🔞MINE🔞

18.3K 739 19
                                        

Tidak tahu siapa yang memulai pada mulanya. Kana sudah terduduk di atas toilet dengan seragam setengah terbuka. Di depannya Adam sedang terburu-buru melepaskan gesper yang mengikat celana.

Kana masih terengah. Napasnya putus-putus. Tapi, gairah itu tak bisa ditahannya lagi.

Adam menarik kembali wajah Kana. Setelah berhasil melepaskan benda yang mengganggunya itu, ia segera mengambil miliknya kembali. Melakukan kegiatan yang sempat tertunda.

Ia memagut bibir Kana, memberikan gigitan lembut pada gumpalan daging manis itu. Memaksakan lidahnya berputar, melilit, dan menyesap cairan manis di dalamnya.

Kana membalas dengan penuh gairah. Seolah keduanya sedang terlibat perlombaan untuk saling menyenangkan. Dan Kana tidak mau kalah.

Perlahan tangan Adam tak lagi diam. Mulai bergerak menelusuri tengkuk hingga dada Kana. Menetapkan jejak tangan tak kasatmata pada setiap inci tubuh Kana. Memberikan efek gelenyar lembut yang membuat bibir Kana mendesah.

"Dam, nanti kalau ketahuan gimana?" tanya Kana di tengah-tengah erangan yang tertahan.

Adam mendesis. "Ssttt.., kalo lo gak kenceng-kenceng pasti gak kedengeran kok. Toilet ini jarang dipakai siswa lain. Kita pasti aman."

Sebenarnya ucapan Adam tidaklah dapat begitu terbukti. Sebab ia mengucapkannya demi memberikan rasa ketenangan pada Kana. Kenyataannya Adam bahkan tidak tahu apakah memang toilet itu jarang digunakan atau tidak. Ia mengajak Kana ke sana karena tempat itu adalah yang paling dekat ketika nafsunya sudah di ujung kepala.

Kana masih berusaha menahan desahan yang hendak keluar dari bibirnya tatkala Adam mulai memainkan sesuatu di dadanya. Kana tidak tahu kenapa sesuatu yang kecil itu begitu merespon ketika Adam memberikan tarikan-tarikan kecil di sana.

"Adam..," keluh Kana merasa mulai tak nyaman.

Namun, Adam sudah tidak bisa menahan diri. Ia sudah dikuasai nafsu, hingga apapun yang Kana katakan akan diterjemahkannya sebagai sebuah kenikmatan.

"Iya, sayang. Aku juga uda gak tahan, kok."

Perlahan tangan Adam berganti. Kana sempat bingung sebab tak ada lagi sentuhan Adam di tubuhnya. Ia pikir mereka sudah selesai dengan semua ini. Meski, terbesit sedikit rasa kecewa di benaknya. Mengingat Kana juga sudah terlanjur tegang.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru tidak terduga. Kana sampai membulatkan kedua bola matanya. Lalu, mendadak menutup kedua pengelihatannya itu karena sesuatu yang dilakukan Adam.

"Lo ngapain anjir!!" umpat Kana melihat Adam membuka celana dan mengeluarkan sebutlah "junior" nya yang sudah tegang.

Adam terkekeh. Bukan merasa menyesal cowok itu malah melihat Kana sambil cengengesan.

"Gue cuma pengen pelepasan. Lo mau juga, kan?"

Kana masih terdiam. Kedua matanya ditutup dengan telapak tangan.

Adam berusaha melepas tangan Kana yang menghalangi cowok itu untuk memandangnya.

"Kana..., gue pengen lo bantuin gue. Please, sayang bantuin gue ya. Lo juga uda tegang kan? Lo mau kita balik ke kelas dalam keadaan begini?"

Setelah diam beberapa saat, perlahan Kana menyingkirkan tangannya. Ia melihat Adam dan "junior" nya itu dengan raut takut dan malu.

Adam menarik tangan Kana menuntunnya perlahan menyentuh kepunyaannya.

Kana mendelik.

"Please, gue juga bakal bantuin lo kok."

Pada mulanya terasa aneh. Tangan Kana merasa panas, basah, dan begitu tak nyaman. Namun, dengan gerakan yang Adam lakukan Kana mulai terbiasa.

Setelah Kana mulai mau menggerakan tangannya sendiri tanpa bantuan Adam. Cowok itu mulai melakukan aktivitas lainnya. Ia meraba bagian bawah Kana, dan menemukan bahwa Kana juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.

Seringai muncul di bibir Adam. Dengan sigap ia lepas kaitan celana Kana, lalu mengeluarkan kepunyaan Kana dan melakukan hal yang sama seperti yang Kana sedang lakukan.

Detik demi detik berlalu. Erangan demi erangan terlontar dari bibir Kana dan Adam. Keringat keduanya bercucuran. Semakin cepat gerakan Adam, maka Kana akan bergerak dengan ritme yang sama.

Keduanya sama-sama memejamkan mata, merasakan kenikmatan yang menjalar dari ujung kepala hingga kaki. Hingga tiba saat hentakan terakhir keduanya melenguh bersamaan. Cairan lengket membasahi tangan keduanya.

Adam dan Kana masih terengah-engah berusaha mengatur napas dan pikiran mereka yang seakan sedang dipenuh api membara.

Ketika keadaan mulai tenang, keduanya mulai berbenah diri. Dilapnya sisa-sisa perbuatan mereka dengan tissue toilet. Tak lupa dirapikan kembali pula seragam yang masih melekat di tubuh keduanya. Hingga dirasa semua sudah kembali seperti semula, Adam dan Kana pun keluar dari kamar toilet itu. Kemudian mereka membasuh tangan dan wajah masing-masing dengan air bersih.

Keduanya tampak puas, seakan beban dalam diri mereka terangkat. Adam dan Kana baru akan keluar dari toilet itu hingga tiba-tiba pintu toilet terbuka. Segerombolan cowok yang sepertinya baru selesai olahraga masuk ke dalam sana. Mereka tak memberikan pandangan aneh ketika berjumpa Adam dan Kana di dalam. Namun, melihat cowok-cowok itu Kana langsung mendelik pada Adam.

Adam hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Gue pikir gak bakal ada yang ke sini."

"Lo bohongin gue kan?!" tuduh Kana marah.

Adam menyentuh rambut Kana, berusaha menenangkan pacarnya. "Enggak, Kana. Gue bener-bener nggak tahu."

Meski begitu Kana tetap merasa kesal.

"Mulai hari ini lo dihukum! Jangan deketin gue lagi!"

Mendengar titah Kana, Adam langsung merajuk. "Yah, kok gitu."

"Bodo amat jangan sentuh gue mulai sekarang!"

Kana langsung pergi meninggalkan Adam yang masih merajuk di tempatnya. Sementara Kana mengambil langkah panjang, Adam langsung berusaha mengejar Kana. Ia tak bisa menerima hukuman untuk tak menyentuh pacarnya.

***

AdamKanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang