Pintu Ruang Kemudi terbuka dengan debuman keras. Belum sempat aku terkejut tiba tiba angin kencang berhembus masuk dan menghempaskan Helen menjauh dari Sean. Aku membungkukkan badanku, merapat dengan lantai saat angin itu berkecamuk di dalam Ruang Kemudi yang tidak terlalu lebar, seperti badai di tengah laut. Aku mencoba membuka mataku untuk melihat keadaan Sean, namun anginnya terlalu kencang hingga aku tidak bisa membuka mataku. Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku hanya bisa mendengar Geraman dan erangan Helen serta beberapa bunyi berdebum seperti pukulan. Setelah beberapa saat angin itu berhembus kencang keluar dari Ruang Kemudi dan semua kembali tenang.
Si Biru, batinku. Saat angin itu berhembus keluarga dan menerpaku tadi, aku dapat mendengar bisikan Si Biru yang tampak lemah. Suaranya serak dan sedikit terbata, tampaknya tenaganya benar benar terkuras.
"Lepaskan ... Melompat keluar ... Sisanya serahkan padaku." Itu yang kudengar dari bisikannya.
Geraman dan erangan Helen masih terdengar meski sayup sayup setelah pintu Ruang Kemudi kembali tertutup. Aku menghela nafas lega saat aura mencekam Helen sedikit berkurang di sini. Aku tidak lagi merasa sesak karena auranya.
Aku menegakkan tubuhku untuk melihat keadaan, Sean. Dia terlihat baik baik saja. Kami duduk berhadapan, namun tak cukup dekat untuk saling mendekap. Ada jarak cukup lebar yang memisahkan kita, kita tak bisa saling mendekat karena rantai yang mengikat tangannya dan kakiku. Aku mencoba mengulurkan tanganku yang bebas, namun aku tak bisa mencapainya. Tanganku terkulai putus asa di atas pangkuanku.
"Crisie." Aku mendongak saat ku dengar suara lembut Sean yang memanggil namaku. Ku tatap matanya yang menatapku lembut.
"Aku sangat ketakutan saat pertama kali di bawa ke sini, kau tau?" ucapnya. Aku dapat melihat sekelebat ketakutan itu di matanya meski bibirnya terus menyunggingkan senyum. Aku tidak berkomentar apa apa dan hanya terus menatapnya.
"Tapi aku tak lagi merasa takut setelah tau kau ada di sini, Soulmate-ku."
Aku tersenyum, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Air mataku perlahan kembali mengalir, aku mulai terisak. Banyak yang ingin kukatakan padanya, tentang perasaanku, pertanyaan pernyataan tentang dirinya dan banyak hal lagi. Tapi aku tidak bisa berkata sepatah katapun dan hanya terus terisak.
"Tolong jangan menangis, aku tidak bisa mengusap air matamu," ucapnya lembut.
Bukannya berhenti, isakan ku malah semakin kuat. Aku benci bagaimana kita duduk sangat dekat namun aku tetap tak bisa memeluknya. "Aku ingin memelukmu," bisikku di sela isak tangis.
"Aku juga, aku sangat ingin memelukmu sejak pertama kali kita bertemu," sahutnya lembut. Ia melirik sekilas ke arah pergelangan tangannya yang masih terikat sebelum kembali menatapku.
Sunyi menyelimuti kita berdua, hanya Isak tangisku yang terdengar. Bahkan suara geraman dan erangan Helen benar benar lenyap saat kita saling menyelam kedalam pandangan masing masing. Aku ingin memeluknya, sangat ingin! rapalku dalam hati.
Aku kembali mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Mungkin hanya halusinasiku, namun aku merasa semakin dekat dengannya. Tanganku seperti bisa meraihnya meski aku tau itu mustahil mengingat rantai yang masih membelenggu kita berdua. Aku masih ragu meski aku dapat merasakan tanganku berhasil menyentuh hangat pipinya. Tangisku kembali pecah saat kurasakan tangannya mendekap pinggangku erat. Aku tidak tau apa yang terjadi. Mungkin aku tertidur dan bermimpi atau yang lainnya, aku tidak peduli! Meski hanya mimpi setidaknya aku bisa merasakan dekapan hangatnya untuk sekali saja.
Aku menyandarkan kepalaku di dadanya saat tanganku mendekap tubuhnya erat. Gelanyar aneh yang menggelitik kembali memenuhi tubuhku saat kurasakan usapan lembut di punggungku.
"Sean ... ." Aku membisikkan namanya di sela Isak tangisku.
Ia sedikit menjauhkan dirinya dan menangkup wajahku. "Kau bisa menangis sepuas mu ... Karena aku bisa menghapus air mata mu sekarang," ucapnya lembut sembari menyapukan ibu jarinya di pipiku.
"Mimpi yang sangat indah," gumamku.
Kekehan halus Sean menyelinap ke dalam pendengaranku, sangat lembut seperti lullaby pengantar tidur. "Bukan mimpi, Crisie."
"Aku harap begitu." Aku terpejam dan menyandarkan kepalaku ke tangan hangatnya yang masih setia bertengger di pipiku.
Aku sedikit tersentak saat dia mencubit pipiku lembut. Aku membuka mataku dan menatapnya yang sedang tersenyum tipis. "Sekarang kamu percaya ini bukan mimpi?"
Aku berkedip bingung, aku masih tidak mengerti. Apa maksudnya? Bukankah ini mimpi? Apa aku sudah terbangun sekarang? Cubitannya terasa sangat nyata, tidak mungkin aku masih bermimpi. Aku melihat ke kakiku dan rantainya sudah hilang, begitu juga yang ada di tangannya. Aku juga masih bisa merasakan hangat tangannya di pipiku.
"Ini bukan mimpi?" tanyaku ragu.
"Bukan," ucapnya sembari kembali menarikku kedalam pelukannya. "Rantainya terlepas begitu saja tanpa aku sadari saat kau mulai bergerak mendekat."
Aku tidak percaya ini, semudah itu? Aku kembali teringat perkataan Si Biru di atap kereta, tentang ikatan kita yang bisa menjadi pedang dan menghancurkan rantainya. Ini kah yang dia maksud? Tapi aku masih tidak mengerti, aku tidak melakukan apa apa. Aku hanya menatap matanya dan mencoba meraih nya karena aku ingin ... keinginan! Aku sangat ingin memeluknya dan perasaan itu membuncah dalam diriku, itu kah yang membuat rantainya terlepas? Entahlah, apa pun itu yang terpenting kita bebas sekarang.
Aku membalas pelukannya tak kalah erat. "Kita harus keluar dari sini."
"Bagaimana?" tanya Sean.
"Si Biru bilang kita harus melompat keluar," jelasku.
"Apakah kita masih akan tetap bersama setelah kita keluar?" tanya Sean.
Aku terdiam, aku tidak memikirkan itu sebelumnya. "Ku harap begitu," gumamku.
Sean kembali membelai pipiku dan membuatku menatapnya. "Aku akan langsung mencari mu jika seandainya kita terpisah setelah keluar dari kereta ini."
Aku tersenyum. "Kau harus menemukan ku dengan cepat."
Dia terkekeh sebelum menggandeng tanganku dengan erat. "Aku janji," ucapnya tegas.
Aku membalas genggaman tangannya tak kalah erat dan mulai berjalan ke pintu yang ada di sisi kanan Ruang Kemudi. Saat pintu itu terbuka, angin kencang langsung menerpa kita berdua. Genggaman tangan kita makin erat saat kita bertatapan. Aku mulai meragu, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Aku takut kita tidak akan bisa bertemu lagi. Setetes air mata kembali mengalir di pipiku saat Sean mengangguk, meyakinkanku untuk melompat bersamanya. Ia menyadarinya dan mendekat. Ia menghapus air mataku sebelum mendekap ku dengan erat.
"Akan ku tepati janjiku, Crisie."
Bisikannya menyapu lembut telingaku sebelum ku rasakan tubuhku jatuh. Ia melompat keluar dari kereta dengan aku yang masih berada di dalam pelukannya. Tidak ada benturan atau apa pun, aku merasa melayang dan pelukan hangatnya pun masih menyelimuti tubuhku. Tiba tiba aku merasa terhempas ke bawah dengan kencang, rasanya seperti jatuh dari ketinggian. Tapi aku tidak merasa takut sama sekali. Lengan Sean yang melingkar posesif di pinggang ku menyalurkan rasa aman. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya sembari terus memejamkan mata.
"Ku pegang janji mu."
***
End
.
.
.
Akhirnya setelah beberapa purnama berlalu- eaaa😂
Oke, akhirnya aku bisa nyelesaiin cerita lagi, horaaay🥳
Kali ini gak terlalu banyak romancenya kaya biasa lebih fokus ke fantasi nya. Tapi semoga kalian suka baca ceritanya
Jangan lupa vote dan komen ya guys, kirim Krisan juga boleh
Lop you readers kuuu
KAMU SEDANG MEMBACA
Train at 1:43 AM (End)
FantasiKau ingin bertemu soulmate mu? Cobalah pergi ke stasiun terdekat, tunggu hingga jam 1:43 dini hari Jika kau beruntung kau akan melihat kereta itu Kereta yang terlihat normal, namun jauh dari kata normal Kereta yang akan membawamu menuju tempat di ma...
