Seungcheol memberi Jeonghan kejutan saat kami tiba di halaman depan rumah. Dia menunjukkan dua lembar tiket untuk berkunjung ke Atlanta. Sekali lagi, dua lembar tiket ke Atlanta, untuk perjalanan pulang dan pergi.
Saat Jeonghan bertanya apa alasannya, Seungcheol bilang, "mungkin kau perlu merasakan cuaca yang berbeda dari cuaca di West Coast saat ini. Dan sepertinya, Atlanta adalah tempat yang terbaik."
Jeonghan memang rindu Atlanta dan Ibunya. Dia bahkan merindukan cuaca dan makanan di sana. Jadi saat ini dia dan Seungcheol berada di dalam kabin pesawat, dengan Seungcheol menggenggam tangan Jeonghan, meremasnya sedikit, membantu Jeonghan tidur dengan nyaman di kursi penumpang selagi boeing milik West Coast Air mengudara.
Mereka sampai di Bandara Internasional Atlanta, dan harus melewati beberapa prosedur lebih dulu setelah mereka mengambil barang-barang di bagasi. Itu seperti deja vu. Mereka mengampiri bagian imigrasi, dan setelahnya mereka menghampiri bagian customs desk.
Seungcheol mengisi customs declare yang tadi diberikan oleh pramugari dan Jeonghan sedikit bergurau, mengatakan padanya bahwa dia memiliki banyak pil ekstaksi di dalam koper, sementara Seungcheol tidak senang mendengar gurauannya, dan Jeonghan katakan padanya bahwa yang dimaksud sebagai pil ekstaksi itu adalah sosok Seungcheol yang selalu membuatnya mabuk. Seungcheol merona mendengarnya.
Jeonghan sedikit bertanya apa alasan Seungcheol membawa-bawa kartu pengenal customsnya ke Atlanta dan Seungcheol menjawab, "kami memang diwajibkan membawa identitas kemanapun kami pergi. Siapa yang tahu apa yang terjadi padaku besok? Bagaimana jika seseorang menyalahgunakan identitasku selama aku berada di sini? Atau bagaimana jika pesawat yang kita tumpangi jatuh dan aku tidak membawa lencana atau tanda pengenal berhargaku? Aku mau dikebumikan dengan memakai seragam dan pistol kebanggaanku."
Jeonghan harus menyikut rusuknya kuat-kuat setelah dia mengemukakan jawabannya dan Seungcheol tertawa keras.
"Seseorang mungkin akan langsung mengenalimu bahkan ketika kau menjadi mayat tanpa identitas, hanya dengan melihat kepala besarmu." Dan Seungcheol melenguh kesal mendengarnya.
Taksi bandara yang mereka tumpangi sampai di depan rumah Mrs. Yoon. Rumah itu tidak jauh berbeda sejak terakhir kali Jeonghan tinggalkan. Kapan terakhir kali dia berada di rumah itu? Berbulan-bulan lalu?!
Seungcheol sudah berada di sisi Jeonghan dan raut wajahnya terlihat tenang tapi gerak-geriknya tentu saja berbanding terbalik dengan raut wajahnya. Dia tidak bisa berhenti mengerucutkan bibir dan mengerutkan kening, dan Jeonghan sungguh senang melihat dia yang seperti itu.
"Apa pekerjaan Ayahmu?" Seungcheol memblokir jalan ketika keduanya sampai di depan gerbang, kedua lengannya terbentang menghalangi Jeonghan untuk membuka gerbang.
Satu alis Jeonghan terangkat. Berhadapan dengan Seungcheol yang seperti ini sungguh menyenangkan. "Dia adalah pegawai kantoran biasa."
"Kau yakin?"
"Yep!" Jeonghan mengangguk mantap. "Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia seorang penagih."
"Penagih? Seperti debitur?" Jeonghan tidak tahu, dan dia hanya berkata "mungkin". Maka Seungcheol melanjutkan kembali kalimatnya, "apakah dia berwajah seram? Apakah dia memiliki sesuatu di rumah ini? Seperti senapan dan sebagainya?"
Dan Jeonghan benar-benar senang bahkan terhibur melihat reaksi gugupnya. "Ya! Dia mempunyai samurai."
Seungcheol kembali melenguh dan Jeonghan tertawa keras. "Aku bercanda, aku bercanda..." Seungcheol melotot dan Jeonghan tidak tahan lagi. Dia memajukan tubuh dan mengecup sekilas bibir Seungcheol kemudian mengacak rambutnya dengan gemas. "Nah... Sekarang, izinkan aku masuk." Seungcheol menyingkir dari depan gerbang dan kembali berjalan di sisi Jeonghan.
Jeonghan melihatnya menarik-hembuskan napas seperti sedang mengatur emosinya sendiri. "Tenang saja, Sayang... Aku mencintaimu, dan kurasa Ibu serta Ayahku juga akan jatuh cinta padamu."
Jeonghan melarikan jemarinya di rambut Seungcheol dan dia lihat kedua iris Seungcheol melebar. "Apa? Kau bilang apa barusan?" Mengangkat bahu dengan acuh, Jeonghan segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Seungcheol yang masih terus bertanya apa maksud ucapannya barusan.
Ya, Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan mencintaimu. Oh, astaga!
KAMU SEDANG MEMBACA
WORLD | JEONGCHEOL COUPHAN
FanfictionDisclaimer : © BG Seventeen, Pledis Ent. Hybe Ent Written and published : Adoringharuno Rate : M (for some reasons) Pair : Yoon Jeonghan x Choi Seungcheol Language : Indonesian 🔞 NSFW, bxb, Mpreg di bagian akhir. (Silahkan mundur jika dirasa tidak...
