"Ayah dengar kau berkencan dengan seorang Choi."
Jeonghan langsung mengangkat wajah dari ayam panggang yang sedang ia makan dan menelan daging ayam yang ada di dalam mulut dengan susah payah sebelum membalas ucapan Mr. Yoon. "Err... Dad bicara apa?!"
Mr. Yoon terlihat baik-baik saja. Dalam artian dia tidak terlihat marah, tidak terlihat menghakimi, dan tidak terlihat menyudutkan. Yah, dia baik-baik saja. Dia hanya mengangkat kedua bahu sambil memotong daging ayam diatas piringnya.
"Tidak ada yang memberitahuku." Kedua mata Jeonghan menyipit tak percaya dan Mr. Yoon menambahkan, "kupikir kau akan tertarik dengan Minhyuk. Dia pemuda yang cukup baik." Oh, yeah. Cukup baik, sampai beberapa waktu lalu Seungcheol memergokinya hampir bercinta di dalam ruang mezanin. Cukup baik.
"Eemmm..." Jeonghan hanya memberi gumaman tak jelas sebagai respon.
"Kau yakin dengan si pemuda Choi ini?" Jeonghan mendesah karena memang tidak tahu jawabannya.
Apakah dia yakin? Ia rasa, mungkin. Ia tahu Seungcheol pria yang baik, dan ia tahu Seungcheol berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat yang ada di West Coast. Seungcheol juga pria yang bertanggung jawab. Dia mampu menjaga Jeonghan dengan sangat baik. Tapi sekali lagi, apakah Jeonghan yakin? Rasa sakit hati serta kecewa yang Jeonghan rasakan karena ulah Hyungwon di masa lalu terlampau besar, dan itu mempengaruhi keputusannya tentang Seungcheol sampai detik ini.
"Yah... aku tidak bisa memberi nasehat yang berarti, seperti yang mungkin saja akan diberikan oleh Ibumu. Tapi, nasehatku masih tetap sama, aku juga seorang pria, dan aku mengerti dengan benar bagaimana pemikiran yang ada di kepala seorang pria dewasa, Nak."
"Hm? Apa Dad mau bilang kalau semua pria bertanggung jawab dan memegang senapan seperti Ayah?" Jeonghan bergurau dan Mr. Yoon justru melotot sembari berdecak tak sabar.
"Bukan itu maksudku! Cari lah pria yang jauh lebih baik dari Ayah. Cari lah sosok pria dewasa, yang tidak akan pernah membentak atau melukaimu ketika kalian bertengkar. Cari lah pria yang benar-benar mencitaimu, bukan pria yang kau cintai. Karena mencintai dengan dicintai adalah dua kata kerja yang berbeda, Hannie." Jeonghan tersenyum lembut mendengarnya. Baru kali ini Mr. Yoon membahas tentang cinta di hadapannya.
"Terima kasih, Dad. Tapi jangan khawatir, aku akan selalu mengingat nasehat yang Dad berikan padaku." Mr. Yoon mengangguk.
Seungcheol mengajak Jeonghan pergi berbelanja karena mereka mendapat jatah libur yang sama selama enam hari kedepan. Dia bilang dia akan membuat ayam bakar madu dan Jeonghan tidak sabar untuk mencobanya.
Seungcheol menjemput Jeonghan sore hari dan mengajaknya ke Centre Mall untuk membeli keperluan bulanan. Dia masih memakai seragam dan bahkan di saku rompinya masih terdapat alat-alat yang biasa dia bawa ketika bekerja ; cutter, gunting, hand sanitizer, pemotong besi yang dia bilang dia butuhkan jika ingin membuka koper yang tidak memiliki kunci. Dan fantasi Jeonghan saat ini adalah bercinta dengannya dibawah mesin X-ray.
Mereka menghentikan troli di depan etalase buah dan sayuran, Seungcheol memilih tomat-tomat berwarna merah segar. Ini sedikit deja vu. Ketika kali kedua mereka bertemu, Seungcheol sedang menyerahkan tomat-tomat segar kepada kasir untuk diberi label harga. Jeonghan tersenyum mengingatnya.
"Apa kau selalu memilih tomat ketika berbelanja?"
Seungcheol mengangkat wajah dan kegiatan memilih tomatnya terhenti beberapa saat. "Yaa..." Dia menjawab pertanyaan Jeonghan dengan malu-malu dan Jeonghan tidak tahan untuk tidak menciumnya. Ia mendekatkan tubuh dan itu membuat Seungcheol bingung. Dan tanpa meminta izin lebih dulu, Jeonghan mencium bibir dan pipi Seungcheol kemudian menjauhkan tubuh darinya.
Seungcheol terlihat terkejut kemudian tersenyum. "Tomat buah yang kaya manfaat. Tapi aku tidak pernah melihat seseorang benar-benar mencintai tomat sampai seperti ini." Seungcheol tertawa pelan. Dua buah kantung berisi tomat merah siap dibawa ke kasir khusus buah dan sayur untuk ditimbang dan diberi label harga.
Mereka baru akan mendorong troli saat seseorang memanggil nama Seungcheol dengan lembut. Keduanya berbalik, dan Jeonghan sadar bahwa kedua irisnya saat ini membulat ketika melihat sosok dokter kandungan dengan tubuh indah dan pinggul ramping berdiri di hadapan mereka.
"Apa kabar?" Dr. Jang Doyoon maju dan mencium pipi Seungcheol tepat di hadapan Jeonghan!
"Oh, hai, Doyingie..." Jeonghan melirik Seungcheol ketika mendengar Seungcheol memanggil dr. Jang dengan nama kecilnya.
Seungcheol mundur beberapa langkah, menjauh dari tubuh dr. Jang lalu menggandeng lengan Jeonghan. Gerakannya itu membuat dr. Jang mengulum senyum. Kepala dr. Jang yang cantik beralih pada Jeonghan, kerutan muncul di kening mulus dr. Jang saat melihatnya.
"Halo... kau yang beberapa waktu lalu datang ke tempat praktekku, kan?! Yang baru saja pindah dari Australia itu? Yang bertemu dengan Mr. Everything-mu ketika kau pertama kali mendarat di West Coast?" Jeonghan ingin menjawab tapi lidahnya terlalu kelu. Kemudian dr. Jang melihat ke arah kantung-kantung tomat milik Seungcheol, melihat ke arah Jeonghan, kembali melihat Seungcheol, dan terakhir melihat ke tangan Seungcheol yang menggandeng lengan Jeonghan. Dia tampak terkejut, tapi dia seorang aktris yang handal karena detik berikutnya dia berhasil menormalkan kembali ekspresinya.
Seungcheol menyadari bahwa suasana di sekitar mereka sudah berubah menjadi tidak enak, kemudian dia mengucapkan selamat tinggal kepada dr. Jang. Seungcheol memegang lengan Jeonghan menuju kasir dan Jeonghan masih terlalu membeku karena perlakuan dr. Jang di kedua pipi Seungcheol tadi.
Mereka mempercepat acara belanjanya, meletakkan barang-barang yang sudah dibeli ke jok belakang dan Seungcheol menyetir dalam diam. Sesekali Jeonghan bisa merasakan dia meliriknya sementara Jeonghan memilih diam memandang keluar jendela.
Mereka tiba di depan apartemen Seungcheol dalam waktu singkat. Seungcheol menutup pintu kamarnya sebelum meletakkan barang belanjaan diatas meja dapur. Dia kembali dan melihat Jeonghan sedang duduk di sofa depan, masih mencoba untuk bungkam.
"Penny for your thought?" Seungcheol berlutut di depan Jeonghan, kedua tangan terlipat di paha Jeonghan.
Jeonghan mencoba tersenyum meskipun usahanya sia-sia. "Tak apa."
"Benarkah?" Seungcheol mengangkat satu alis dan Jeonghan mengangguk.
"Kau jelas kenapa-kenapa. Tolong, beritahu aku kalau aku berbuat salah."
"Aku tidak apa-apa, oke?!" Jeonghan bahkan terlalu tekejut dengan dirinya sendiri karena dia baru saja membentak Seungcheol.
Seungcheol juga tampak terkejut, tapi dia kembali menormalkan ekspresinya. "Kau cemburu, tidak suka karena dr. Jang menyapaku?"
"Apa itu penting?"
"Itu penting, Jeonghan. Itu penting." Tatapannya berkilat.
"Aku tidak mau membicarakannya!"
"Oh, tidak, kumohon jangan seperti ini." Nada bicara Seungcheol terdengar memohon dan sebenarnya Jeonghan tidak tega. Tapi Jeonghan terlalu cemburu pada dr. Jang. "Kau menolak cintaku, kau menolak acara yang kita buat disebut sebagai kencan, kau juga menolak menerima pernyataan cintaku,-"
"Aku tidak menolakmu!" Jeonghan menyela ucapannya, merasa emosinya semakin mengambil alih.
"Belum," Seungcheol mengoreksi. "Kau memang tidak menolak, tapi kau jelas belum memberiku jawaban. Kau menggantungku. Dan sekarang kau marah karena bertemu dengan Doyoon. Aku bahkan tidak tahu kalau Doyoon juga berbelanja di supermarket itu." Kedua tangan Seungcheol kini berada di kedua sisi kepalanya. "Oh, Tuhan, Jeonghan. Bebaskan aku dari perasaan dan hubungan tidak jelas ini. Tolong... beri aku jawaban... menolak atau menerima... tapi jangan gantung aku seperti ini lalu merasa berhak untuk marah karena Doyingie baru saja menciumku di depanmu."
"Oh! Kau memanggil nama kecilnya... dr. Jang Doyoon yang sempurna. Kau tahu Seungcheol?! Fuck this! Lebih baik kita berhenti!"
KAMU SEDANG MEMBACA
WORLD | JEONGCHEOL COUPHAN
Fiksi PenggemarDisclaimer : © BG Seventeen, Pledis Ent. Hybe Ent Written and published : Adoringharuno Rate : M (for some reasons) Pair : Yoon Jeonghan x Choi Seungcheol Language : Indonesian 🔞 NSFW, bxb, Mpreg di bagian akhir. (Silahkan mundur jika dirasa tidak...
