12. Doctor Doyoon

574 34 0
                                        

Tidak ada yang terjadi selama enam hari berikutnya. Jeonghan belum bertemu dengan Seungcheol lagi karena jadwalnya sedang menggila dan Seungcheol selalu memborbardir dengan pesan berantai seperti 'sedang apa', 'apa aku mengganggumu', 'apa yang kau lakukan padaku sampai seperti ini', dan masih banyak pesan bernada merajuk yang lain.

Jeonghan bertanya pada Seungkwan apa dia tahu dimana dokter kandungan di West Coast dan Seungkwan menjawab, "ada banyak dokter kandungan di West Coast, Hyung. Aku tidak mau membuang waktuku dengan memberi informasi itu selama kau bisa menemukannya secara gratis di internet."

Jeonghan memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan dengan ulasan positif terbanyak di internet dengan nama keluarga Jang, karena ia yakin pengaman yang sudah ia beli akan terbuang percuma. Ia yakin Seungcheol lebih memilih keluar di perut atau punggungnya.

Seorang resepsionis menyambutnya ramah saat Jeonghan mengunjungi tempat praktek dr. Jang, bertanya apakah ia sudah membuat janji dan Jeonghan mendesah menggeleng merasa bersalah. Resepsionis tersenyum dan mengangguk penuh pengertian. Mungkin dia bisa melihat dengan jelas frustasi seksual yang ada di wajah Jeonghan. Resepsionis meminta Jeonghan duduk di salah satu sofa di ruang tunggu. Ruang tunggu di tempat praktek dr. Jang sangat harum, perpaduan antara lilac dan lavender. Wangi yang menyenangkan. Seorang wanita yang mengenalkan dirinya sebagai asisten dr. Jang masuk membawakan Jeonghan snickers bar dan juga secangkir teh hijau yang manisnya pas di lidah.

Suara sepatu beradu dengan lantai menarik perhatian Jeonghan. Pintu digeser dari luar menampilkan sosok dokter kandungan paling tampan, indah, bersih dan wangi yang pernah ia jumpai. Dokter itu berambut setengkuk berwarna kecokelatan, kedua irisnya berwarna cokelat madu---seperti iris Jeonghan. Tubuhnya semampai, proporsional. Dan Jeonghan bersumpah, itu pinggang terindah yang pernah ia lihat dimiliki oleh seorang pria.

"Halo, selamat sore. Apa aku membuatmu menunggu?" Dr. Jang memasuki ruangan dengan langkah pelan.

Jeonghan membalas sapaannya dengan senyuman ramah dan dr. Jang meminta Jeonghan untuk mengikutinya ke ruangan dokter. Dr. Jang duduk di kursinya lalu mempersilahkan Jeonghan untuk duduk di hadapannya.

Dr. Jang membuka lembaran data pasien yang ia bawa, membuka catatan data pribadi Jeonghan yang telah ditulis oleh asistennya ketika datang memberikan teh.

"Jadi, Mr. Yoon, apa kau kesini untuk melakukan pengecekan atau memasang alat kontrasepsi? Atau mungkin mengecek masa heatmu?"

Jeonghan mengangguk menjawab "keduanya." Dr. Jang tersenyum, mengangguk, dan pena mahal yang terapit di kedua jarinya menari diatas data-data pribadi Jeonghan.

"Apa kau pernah memasang kontrasepsi dalam bentuk apapun sebelumnya?"

"Ya. Aku meminum pil, terakhir satu tahun lalu." Dr. Jang kembali mengangguk.

"Apa akhir-akhir ini kau melakukan aktivitas seksual?" Jeonghan mengangguk dan dr. Jang lanjut bertanya. "Menggunakan pengaman?" Jeonghan menggeleng dan menggigit bibir bawahnya.

"Jadi kalian aktif secara seksual?"

"Ya," ucap Jeonghan ragu. Ia tidak tahu apakah mereka--- ia dan Seungcheol akan kembali melakukan seks, tapi Jeonghan mencari aman dengan menjawab ya.

"Hanya berhubungan dengan satu pasangan?"

"Ya."

"Kapan terakhir kali berhubungan?"

"Aku lupa kapan pastinya, tapi kurasa itu enam hari lalu." Dr. Jang kembali mengangguk dan mencatat.

Dr. Jang selesai mencatat dan meminta Jeonghan untuk berbaring diatas ranjang pasien. Jeonghan berbaring mengikuti perintahnya, dan dr. Jang mulai melakukan tugasnya sebagai seorang dokter kandungan---menarikan jemari dan lengannya ke dalam tubuh Jeonghan.

"Kapan terakhir kali melakukan pap smear, Mr. Yoon?" Dr. Jang bertanya dengan suara sedikit teredam karena dia sudah memasang kembali maskernya.

