𝙃𝙖𝙥𝙥𝙮 𝙍𝙚𝙖𝙙𝙞𝙣𝙜 🏃♀️
(⚠ Typo bertebaran!)
Lisa Belvania Damaya, gadis berkacamata dengan bintik-bintik di wajahnya terlihat melangkah menjauhi sebuah kafe tempat Ia bekerja.
Umur gadis itu baru menginjak 20 tahun, dirinya memilih bekerja sebagai waiters di sebuah kafe milik sebuah keluarga yang terkenal akan bisnisnya yang ada di mana-mana.
Keluarga Aryandra Herliando Bastiar, pengusaha sukses dan memiliki banyak cabang usaha yang menaungi para orang-orang cerdas untuk bekerja.
"Bersyukur hari ini bisa pulang cepat, bisa gila gue kalo denger pelanggan sialan itu ngomel-ngomel ga jelas!"
"Kopinya kurang inilah, itulah. Mana mentang-mentang gayanya kaya ibu-ibu sosialita yang bisa seenaknya ngecap buruk nama orang, dia pikir gue gabisa lawan," Lisa terus mengomel disepanjang jalan trotoar. "Lisa nih bos!"
Ia terus merutuki sikap pelanggan tadi hingga orang-orang yang makan ditempat angkringan sisi jalan menatapnya aneh namun mereka kembali acuh pada kegiatannya.
Tiba-tiba mobil mewah berwarna kuning tai melaju cepat di sisinya, Lisa membulatkan kedua matanya ketika mobil tersebut menerjang genangan air disisi jalan hingga menciprati kaos putihnya dan meninggalkan noda yang amat jelas.
"Woy!!! Anjing lo ya!!! Sial banget sih gue hari ini!!! Gue sumpahin lo mati kecebur got diperempatan!" Lisa berdecak lalu menghentak-hentakan kakinya pada aspal yang tidak bersalah.
"Emang ya, semua orang kaya itu belagu!"
Setelah sampai di halte Lisa sedikit lega karena dengan berbarengan pula buss yang akan ditumpanginya telah tiba dan sebentar lagi akan berangkat.
Bruk...
Ia menabrak tubuh kecil seseorang yang juga baru sampai didepan pintu buss, alhasil gadis itu langsung terduduk dibahu jalan.
"Lain kali jalan tuh sambil lihat! Sini gue bantu," Lisa mengulurkan tangannya.
"Maaf, gue lagi buru-buru. Sekali lagi maaf."
Gadis itu bergegas masuk kedalam mobil dan membiarkan tangan Lisa yang terulur tadi.
"Sabar Sa, orang sabar rezekinya lancar. Aamiin..."
Lisa mengusap Dadanya kemudian ikut masuk sebelum pak supir menceramahi nya lagi seperti biasa.
Lisa mencari-cari tempat duduk namun pandangannya berpusat pada satu sosok yang dengan kurang ajar mengabaikan uluran tangan mulusnya yang hanya terciprat air kobangan.
"Duduk disana ajalah daripada berdiri yang ada gue jadi keneknya," Lisa berjalan dan duduk disebelah gadis yang tengah serius membaca Novel di tangannya. "Lo introvert ya? Atau jangan-jangan lo wibu?"
Perempuan itu melirik Lisa yang mana malah membuat gadis itu gagu sendiri, Lisa mengusap hidungnya kaku.
"Y-ya jangan tersinggung, ba-nyak ko temen gue yang sama-sama Wibu, mereka juga lakuin hal yang sama kaya lo jadi gue nyimpulin nya juga gitu ke lo. Sorry aja."
Mengalihkan perhatian, Lisa menatap jalanan dari jendela karena ia duduk didekat kaca mobil sementara perempuan itu hanya menggeleng kan kepala pelan sebelum lanjut pada kegiatannya.
Dering bunyi ponsel Lisa terdengar, gadis itu mengambilnya dari tas selempang dan melihat nama sang pe nelpon dengan wajah datar.
"Halo-"
"Lisa pulang sekarang dan tentukan kamu mau ikut Mamah atau Papah kamu!" suara sarkas Mamahnya memotong.
Belum sempat Lisa menjawab kegaduhan kembali terdengar disebrang sana
"Hahh! Rasanya Mamah tidak ingin berlama-lama serumah dengan pria gila itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Antagonis
Teen Fiction🄹🄰🄽🄶🄰🄽 🄻🅄🄿🄰 🄵🄾🄻🄻🄾🅆 🅃🄴🅁🄻🄴🄱🄸🄷 🄳🄰🄷🅄🄻🅄!!! ___________ 𝘉𝘭𝘶𝘳𝘣... Lisa tak pernah menyangka jika ucapan spontan yang diucapkannya kala dikuasai amarah dikabulkan oleh Tuhan. Perceraian antar kedua orang tuanya dikarena...
