16. The Chois

438 30 1
                                        

Hari ke delapan Jeonghan akhirnya diizinkan pulang setelah memaksa semua orang, merengek, dan bahkan mengancam akan kabur melalui jendela di dalam ruang rawat jika dia masih tidak diizinkan kembali ke rumah.

Mr. Yoon mengambil cuti selama tiga hari dengan alasan dia ingin mengambil peran sebagai seorang Ayah dengan sebaik-baiknya. Caranya? Dengan mengurus Jeonghan sejak kakinya meninggalkan ranjang rawat, tentu saja.

Hal itu sedikit menyebalkan menurut Jeonghan, karena sebenarnya ia berharap bisa diurus oleh Seungcheol di apartemennya.

Hubungan keduanya kembali membaik, dan Seungcheol berubah menjadi si kepala besar seperti biasa. Dan bahkan, hampir setiap hari Seungcheol selalu mengucapkan kata cinta untuk Jeonghan, berulang kali, membuat Jeonghan heran dengan kedua telinganya sendiri karena mereka masih berfungsi dengan baik meskipun Seungcheol terus-menerus menyiraminya dengan kata cinta.

Di malam hari ketika Seungcheol mengunjungi Jeonghan dan Mr. Yoon sedang tidak berada di rumah karena ada urusan dengan Nona Im, Jeonghan nekat bertanya pada Seungcheol seberapa penting Jeonghan untuknya.

"Seberapa penting seorang Yoon Jeonghan untukmu, Seungcheollie? Apakah dia mengacaukan hidupmu dengan segala perilaku dan toleransi alkoholnya yang rendah? Atau dia tidak terlalu penting karena selalu membuat hidupmu sulit?"

Seungcheol mengulum senyum dan memilih untuk memainkan anak rambut Jeonghan ketika mendengar pertanyaannya.

"Kau seperti hidup baru bagiku. Rasanya seperti..."  Dia berpikir sebentar, seolah mencari kalimat yang pas. "Aku tenggelam setelah sekian lama, dan kau datang menyelamatkanku."

Jeonghan ingin berbangga hati sekaligus mendengus mendengarnya. Seorang Seungcheol, seorang Choi, mengatakan hal seperti itu! Pikiran gila Jeonghan mengambil alih, ingin sekali rasanya ia naik balon udara, membawa alkohol berkadar tinggi, membawa pengeras suara dan spanduk bertuliskan SEUNGCHEOLLIE, AKU MENCINTAIMU, lalu mengatakan kepada seluruh warga West Coast bahwa dia mencintai Choi Seungcheol, bahwa Choi Seungcheol adalah miliknya.

Lalu, kebahagiaan Jeonghan mendadak lenyap begitu saja saat Seungcheol tiba-tiba mengatakan rencananya untuk mengajak Jeonghan bertemu dengan kedua orangtuanya.

Seungcheol adalah seorang Choi, sudah pasti dia dibesarkan oleh orang-orang hebat, diajarkan tata krama, memegang sendok emas sejak dia berusia lima bulan. Dan Jeonghan hanya lah orang lugu dengan nafsu menggebu-gebu yang selalu ingin menungganginya, hingga mungkin membawa dampak buruk pada anak semata wayang pasangan Choi.

Tapi sekali lagi, Jeonghan tidak bisa menolak, kan?!

Maka begitu Seungcheol menariknya keluar dari dalam mobil, membuka pintu depan sebuah rumah yang sangat, sangat mewah, Jeonghan rasa ia akan pipis di celana sebentar lagi. Menghadapi Kim dengan dua orang kaki tangannya jauh lebih baik daripada ini.

"Seungcheol? Kau kah itu, Nak?"  Jeonghan mendengar suara seorang wanita yang terdengar sangat anggun di kedua telinga, dan beberapa detik kemudian muncul seorang wanita paruh baya dengan surai dan iris serupa milik Seungcheol. Dia benar-benar Seungcheol versi wanita dewasa.

"Hai, Bu."  Seungcheol meremas pergelangan tangan Jeonghan, menunggu respon yang akan diberikan oleh Ibunya.

"Oh, Sayang. Kau datang juga akhirnya. Ibu pikir kau tidak akan datang."  Ibunya berjalan menghampiri, mengelap tangannya di serbet yang ia bawa, dan apronnya yang bermotif polkadot berayun seiring langkah kakinya.

Ibunya mencium kedua pipi Seungcheol seperti Seungcheol adalah anak yang akan berpisah dengan Ibunya karena harus berangkat ke sekolah dan kembali saat siang hari tiba.

WORLD | JEONGCHEOL COUPHANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang