Kana terus bertanya pada dirinya sendiri? Apa yang salah? Tapi dia tak menemukan jawaban. Mungkin jika sejak awal dia tak menyukai Salma, semua ini tidak akan mungkin terjadi. Atau lebih sederhana jika saja Kana merelakan cinta pertamanya, dia tak akan bertemu dengan Adam.
Namun, semua sudah terlambat. Kata orang, nasi sudah jadi bubur. Sayangnya bubur ini tak hanya menimbulkan kontroversi, tapi penolakan.
Kana menyadari bahwa perasaanya pada Adam adalah nyata. Kana tahu bahwa kini dia tak memandang Adam hanya sekadar cowok tampan yang pandai olahraga dan bela diri. Populer dan keren.
Lebih dari itu Kana bahkan mengingat kalau Adam punya alis tebal dan bibir berwarna kemerahan. Kulit tubuh yang tak begitu putih, tapi tampak bersih terawat. Bentuk rahang yang tegas, tapi menawan. Otot tubuh yang tak terlalu kekar, tapi pas. Kana mengingat setiap inci diri Adam.
Dan itu salah, pikirnya.
Sudah dua hari Kana tidak masuk sekolah. Kedua orang tuanya tak bertanya, sebab Kana mengaku sakit. Tapi, itu cuma alasan karena yang sebenarnya Kana ingin menghindari Adam.
Kana tahu masa hukuman Adam sudah selesai. Kana takut jika bertemu dengan Adam di sekolah, maka perasaannya bisa semakin tumbuh.
Deretan buku yang berjajar di atas meja pun tak menarik Kana sama sekali. Padahal biasanya kalau sedang stres, Kana akan melampiaskannya untuk membaca buku.
Kana terus saja melamun, sesekali menggosok rambutnya kesal. Kenapa bayangan Adam tak mau sirna dari pikirannya?
Di tengah kerisauan, bunyi dering ponsel miliknya mengejutkan Kana. Kana mengambil benda itu. Tampak panggilan dari Gema sedang meraung-raung.
Kana mengangkat telepon dari Gema.
"Lo kenapa mendadak sakit sih, Kan? Lo nggak tiba-tiba kena tipes, kan? Apa jangan-jangan lo habis keracunan?" Gema memberondong Kana dengan banyak pertanyaan.
"Gue lagi nggak enak badan aja," jawab Kana lemas.
"Lo sakit apa? Kemarin masih oke aja, tuh. Nggak biasanya cowok modelan kayak lo bisa sakit begini."
"Sialan lo! Udalah capek gue dengerin lo."
Kana baru saja akan menutup panggilan dari Gema. Tapi, Gema berteriak menghentikannya.
"Gue punya berita buat lo, bego!! Jangan ditutup atau lo bakal nyesel!"
Kana mendesah. Gema makin membuat kepalanya pusing.
"Berita apaan?"
Gema menggumam pelan, membuat Kana menaikkan nada bicara.
"Lo ngomong apa sih anj***!"
"Salma sama Adam jadian."
Untuk sesaat Kana terdiam. Mencoba mempelajari apa yang baru saja Gema katakan. Bagai petir menyambar di siang bolong. Kana tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ha? Maksud lo?"
Di seberang telepon sana Gema berdecak. "Salma jadian sama Adam hari ini."
"Tapi, lo tahu dari mana?"
"Hari ini satu sekolah heboh karena Salma nembak Adam di lapangan basket. Dan Adam nerima. So, sekarang mereka jadian."
Kana masih terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Saat ini perasaannya terombang-ambing. Dia sedih. Itu tentu saja. Tapi, apakah dia sedih karena Salma atau karena Adam. Kana bingung.
"Gue tahu ini pasti berita buruk buat lo, Kan. Tapi, lo nggak perlu sedih bro. Masih banyak ikan di lautan, cewek kayak Salma itu ada seribu. Lo pasti bisa dapetin yang kayak dia," ujar Gema memberi dukungan.
Sayangnya, kali ini bukan dukungan yang Kana mau. Tapi, jawaban. Jawaban atas pertanyaan yang terus menggerus hatinya.
"Gue tutup telponnya, thanks uda kasih tau gue berita ini," ucap Kana seraya menutup telepon Gema.
Setelah menutup panggilan telepon dari Gema, tangan Kana terkulai lemas. Ponsel yang tadi dipegang jatuh ke meja. Sekali lagi terdengar helaan kasar dari bibirnya.
Kana beranjak. Tubuhnya mondar-mandir seperti mencari jalan keluar. Matanya terpejam, lalu dia meninju udara di depan.
"Sial! Kenapa sih gue begini?! Kenapa gue nggak suka denger kabar Adam pacaran sama Salma? Gue emang harusnya sedih. Tapi gue harusnya nangisin Salma bukan Adam!"
Kana berteriak. Melampiaskan amarah di dalam dirinya.
Suaranya yang cukup kencang sampai terdengar dari bawah. Tak ayal mamanya pun datang mengetuk pintu kamar Kana.
"Kana, kamu kenapa?"
Kana terperanjat. Dia takut kalau mamanya mendengar apa yang baru saja dia katakan.
"Nggak, ma Kana cuma lagi nyanyi," jawab Kana asal.
"Kamu itu ada-ada aja. Jangan teriak-teriak lagi," omel mama Kana.
"Iya, ma."
Usai memastikan mamanya sudah pergi, Kana kembali duduk di atas kasur. Dia memandangi ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia ingin menghubungi seseorang, tapi tak punya nomornya.
Kana ingin berbicara dengan orang itu. Kana ingin bertanya. Tapi, apa yang akan dia katakan. Apa yang akan dia tanyakan. Kana tidak tahu.
Di tengah pikirannya yang kalut, tanpa mempertimbangkan apapun Kana pun memutuskan untuk pergi. Dia mengambil kunci motor yang ada di laci, lalu menyabet jaket yang tergantung di belakang pintu.
Saat turun dari lantai kamarnya, Kana berjumpa papa dan mamanya yang sedang menikmati tontonan di televisi.
Papa dan mama Kana menatap bingung ke arah putra mereka. Kana tidak biasanya keluar di malam hari. Apalagi Kana mengaku sakit dua hari ini.
"Kamu mau ke mana, Kan?" tanya papa Kana khawatir.
"Mau beli sesuatu, Pa," jawab Kana sekenanya.
"Uda malem gini."
"Uhm, iya ma ini penting banget buat besok di sekolah. Kana lupa siapin."
"Yaudah kalo gitu hati-hati dan langsung pulang," titah papa Kana.
"Siap, Pa!"
Setelah mendapat ijin dari orang tuanya, Kana segera memakai sepatu dan bersiap pergi. Sebelum Kana sempat keluar pintu. Papanya memanggil lagi.
"Kana, jangan lupa pager ditutup."
Kana berteriak dari luar. "Oke, Pa."
Kana tampak buru-buru. Dia segera menaiki motor yang terparkir di garasi, memasang kunci pada lubang, dan menancap gas untuk pergi.
Motor melaju menyusuri jalanan malam yang mulai sepi. Angin dingin menerbangkan rambut Kana yang tak tertutup pelindung. Sementara jaketnya yang tak sempat dikancing pun berkibar.
Di bawah langit malam yang redup Kana berkendara tak tahu arah. Dia bingung. Pikirannya membuncah. Hatinya terasa sesak.
Satu-satunya yang ada otak Kana saat ini adalah bagaimana bisa laki-laki seperti dirinya menyukai laki-laki? Kana merasa salah tapi juga tak salah. Kana merasa bingung dan putus asa.
Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut mata Kana. Rintihan pelan terdengar dari bibirnya yang berusaha ditutup rapat. Kana terisak, tercekat.
"Kenapa gue harus punya perasaan menjijikan ini sama cowok? Sialan lo Adam! Gue benci sama lo Adam! Gue benci banget sama lo!"
***
A/N
Gaess.., gue mau tanya dong, sejauh ini menurut kalian alur cerita ini Oke gak sih?
Jujur gue bikin ini asal aja 😭
Gue takut alurnya agak ambigu, tapi semoga enggak ya wkwk :p
KAMU SEDANG MEMBACA
AdamKana
Romance"Gue benci sama lo, Adam! Gue sumpahin lo gak akan pernah punya pacar! jadi jomblo karatan! gak bisa nikah! gak bakal ada cewek suka sama lo!" "Sekarang gue gak akan pernah bisa punya pacar karena gue sukanya sama, Lo! Jadi lo harus tanggung jawab!"...
