9. Kehilangan Sisi Miring.

42 2 0
                                        

Teresa Pov.

Aku menapaki lantai sekolah dengan langkah besar besar. Emosi sudah terkumpul dikepalaku. Mahluk menyebalkan itu! aku akan menggoroknya!

"Selamat pagi, Teresa." rupanya dia masih punya keberanian untuk menghampiriku duluan.

"Minggir, gue mau masuk kelas." Ia malah semakin menghalangi jalanku. Nyari masalah nih?

"Ini masih pagi, gue yakin lo ga mau denger berita kekalahan lo sendiri kan?" Ia mamandangku hina.

"Gue berkali kali lebih kuat dari lo, Teresa. Lo mungkin udah pernah buat gue malu, tapi percayalah lo akan menanggung malu yang lebih besar dari gue."

"Apa buktinya lo bisa lakuin itu?" Reisfas menaikan alisnya.

"Contohnya ya, yang di mading itu. Informasi sesungguhnya tentang Teresa Hardinka. Orang tua lo kerja sebagai tukang bersih bersih dikantor milik ayah Tiffany, sahabat lo sendiri. Dan masih banyak lagi." Ia memangku tangannya di dada. Aku memang sudah terpancing dari sejak melihat mading sekolah tadi. Tapi aku tidak ingin jadi orang bodoh yang masuk perangkapnya.

Wajahku mengendur, emosi yang tadi meluap luap sekarang telah hilang. "Haruskah gue peduli tentang itu? Kalau itu memang kenyataan gimana? Emang penting ya masalah latar belakang keluarga? Lagipula, justru gue bangga sama ortu gue. Mereka bisa nyekolahin gue dengan uang hasil mereka sendiri, ga kaya lo yang disekolahin dari uang yang belom tentu hasil kejujuran." Aku sengaja menabrak bahunya. Sebelum aku memasukki kelas, aku membisikkan sesuatu ditelinganya. "Sekuat apapun lo, Michelle Reisfas, gue ga akan pernah takut sama lo. Meski lo anak presiden sekalipun." Dari sudut mata, aku bisa melihatnya menahan emosi. Dan dia pun pergi.

Aku melempar tas ku ke tempat dudukku. Beberapa anak kelas memperhatikanku, aku yakin sebentar lagi berita aku dan Reisfas yang adu mulut pasti akan tersebar. Masa bodoh dengan itu.

Aku menaruh kepalaku diatas tanganku sebagai bantal. Berharap mata ini dapat terpejam dengan puas karena semalam aku tidak tidur. Suara gelak tawa yang belakangan ini jarang terdengar itu mengusikku, entah kenapa perasaaanku tak enak.

Tiffany.

dia tidak sendiri, seorang gadis berkuncir kuda tengah bercanda ria dengannya. Teman barunya kah? Ah, berfikir apa kau ini Tere!

Tapi Tiffany tidak duduk disebelahku. Ia malah duduk dibangku belakang dengan Kirana. Sebenarnya Tiffany kenapa sih?

Tatapan dan senyum gadis berkuncir kuda itu seperti menyindirku, dia seperti mengejekku. Aku saja tak kenal dengannya. Ya Tuhan, apa dosaku begitu besar hingga mempunyai musuh dimana mana?

"Erika, nanti kekantin bareng ya." Tiffany membuka suara.

"Sip, sekalian aku kenalin sama sahabat deketku." Jadi namanya Erika.

"Oke"

Setelah gadis aneh itu pergi, aku mendekati Tiffany. "Tiff" Ia menengok kearahku. Baguslah.

"Apa?" tanyanya datar.

"Dia siapa?" doh, kenapa malah nanya kek gitu?! otak dodol garut gue balik lagi deh. Perasaan gue sama otak dan aksi ga pernah sejalan.

Tiffany tersenyum miring padaku. Ini tak bagus. "Lo terlalu kepo Teresa Hardinka. Tapi gapapa, biar gue kasih tau lo. Erika adalah temen baru gue, satu satunya orang yang peduli dan bener bener ga ngacangin ataupun ninggalin gue kaya lo sama Tania." Tiffany kembali tersenyum, ia keluar kelas. Oke, ini bener bener bikin gue pusing. Apa coba maksud Tiff? bener bener peduli? ga ngacangin? ga kaya gue sama Tania? Tiffany kena santet apa coba? Tau ah, nanti juga balik biasa lagi dia.

-Pythagoras-

Bel istirahat baru saja berbunyi. Tiffany keluar lebih dahulu. Aku berusaha tidak terlalu ambil pusing, aku melangkah ke kelas Tania. Dari pagi aku tak melihatnya, semoga dia masuk sekolah.

"Tania." panggilku.

"Apa?" tanyanya ketus. Orang orang hari ini kenapa sih?

"Lo marah kenapa?" Tania menghela nafas.

"Susah ah punya temen ga peka kaya lo. Kemaren lo ninggalin gue gitu aja, dan sekarang lo ga ada rasa penyesalan sama sekali? Ckck." Oh, dia marah gara gara hal itu.

"Maaf." Tania menghela nafas. Lagi.

"Iya, iya gue maafin. Yuk, kantin. Beteweh, si Tip Tip mana?"

"Dia kekantin sama yang lain."

"Dia kenapa sih? masih marah? marah kenapa coba?"

"Ga tahu." aku masih ingin menutupi kejadian tadi pagi.

"Eh, Ter. Gue denger denger tadi pagi lo ribut sama si Reis? bener?" Benerkan? baru istirahat pertama udah kesebar.

"Iya. Biasa, dia nyoba ngejatuhin gue tapi ga berhasil."

"Oh"

Langkah kami terhenti begitu mendengar gelak tawa dari meja yang diduduki Tiffany dan yang lainnya. "Tiff? itu Tiff kan, Ter? Kenapa.. kenapa dia.. dia?"

Sepertinya menghadapi Reisfas tidak akan mudah. Aku melihat dengan jelas disana, Tiff dan Erika sedang bercanda dengan Reisfas dan teman temannya. Bencana baru datang, siapkan dirimu Teresa.

"Bagus banget, kita kehilangan satu orang. Sekarang bagaimana kita akan melawan Reisfas?"

"Entahlah Ter, aku takut." suara Tania bergetar.

"Gimana pun, kita harus bisa ngancurin Reisfas." Ngancurin lho ya, bukan ngalahin doang.

"Meski itu berarti kita harus berhadapan sama sahabat kita sendiri, Ter?" Aku menatap mata Tania, ada ketakutan dan rasa kehilangan disana. Keadaannya sama persis saat ayah Tania meninggal.

"Ya, meski kita harus berhadapan dengan sahabat kita sendiri, Tan." Hari ini, Teresa Hardinka berjanji. Selain membahagiakan orang tua, aku akan merebut kembali Tiffany sahabatku dan aku akan membuat Michelle Reisfas hancur.

*

Ckckckck, Trio T diambang pintu kehancuran nih. Kira kira Tere sanggup ga ya ngalahin Reisfas? atau dia malah akan jatuh kedalam jebakkan Reisfas juga? Terus Tania gimana ya? liat nanti deh ya.

Oh, ya selama ini kan aku selalu pake sudut pandangnya kalau ga Trio T ya author sendiri. Kemungkinan nanti bakal nyoba sudut pandang yang lain biar seru. Tapi liat gimana nanti deh ya. *liat nanti mulu mbak, belajar sono! besok ulangan, cyiinn*

Thanks,

Ldaaghr.

PythagorasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang