Seungcheol mengajak Jeonghan makan siang bersama di restoran dekat bandara karena jadwal keduanya sama-sama dimulai pukul tiga sore dan akan berakhir pukul dua belas malam. Itu berarti mereka masih punya waktu tiga jam untuk berbincang-bincang.
Seungcheol memakai seragam biru gelap dan juga rompi berwarna hitam bertuliskan customs yang melekat sempurna di tubuh indahnya. Di kaitan ikat pinggang terdapat handy talky yang terhubung ke telinga, dan ketika Jeonghan bertanya kenapa dia memakai handy talky sementara dia tidak dapat tersambung dengan rekan-rekannya dengan jarak sejauh ini dari mereka, Seungcheol menjawab dengan kata-kata paling brengsek yang pernah Jeonghan dengar terucap dari mulutnya, "karena ini serasi dengan seragamku. Aku terlihat semakin keren dengan ini..."
"Bajingan berkepala besar!" Seungcheol tertawa, memberikan respon ambigu dengan kalimat "aku memang memiliki kepala besar. Kau sudah pernah melihatnya, kan?"
Yeah, benar. Dia benar-benar kepala besar! Baik kepalanya, atau kepalanya.
Mereka kembali menyantap makan siang dalam diam dan keinginan Jeomghan untuk mengorek banyak informasi dari Choi Seungcheol tidak bisa ia bendung lagi.
"Kudengar kau pernah berkencan dengan seorang dokter." Seungcheol mengangkat wajah dari wadah foil berisi lasagna extra tomat miliknya, dia menatap Jeonghan dengan kening berkerut.
"Kau mengenalnya?"
Jeonghan mengangkat kedua bahu dan menelan makan siangnya perlahan. Ia menyeka sudut bibir lebih dulu sebelum menjawab "temanku yang memberitahu."
Kerutan di kening Seungcheol semakin dalam sementara kedua matanya sedikit menyipit tak suka. "Kau membicarakanku dengan temanmu?"
Jeonghan kembali mengangkat bahu dan mengucapkan bahwa temannya---yang sialnya teman-temannya, mendengar percakapannya dengan Seungcheol melalui telpon beberapa hari lalu dan ia mengatakan dengan jujur apa yang Seungkwan dengan Seokmin bicarakan. Kecuali di bagian bokong indah dan kalimat kurangajar lainnya.
"Percayalah, mereka orang yang menyenangkan. Dan mereka bisa menjaga mulut mereka."
Kerutan di kening Seungcheol masih nampak tapi ia mengangguk dan memutuskan untuk kembali menghabiskan makan siangnya.
"Apa kau punya waktu senggang besok?"
Jeonghan mengingat-ingat jadwalnya lalu mengangguk. "Aku bekerja lima jam besok."
Dia tersenyum miring. "Kau mau ikut denganku?"
"Kemana?" Suaranya terdengar antusias dan ia menyesal. Ia tidak ingin Seungcheol mengira bahwa ia senang bersamanya.
"Ke suatu tempat. Errr... tempat yang biasa saja sebenarnya. Tapi tidak juga. Yah, lebih baik kau lihat langsung sendiri besok."
"Apa kau baru saja mengajakku kencan---lagi?"
Seungcheol mengerjapkan kedua mata beberapa kali. "Apa itu mengganggu pikiranmu?"
"Ya. Tidak." Seungcheol menatapnya bingung.
"Aku mau berkencan denganmu."
"Oh!" Hanya itu respon Jeonghan dan Seungcheol kembali mengerutkan kening.
"Apa kau tidak mau berkencan denganku?"
"Hemm..." Jeonghan menggoyang-goyangkan tubuhnya dan merasa seperti seorang brengsek. Mereka sudah melucuti pakaian masing-masing, dan ketika Seungcheol mengajaknya berkencan, Jeonghan justru menolak.
"Apa kau tidak senang berkencan denganku? Atau kau tidak senang karena aku menyebutnya sebagai kencan?"
Jeonghan diselamatkan oleh deringan ponselnya yang cukup keras hingga membuat Seungcheol harus menutup lubang telinga. Johnny menghubunginya, dan lagi-lagi dia terasa bagai ibu peri.
KAMU SEDANG MEMBACA
WORLD | JEONGCHEOL COUPHAN
FanfictionDisclaimer : © BG Seventeen, Pledis Ent. Hybe Ent Written and published : Adoringharuno Rate : M (for some reasons) Pair : Yoon Jeonghan x Choi Seungcheol Language : Indonesian 🔞 NSFW, bxb, Mpreg di bagian akhir. (Silahkan mundur jika dirasa tidak...
