Empat

567 46 1
                                        

Jadi, Jeonghan duduk dengan nyaman diatas soda berlengan, dengan seorang pria tampan pemilik seragam raven yang siang ini hanya memakai jubah mandi dan tetes air mengalir dari rambutnya yang hitam.

Dia memberi Jeonghan segelas minuman dingin dan Jeonghan menerimanya dengan senang hati.

"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Jeonghan?"  Jeonghan nyaris melonjak girang karena pria itu ternyata masih mengingat namanya.

Jeonghan ikut meletakkan gelas diatas meja, dan pria tersebut. "Kau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi diluar?" Dia menggeleng, dan Jeonghan yakin bahwa dia serius dengan jawabannya.

Jeonghan menghembuskan napas, "well, baru saja terjadi kebakaran di luar."

"Terjadi... apa?" Dia mengulang, kali ini dengan nada bertanya, dan Jeonghan mengangguk.

"Gedung ini baru saja terbakar, dan semua orang berhamburan keluar karena panik. Tapi kau terlihat tenang, karena hanya dua lantai bawah yang terbakar."

Dia mengerang lalu memencet hidungnya sendiri. "Kenapa aku tidak tahu apa-apa?!" Dia seolah bertanya kepada dirinya sendiri, dan Jeonghan hanya mengangkat bahu karena memang dia juga tidak tahu kenapa dia tidak tahu apa-apa.

"Latihan mati suri?!,"  Jeonghan berceletuk dan sesaat kemudian mengumpat dalam hati saat menyadari kebodohannya sendiri.

Jeonghan memberi pandangan meminta maaf dan pria tersebut tampak menahan senyum geli---terlihat dari kedua matanya yang berkilat jenaka.

"Ya, kau benar. Aku lelah sekali. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, dan ketika mendapat jatah libur, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermesraan dengan kasurku."

Jeonghan mencibir dan tertawa pelan kemudian. "Seseorang sepertinya mengerti dengan benar bagaimana caranya bercumbu dengan ranjangnya yang hangat."

Dia kembali mengangkat wajahnya setelah Jeonghan mengucapkan kalimat tadi, dan kedua bola matanya berkilat aneh. "Ya, kau benar. Kurasa menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli ranjang mewah dan empuk ada manfaatnya juga. Kau bisa setiap saat mencumbunya."

"Well, aku tidak benar-benar yakin," Jeonghan memiringkan kepala, dan balas menatapnya. Jeonghan sadar dia terdengar seperti gampangan sekarang. Oh, persetan. Jeonghan hanya ingin membuka jubah mandi pria di hadapannya dan menguasai dirinya detik ini juga.

"Benarkah?"  Pria itu ikut memiringkan kepala menggoda. "Kalau begitu, beritahu aku..."

Jeonghan menggigit bibir bawah, merasa bingung apa yang baru saja dia lakukan. Apakah dia baru saja menggoda seorang pria tampan dengan seragam keren yang melekat di tubuh indahnya? Demi Tuhan! Pria itu bahkan tidak sedang memakai seragam biru tuanya, ataupun rompi bertuliskan customs miliknya. Dia hanya memakai jubah mandi dan duduk di dekat Jeonghan dan tampil sangat menawan, juga sangat... err... seksi.

Jeonghan mengeluarkan lenguhan kecil dan sialnya hal itu justru menarik perhatian. Pria itu menaikkan satu alis, sudut bibirnya terangkat keatas, memberi senyuman miring yang bisa membuat siapapun menggelepar kehabisan napas.

Dia terkekeh pelan saat melihat reaksinya. Jeonghan berharap ada alasan cukup kuat untuk mengutarakan maksud kalimatnya tadi, dan pergi dari tempat tersebut secepat yang ia bisa. Dia harap dia memiliki kemampuan berapparate.

Pria itu tertawa ringan, masih memandang Jeonghan. Kepalanya bergeleng ke kiri dan ke kanan. "Kurasa seseorang baru saja menyatakan bahwa dia tidak terikat hubungan dengan siapapun."

Oops! Apa katanya tadi?

Jeonghan tidak ingin menjawab karena takut mengucapkan kalimat yang salah seperti sebelumnya. Dia mengerti reaksinya, dan dia kembali membuka mulutnya. "Dimana kau tinggal, Jeonghan?"

Kedua mata Jeonghan mengerjap tanpa perintah. Dia tahuv dia terlihat seperti idiot. Dia membersihkan tenggorokan terlebih dahulu sebelum menjawab. "Err... di dekat kantor kepolisian West Coast. Bukankah aku sudah pernah bilang?"

"Bersedia memberitahuku alamat lengkapnya?"

Ugh! Alamat! Ya, alamat! Jeonghan lupa di jalan apa dia tinggal.

"Apa kau baru tinggal disana?"

"Ya.. aku tinggal bersama Ayahku disini."

Pria itu kembali mengangguk lalu mengambil ponsel dari atas meja tempat mereka meletakkan gelas. "Boleh aku tahu nomormu?" Jeonghan menyebutkan nomor ponselnya sendiri dan pria itu mengetiknya. Jemari panjangnya terlihat sangat seksi saat ini.

Pria itu tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya, lalu memandang Jeonghan. "Nah... aku Choi Seungcheol. Kau bisa memanggilku Seungcheol... Dan seseorang harus merasakan langsung betapa empuk dan nikmatnya ranjang mahal yang kubeli. Kebetulan aku mengambil cuti selama tujuh hari kedepan."  Seungcheol kembali memberi senyum miring, dan Jeonghan rasa.... Dia tidak bisa lari lagi.

WORLD | JEONGCHEOL COUPHANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang