"EKHEEMMM," dehem seseorang
Diyah sangat terkejut tiba-tiba mendengar seseorang yang lagi berdehem sampai-sampai Diyah tersedak kuah baksonya, bayangin aja kuah bakso yang penuh dengan sambal terus tiba-tiba tersedak gimana rasanya pasti nikmat banget kan. Radit dengan sigap menyodorkan es tehnya dan langsung diterima oleh Diyah, sekali tegukan langsung habis.
"Kalian kalau mau berdehem kasih aba-aba dulu dong biar gue gak tersedak, sakit banget ditenggorokan perih juga," ucap Diyah dengan mata yang berkaca-kaca menahan perih ditenggorokannya
"Kita gak ada berdehem ya, kan dari tadi kita lagi fokus makan," celetuk Rio
Seketika mereka langsung saling tatap, takut jika yang berdehem barusan adalah orang yang seharusnya mereka hindarinya. Diyah menoleh ke belakang dengan gerakan terbata-bata, seketika Diyah langsung melotot terkejut melihat keberadaan Abangnya yang sekarang sedang menatapnya tajam, lebih tepatnya bukan Diyah aja sih melainkan beserta teman barunya juga ikutan ditatap tajam oleh Abangnya.
Diyah memberi aba-aba teman se kelasnya untuk segera kabur sebelum mendapat amukan singa yang lagi kelaparan ini, sedangkan teman sekelasnya yang paham apa maksud Diyah langsung mengangguk.
"Dalam hitungan ke tiga langsung ya," bisik Diyah yang diangguki teman se kelasnya
"Satu"
"Dua"
"Tiga..."
Mereka langsung lari terbirit-birit, ketika udah sampai di pintu keluar/masuk kantin dikejutkan dengan adanya keberadaan Rafa, Al sama Vano harus kabur lewat mana lagi nih secara kan pintunya hanya ada tiga dan disetiap pintu ada singa yang lagi jaga, lagian ya sekolah elit tapi kenapa pintu kantin sulit sih, masa hanya tiga aja pintunya. Papa sebenarnya niat gak sih bikin ini sekolah pelit banget ngasih pintunya heran deh, kan jadinya mereka gak bisa gerak lagi udah terkepung alhasil mereka pasrah aja mendapat amukan para singa, bahkan bakal dapat hukuman juga.
"Kalian semua ikut abang ke ruang osis," ucap Varo dingin dan jangan lupakan tatapan tajamnya
Mereka sekarang hanya bisa menurut gak mau bikin Varo semakin tambah marah yang ada nanti hukumannya tambah berat. Diyah baru kali ini melihat abangnya marah besar, dulu Diyah juga pernah kena marah cuma gara-gara jatuh dari motor itu pun hanya luka kecil tapi abangnya malah marah-marah, setelah kejadian itu motor Diyah hilang ntah kemana. Tapi yang namanya Diyah bar-bar dan suka membantah jadi ya beli lagi motor baru.
Tapi yang Diyah lihat sekarang sangat beda banget, didepan Diyah kayak bukan abangnya, tatapan tajamnya sangatlah berbeda.
"Dit itu beneran abang gue kan kok beda banget ya," bisik Diyah ke Radit yang posisinya lagi bersebelahan
"Gue juga gak tau, tapi kalau dilihat-lihat apa yang lo bilang bener deh itu kayak bukan Varo. Jangan sampai sisi gelapnya yang menguasai Varo sekarang, kalau sampai benar bisa bahaya kita." Diyah seketika langsung merinding mendengar bisikan Radit
Sisi gelap.? Apa iya abang punya begituan tapi kok Diyah gak tau ya, sejak kapan.? Selama ini Diyah kenal Varo gak pernah itu muncul sisi gelapnya.
"Maksud lo alter ego," tanya Diyah yang langsung diangguki Radit
Diyah melotot terkejut, dia kira alter ego itu hanya ada di buku novel yang sering ia baca aja. Tapi ternyata salah alter ego ada didunia nyata, di buku novel yang pernah Diyah baca jangan sampai membuat pemilik tubuh marah besar jika tidak ingin alter egonya keluar, tapi sekarang sudah terlambat sisi gelap abangnya sudah keluar.
"DIYAH, RADIT DUDUK," ucap Varo dingin
Diyah sama Radit terkejut mendengar namanya dipanggil dengan nada dingin, seketika langsung duduk dan menundukkan kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimatussa'diyah (ON-GOING)
Storie d'AmoreJangan pernah mau berteman dengan Diyah jika tidak ingin tertular sifat bar-bar dan nakalnya, kesehariannya selalu memberontak dan pembangkang. Diyah punya moto "Dibuatnya sebuah peraturan berarti juga harus ada langgaran, buat apa ada peraturan jik...
