𝙃𝙖𝙥𝙥𝙮 𝙍𝙚𝙖𝙙𝙞𝙣𝙜 🏃♀️
(⚠ Typo bertebaran!)
Deruman motor dari kedua pemuda yang sudah siap di garis start dengan motor mereka menjadi pemandangan yang sudah biasa mengisi keheningan malam ini, Bahkan banyak penonton yang berdiri di sisi jalan menjaga jarak.
Gentra, pria dengan jaket kulit hitam berlambang kan seekor seriga dengan kalimat penambah Rodolfo yang menjadi ciri khas dirinya dan anggota lain yang saat ini tengah bersorak menyemangati Gentra.
Brumm!!!
Derum motor dari lawan sebelahnya membuat Gentra menatap tajam pria itu lewat helm, tak kalah Gentra melakukan hal serupa hingga asap dan gesekan kuat dari ban pada aspal menimbulkan percikan api.
Lawan disebelahnya tersenyum mengejek, meski tertutup helm tapi Gentra tau persis ekspresi itu, ekspresi yang meremehkan dirinya.
Tiba saat seorang perempuan seksi dengan kaki jenjangnya melangkah ke tengah-tengah jalan didepan mereka dengan membawa sebuah bendera kecil, Gentra menggeram emosi saat lawannya memberikan hinaan dengan menunjuk dirinya lalu membalikan jempol kebawah.
"Sialan," desisnya semakin menajamkan mata.
Grid girl didepan sana tersenyum berjalan berlenggak-lenggok memamerkan body nya yang mana mendapatkan banyak siulan.
One!
Two!
Tree!!!
Brruuummm!!!
Tepat setelah bendera melayang di atas motor keduanya melesat secepat kilat diatas aspal, saling mengejar tanpa memberikan celah sedikitpun.
"Lo bisa jamin tu orang gak bakal lakuin hal licik kan?" tanya Reygan menatap kedua motor yang sudah jauh itu dengan tangan terlipat di dada.
"Gak, soalnya ada peraturan baru. Tapi ya... Gue gak tau mungkin aja mereka bakal main curang disini, ditambah hadiahnya gak main-main karena jalur yang dilewati cukup panjang," jelas Lino menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Berapa taruhan yang mereka kasih?" tanya Michael tanpa ekspresi.
"Lima ratus juta," mereka sedikit terkejut melihat angka nominal yang dikeluarkan. "Gue jadi makin penasaran siapa orang yang ngusulin hadiahnya segede itu buat balapan biasa kaya gini."
"Ketua mereka mungkin, eh. Pulang nanti nongkrong dulu di warung bu Wati gimana? Gue denger ada menu baru, pecel lele tambah sambel ijonya apalagi dikasih bonus nasi gratis! Beuh Anjirlah! Bayanginnya aja gue udah ngiler!" usul Reygan mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi.
Lino mengangguk setuju.
"Nah! Setuju tuh gue! Duit lima ratus juta gabakal abis dipake makan lima kali di warung Bu Wati! Sabi kali kita borong semuanya!" Lino merangkul bahu keduanya dengan senyuman lebar. "Eh? Si Bram mana?"
Michael menunjuk dengan dagunya ke arah Bram yang tengah menggoda salah satu perempuan disana.
"Si anjir malah cari tambahan!" decak Lino menggeleng tak percaya, ia segera berjalan ke arah mereka.
Sementara itu di tempat Bram, pria tersebut menarik kursi didekat seorang gadis dengan setelan jaket hitam dan rambut terurai yang sepertinya tengah sibuk mengetik di ponselnya.
"Hallo cantik, sendirian aja nih? Gue temenin mau?" goda Bram memutar kepalanya ke arah perempuan tersebut yang terdiam melirik nya sinis. "Sma mana sih yang ngehasilin mahluk secantik lo? Gue rela pindah ke sana asal bisa natap wajah lo kaya gini."
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Antagonis
Teen Fiction🄹🄰🄽🄶🄰🄽 🄻🅄🄿🄰 🄵🄾🄻🄻🄾🅆 🅃🄴🅁🄻🄴🄱🄸🄷 🄳🄰🄷🅄🄻🅄!!! ___________ 𝘉𝘭𝘶𝘳𝘣... Lisa tak pernah menyangka jika ucapan spontan yang diucapkannya kala dikuasai amarah dikabulkan oleh Tuhan. Perceraian antar kedua orang tuanya dikarena...
