Seungcheol menarik Jeonghan keluar dari dalam Alfa Romeo miliknya yang terlalu menyita perhatian banyak orang selama keduanya berada di jalan, saling bergandeng tangan menuju sebuah lapangan luas dengan semak-semak dan pepohonan berduri yang akan membuat kulit mereka terluka jika mereka tidak melangkah dengan hati-hati.
Seungcheol membuka jalan di depannya dengan kayu yang agak panjang yang dia temukan tadi, sementara lengannya masih terus menggandeng lengan Jeonghan.
Keduanya berjalan dalam diam. Sebenarnya Jeonghan takut membuka percakapan karena dia bisa saja melukai mereka berdua jika ia tidak fokus dengan jalanan dan semak berduri di sekitar. Dan semak berduri serta pepohonan besar yang rimbun perlahan menghilang, sayup-sayup Jeonghan bisa mendengar suara kicauan burung. Seungcheol bertanya jam berapa sekarang dan Jeonghan menjawabnya.
"Pukul tiga sore, sempurna. Matahari masih bersinar tapi juga bersiap akan kembali." Jeonghan ingin sekali bertanya apa maksud kalimatnya tadi, tapi Seungcheol kembali menarik lengannya melangkah kedepan dan mereka sampai di tepi danau yang memantulkan cahaya matahari sehingga air dalam danau terlihat berwarna keemasan.
Seungcheol berbalik dan tersenyum. "Lihat? Kita tidak terlambat."
"Apa ini tempat rahasiamu?" Seungcheol mengangguk, senyumnya semakin lebar.
"Aku menemukannya beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, aku sering menghabiskan waktu disini, entah untuk duduk merenung atau berenang".
"Berenang?" Dia kembali mengangguk dan Jeonghan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Bagaimana bisa kau berenang di tempat seperti ini?"
Alisnya lagi-lagi terangkat, seperti yang biasa Seungcheol lakukan jika mereka sedang adu pendapat. "Maaf?"
Jeonghan mendecak tak sabar, gemas akan kelambanan Seungcheol dalam berpikir. "Cheol, bagaimana bisa kau berenang di tempat seperti ini? Bagaimana kalau di dalam danau itu ada piranha? Atau ikan-ikan kecil penghisap darah yang akan masuk ke dalam tubuhmu melalui kemaluan? Atau bagaimana dengan duyung penggoda? Dan...,-"
"Kau terlalu banyak menonton film seperti itu, Hannie." Nada bicaranya terdengar geli dan Jeonghan benar-benar ingin memukul kepalanya saat ini juga. Seungcheol kembali menormalkan ekspresi wajahnya saat kedua mata Jeonghan mulai menyipit berbahaya dan berdeham sekali sebelum melanjutkan ucapannya. "Tidak ada yang seperti itu disini."
"Bagaimana kau tahu?!" Suara Jeonghan terdengar seperti pekikan putus asa.
"Karena aku sering kesini," dia mengangkat kedua bahu seolah jawabannya itu masuk akal. "Hampir setiap minggu aku kesini untuk berenang."
"Kenapa harus berenang?" Jeonghan bertanya tidak sabar.
"Karena memang itu olahraga yang diwajibkan di tempatku bekerja. Selain menembak dan berlari, tentunya," Seungcheol menggigit bibir bawahnya. "Dan aku lebih senang latihan berenang atau menembak disini, dibandingkan di klub olahraga yang ada di kantor pusat atau yang sudah disewa oleh instansiku."
"Tapi,-"
"Tidak ada yang seperti itu disini, Hannie." Seungcheol terdengar sangat jengkel membuat Jeonghan malas untuk mendebatnya lagi. "Kau mau berenang?" Dia bertanya setelah semenit penuh mereka saling diam.
Jeonghan menggeleng perlahan dan Seungcheol kembali bertanya apa alasannya. "Aku... err..."
"Tidak bisa berenang?"
"Bukan!" Jawaban Jeonghan yang terlampau cepat membuat Seungcheol terkekeh.
"Lalu?"
"Aku tidak bawa baju ganti." Seungcheol mengedipkan kelopak mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
WORLD | JEONGCHEOL COUPHAN
FanfictionDisclaimer : © BG Seventeen, Pledis Ent. Hybe Ent Written and published : Adoringharuno Rate : M (for some reasons) Pair : Yoon Jeonghan x Choi Seungcheol Language : Indonesian 🔞 NSFW, bxb, Mpreg di bagian akhir. (Silahkan mundur jika dirasa tidak...
