Blue Butterfly

14 4 2
                                        

Seharian ini aku menjelajahi seisi kereta bersama Tessie. Kereta ini benar benar menarik dan ajaib seperti yang dikatakannya. Ada restauran tanpa koki dan pelayan. Kita hanya perlu memikirkan makanan yang kita inginkan sebelum membuka tudung saji yang sudah tersedia di setiap meja dan seketika apa yang kita inginkan ada di hadapan kita. Mereka menyebutnya Hungry Room.

Ada juga Convenience Store, secara harfiah, toko itu benar benar menyediakan apapun yang kita inginkan. Bahkan tidak ada yang namanya stok kosong. Seperti halnya Sleepy Area, gerbong ini tampak lebih luas dari gerbong normal dan seperti gerbong gerbong lain, tidak ada penjaga di sini. Bahkan kita tidak perlu membayar! Luar biasa bukan? Banyak sekali tempat tempat ajaib di kereta ini, aku sama sekali tidak merasa sedang berada di kereta. Aku seperti sedang liburan di dunia fantasi. Tapi aku tidak terlalu terkejut dengan itu semua, mengingat kereta ini sudah aneh sejak awal.

"Kau pasti akan betah di sini," ucap Tessie sembari berguling malas di atas tempat tidur. Ngomong ngomong aku berada di kamar Tessie yang sekarang sudah menjadi kamarku juga.

Aku mengangkat bahu. "Yah, kurasa aku akan betah, di sini luar biasa."

"Apa kubilang! Banyak sekali hal ajaib di sini, semua yang kita inginkan pasti ada. Kau tidak akan bosan," ucap Tessie bangga.

"Aku penasaran, apakah orang orang yang kita tinggalkan akan sadar kita pergi dengan tiba tiba? Bahkan aku tidak mengepak barang sama sekali," ucapku sembari menerawang memikirkan apartemenku saat terakhir kali kutinggalkan. Cucian kotor di keranjang dekat mesin cuci yang masih belum sempat kucuci, tasku yang masih tergeletak di sofa kamar, piring bekas makan malam yang belum kucuci, novelku yang mungkin masih terbuka di atas sofa dan ... ahhh aku belum mematikan semua lampu.

Tessie tampak terdiam sejenak sebelum berkata dengan ragu. "Aku belum pernah memikirkan hal itu. Aku sudah cukup lama di sini, mungkin karena semuanya terasa seperti mimpi dan sangat menyenangkan. Aku tidak pernah berfikir untuk pulang sama sekali."

"Mungkinkah mereka yang kita tinggalkan mengira kita hilang? Apa mereka akan menelpon polisi?" ucapku sedikit panik. Aku bisa membayangkan Emma berlari panik ke kantor polisi untuk melaporkan kehilanganku, bahkan aku merasa aku bisa mendengar rengekan paniknya. Aku yakin dia tidak akan pernah tidur dan menungguku pulang. Bukannya aku terlalu percaya diri tapi aku benar benar pernah mengalaminya. Suatu hari aku pergi ke rumah orang tuaku tanpa memberitahunya dan saat aku pulang dia duduk di depan apartemenku dengan wajah berantakan.

Aku tersenyum geli saat mengingat kejadian saat itu, seharian itu dia menempel padaku seperti perangko. Takut aku menghilang lagi katanya.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Tessie bingung.

Aku terkekeh. "Tidak ada, hanya memikirkan momen lucu yang pernah kualami."

"Sudahlah aku mau tidur, perkataanmu tadi membuatku berpikir dan pusing," ucap Tessie.

"Maaf," ucapku.

"Tak apa, kau benar benar menyadarkanku. Aku benar benar tidak pernah memikirkan kehidupanku sebelumnya dan hanya merasa senang berada di sini. Rasanya seperti tersadar dari mimpi," ucapnya sembari menyamankan posisi di tempat tidurnya.

"Apakah tidak ada satu orang pun yang membicarakan tentang kehidupan mereka sebelum ke kerata ini?" tanyaku penasaran.

Tessie tampak berfikir sejenak. "Kurasa tidak, mereka yang ada di sini tampaknya sama sepertiku. Merasa senang di sini dan mungkin enggan untuk kembali." Tessie menatapku dengan serius. "Dan mungkin kita tak lagi memikirkan tentang bertemu dengan soulmate."

Aku mengibaskan tanganku tak percaya. "Mana mungkin, itu tujuan awal mereka naik ke kereta ini."

Tessie menarik selimutnya dan mulai terpejam. "Yah kau benar."

Aku membiarkan Tessie tidur dan kembali fokus pada novel yang baru kubeli di Convenience Store. Tidak usah heran, aku sudah bilang kan bahwa toko itu menyediakan apa pun yang kita inginkan? Jangankan Novel, perabot rumah pun ada jika kamu menginginkannya.

Aku terus membaca buku hingga tiba tiba suara keras memenuhi kamar dan bahkan mungkin seluruh kereta. Aku terkejut dan melihat sekitar. Kulihat Tessie masih nyaman dalam tidurnya, apakah dia tidak mendengar suara keras itu? Suaranya seperti dentang jam tua yang berdentang sebanyak jam yang ditunjukkan. Aku mencoba menghitung jumlah dentangannya, dua belas kali. Aku melirik jam di kamar dan benar saja, sekarang sudah pukul 12 malam. Aku terdiam sejenak, kurasa aku tidak mendengar dentang jam sebelumnya.

"Mungkin hanya berdentang saat tengah malam," gumamku.

Aku menutup novel yang tadi kubaca dan beranjak ke tempat tidurku. Aku sudah lelah dan mengantuk. Baru saja aku hendak berbaring tiba tiba terdengar ketukan di jendela kamar yang menunjukkan pohon pohon yang lewat dengan cepat. Rasa takut menjalari tubuhku, mana mungkin ada yang mengetuk jendela kereta yang sedang melaju kan? Pasti bukan manusia! Aku mencoba untuk tidak memperdulikan suara itu dan masuk ke dalam selimut.

Ketukan itu tetap terdengar dan membuat tubuhku menegang siaga, aku tidak bisa tidur. Dengan segenap keberanian, aku pun mencoba mengintip. Betapa terkejutnya aku saat melihat kupu kupu bersayap biru safir yang hinggap di kaca jendela.

"Bagaimana bisa?" gumamku bingung. Kereta ini melaju cepat tidak mungkin kupu kupu itu tidak terbawa angin, bahkan ia tampak tidak bergerak sama sekali seolah olah dia sedang hinggap di bunga bukannya jendela kereta.

Aku terperanjat saat ketukan itu kembali terdengar, apakah kupu kupu itu yang mengetuk? Tidak mungkin! Tapi semua sudah aneh sejak awal, tak ada yang tak mungkin di sini.

Perlahan lahan aku bangkit dan mendekati jendela. "Apa kau yang mengetuk?" tanyaku dan segera aku merasa seperti orang gila karena benar benar tak ada jawaban dari kupu kupu itu.

Aku menghela nafas. Aku benar benar sudah gila, berada di kereta ini membuatku tidak waras. Aku berbalik untuk kembali ke tempat tidur.

Tok Tok Tok

Suara ketukan itu kembali terdengar dan seketika membuatku kesal. Tak ingin mendapat gangguan lagi, aku pun membuka jendela dan membiarkan kupu kupu itu masuk. Aku memperhatikan ke mana perginya kupu kupu itu setelah aku menutup jendela. Kupu kupu itu tampak berputar putar di atasku sebelum hinggap di gagang pintu kamar. Jangan bilang dia minta di bukakan pintu, pikirku kesal.

Aku mendekati pintu kamar dan membukanya, kupu kupu itu hinggap di bahuku sebelum terbang keluar kamar. Aku melongok keluar untuk melihat kemana perginya kupu kupu itu. Dia terbang ke arah gerbong depan, sayapnya yang berwarna biru safir terlihat bercahaya dalam gelap. Entah ada dorongan dari mana, aku mulai berjalan keluar dan mengikuti kupu kupu itu walau otakku menyuruhku kembali ke kamar dan tidur. Cahaya biru kupu kupu itu seakan menarikku, aku terus mengikutinya hingga dia menghilang menembus pintu Gerbong Keberangkatan.

Kenapa tidak dari tadi saja dia menembus begitu, pikirku. Aku kembali terkejut saat kupu kupu itu muncul di hadapanku dan hinggap di bahuku sebentar sebelum kembali terbang menembus pintu. Apa dia memintaku ikut? Aku menatap pintu di hadapanku yang katanya tidak boleh dilewati kecuali oleh mereka yang sudah tiba di tujuan. Aku ragu sejenak, namun rasa penasaran lebih mendominasiku. Aku berdiri mematung saat pintu itu terbuka lebar di hadapanku. Sebenarnya tak ada yang aneh, hanya ada sofa panjang dan meja kecil di sana. Yang membuat terpaku adalah suasana mencekam yang tiba tiba mencengkram saat aku memasuki gerbong itu. Suasana penuh histeria kebahagiaan seolah olah tertinggal di gerbong sebelumnya.

Aku melihat sekeliling sebelum netraku terpaku pada Si Kupu kupu yang tengah bertengger  di gagang pintu di ujung gerbong. Aku tau pintu apa itu, tak ada tempat lain selain ruang kemudi di depan gerbong ini. Aku berjalan mendekat, cahaya kupu kupu itu menarikku dengan sangat kuat. Bahkan saat otakku memberi sinyal peringatan pun tubuhku tak mau mendengarkan dan tetap bergerak. Aku seolah dihipnotis cahaya birunya.

Aku menggenggam gagang pintu itu saat Si kupu kupu terbang dan hinggap di bahuku. Aku menghitung dalam hati sembari bersiap membuka pintu yang terasa dingin di tanganku ini.

Satu ... Dua ... Tiga ...

Klek

***

To be continued

Train at 1:43 AM (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang