra melihat Sang Puteri yang menunggangi Sera sementara Razin di belakangnya mengiringinya dengan kuda lainnya.
Seketika itu juga Aksyatra yang merasa senang segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menghentikan Razin dan Puteri Zatyach. Melihat Aksyatra yang muncul tiba-tiba sempat membuat Puteri Zatyach terkejut hingga hampir menggunakan pedangnya.
"Tuan Puteri jangan! Dia adalah Aksyatra yang kuceritakan pada mu saat itu!" seru Razin kepada Puteri Zatyach.
"A-apa yang kau lakukan di dalam semak belukar?" tanya Puteri Zatyach seraya menurunkan pedangnya kembali.
"Aku sudah lama menunggu kalian datang!" ungkap Aksyatra cepat lalu tanpa basa-basi langsung ikut naik ke atas Sera, tepat di belakang Puteri Zatyach.
"T-tunggu, apa yang kau lakukan lagi sekarang?" tanya Puteri Zatyach lagi mencoba menghentikan apa yang akan dilakukan Aksyatra seraya menatap ke belakang, ke arah Aksyatra.
"Tuan puteri, kita harus cepat pergi sebelum ada yang menemukan kita!" jelas Aksyatra masuk akal yang kemudian didukung oleh Razin.
Karena tidak bisa menolak Aksyatra dan juga Razin. Akhirnya mau tidak mau Sang Puteri pasrah saja dan menerima situasi itu. Ketiganya pun pergi meninggalkan perbatasan masuk ke dalam hutan.
BERSAMBUNG.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lari Ke Hutan
FantasíaPenyebab kematian Raja Atyich yang simpang siur memicu perselisihan antara dua kerajaan besar. Raja Samkhatra dituduh mengirim mata-mata untuk membunuh. Sementara itu, Aksyatra sebagai penasihat kerajaan pergi ke negeri musuh untuk mencari obat pe...