"Err... setahun yang lalu."

Dr. Jang tersenyum, membuatnya semakin terlihat tampan.

"Jadi, apakah pria ini pria yang sama dengan satu tahun lalu?"

Jeonghan menggeleng cepat. "Setahun lalu aku berada di Australia. Dan aku bertemu dengan pria West Coast ini dua bulan lalu."

"Biar kutebak. Dia pasti pria yang tampan dan baik hati," matanya tersenyum hangat meskipun Jeonghan tidak yakin karena dia memakai kacamata.

"Ya, dia benar-benar baik hati dan tampan."

"Dia benar-benar beruntung, kalau begitu. Karena dia mendapatkan sosok seperti dirimu." Ucapan dr. Jang terdengar tulus di telinga Jeonghan. Sepertinya dia selalu bersikap ramah kepada setiap pasiennya. "Jadi, apakah kalian berencana menjalin hubungan serius?"

"Err... Aku tidak tahu. Kami baru bertemu dua bulan lalu, dan baru benar-benar dekat beberapa minggu ini. Aku hanya berharap kami tidak berakhir sebagai momen satu malam."

"Oh, aku ikut berdoa untukmu kalau begitu," dr. Jang mengangkat wajahnya sekilas untuk memberi Jeonghan senyuman. "Jadi, seperti apa dia?"

Kening Jeonghan berkerut memikirkan kata yang pas untuk menggambarkan Choi Seungcheol. "Dia, err... tampan. Teramat-sangat tampan. Dan dia cerdas, sayangnya berkepala besar, dan sedikit menyebalkan. Dia juga memegang senapan."

"Oh ya?" Jeonghan mengangguk. "Apa dia seorang polisi atau tentara?"

Jeonghan menggeleng. "Dia bekerja sebagai pemeriksa, semacam pegawai pemerintah."

"Pasti menyenangkan. Dia pasti orang yang hebat." Dr. Jang kembali tersenyum. "Mantan kekasihku juga seorang pegawai pemerintah, dan dia juga memegang senapan karena tuntutan pekerjaan. Profesinya juga sedikit banyak terlibat dengan berbagai macam orang. Lebih tepatnya, memeriksa orang-orang." Jeonghan mengangguk asal selagi mendengarkan dr. Jang bercerita. "Sayangnya kami berpisah karena hubungan kami tidak berhasil." Dia terlihat sedih saat mengucapkannya.

"Aku turut menyesal, dok."

"Terima kasih," dia kembali mengangkat wajah dan tersenyum. "Jadi, dia seorang detektif?"

Jeonghan menggeleng. "Aku bekerja sebagai penulis jurnal untuk pemerintah yang bergabung dengan kantor detektif. Sedangkan dia bekerja sebagai customs officer."

"Oh ya?" Dr. Jang kembali mengangkat wajah dan terlihat antusias. "Mantan kekasihku juga seorang pegawai customs."

"Oh ya?" Kali ini Jeonghan yang bertanya karena merasa tertarik.

"He-em." Dr. Jang mengangguk. "Nah, sudah selesai." Dia membantu Jeonghan berdiri dan berkata bahwa asistennya akan menghubunginya begitu hasil lab keluar. Dia memberi Jeonghan resep untuk ditebus berisi pil-pil cinta, dan ketika Jeonghan akan pamit keluar dari ruangannya, telpon dalam ruangannya berbunyi. Dr. Jang meminta maaf dan meminta Jeonghan untuk menunggu sebentar selagi dia menjawab panggilan telponnya.

"Halo, dr. Jang Doy disini."

Ada yang aneh.

Benar, ada yang aneh.

Tapi apa?!

Dr. Jang berbicara dengan lawan bicaranya di telpon selama beberapa detik sebelum memutuskan panggilan lebih dulu. Dia menatap Jeonghan, "nah, Mr. Yoon. Terima kasih atas kunjungannya. Kuharap kau tidak bosan berkunjung," dia berdiri dan Jeonghan mengikuti gerakannya. Mereka saling menjabat tangan.

Jeonghan keluar dari dalam ruangan dan setelah menutup pintu di belakangnya, ia mengecek ulang kertas resep yang tadi diberikan oleh dr. Jang. Di bawahnya tertulis dengan jelas nama dr. Jang Doyoon.

Tunggu, tunggu sebentar.

Doyoon...

Dokter kandungan...

Pegawai customs...

Tampan...

Bertubuh indah...

Hubungan yang kandas.

Oh! Jeonghan mengumpat. Ia baru saja memberi izin kepada mantan kekasih dari calon kekasihnya untuk mengobrak-ngabrik tubuhnya!

WORLD | JEONGCHEOL COUPHANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang