"MA BAHAYA!!!! Teriak Abang-abang Diyah bersamaan
''Udah gak papa kalian gak usah sepanik itu. Mama yakin Papa gak akan ngulangin kejadian itu,''
Kenapa Mama sangat begitu yakin sekali, padahal para Abang-abang Diyah sangat kawathir takut kejadian tadi pagi terulang kembali yang membuat Diyah drop.
''Tapi Ma...'' ucap Dafin ragu sambil menatap Mama yang hanya dibalas anggukan oleh Mama
Kenapa Mama sangat begitu yakin dengan Papanya setelah kejadian tadi pagi, apakah Mama gak takut? Bahkan mereka aja sangat kawathir banget tapi Mama malah kelihatan santai banget kayak gak ada rasa kawathirnya sama sekali.
"Ayo ke ruang makan duluan sambil nunggu Papa sama adek turun," ajak Mama
"Ma beneran adek gak akan kenapa-kenapa kan?" Tanya Gilang memastikan karena dia juga sangat dengan adeknya, sedangkan Mama mengangguk
Detik berganti menit, menit berganti jam, satu jam mereka menunggu dimeja makan adek dan Papanya tidak datang juga, kenapa lama sekali padahal hanya membangunkan Papa saja. Apakah obat bius yang Gio suntikkan ke Papa belum hilang juga? Tapi gak mungkin deh kan tadi Gio suntik biusnya yang dosis rendah jadi hanya membutuhkan waktu 2 jam sudah sadar. Kecuali kalau Papa sudah sadar tapi lanjut tidur.
Gak biasanya juga Papa susah dibangunin, apa tadi Gio salah ya suntiknya yang dosis tinggi jadi Papa belum juga sadar? Lebih baik mereka harus cepat ke kamar Papa sekarang takut adek kenapa-napa.
Sedangkan Diyah dikamar Papa malah ikutan tertidur dipelukan hangat Papa. Tadinya sudah berulangkali membangunkan Papa tapi yang Diyah dapat hanya keheningan. Diyah pantang menyerah terus-terusan bangunin Papa dan usahanya berhasil Papa bangun juga. Papa menatap Diyah lekat tiba-tiba matanya berembun dan buliran kristal jatuh di pipi Papa. Diyah kaget kenapa Papanya tiba-tiba nangis.
"Papa kenapa?" Tanya Diyah lembut sambil mengusap buliran air mata dipipi Papa
"Adek gak ninggalin Papa?" Tanya Papa balik
"Adek gak kemana-mana Pa, tadi kan adek hanya bercanda, lagian Papa sih adek kan hanya mau main kerumah Ayah tapi gak dibolehin, adek minta maaf ya Pa, gara-gara adek Papa..." ucap Diyah terpotong
"Gak dek, adek gak salah yang salah itu Papa, gara-gara Papa adek jadi drop lagi, Papa minta maaf dek Papa hanya takut adek ninggalin Papa," potong Papa cepat
"Eeummm adek maafin, adek juga minta maaf," ucap Diyah, sedangkan Papa mengangguk
"Sampai lupa tadi adek kesini mau bangunin Papa buat makan siang bersama, ayo Pa turun," lanjut Diyah sambil menarik tangan Papanya pelan
"Nanti dulu dek Papa belum lapar mau lanjut tidur aja, sini dek tidur samping Papa, nanti Papa peluk," ucap Papa sambil merentangkan tanganya siap untuk meluk Diyah
Diyah hanya bisa menurut dan membaringkan badannya disamping Papa. Papa senang sekali langsung meluk Diyah, jangan kawathir pelukannya gak kayak tadi kok. Kan Papa sekarang lagi bahagia jadi aman.
💉💉💉💉
Apa Papa dan adek gak tau kalau Abang-abangnya ini penuh dengan ke kawathiran, mereka buru-buru naik ke lantai dua menuju kamar Papanya, ketika sampai dikamar Papa dan baru saja buka pintunya mereka dibuat melongo.
Satu jam mereka menunggu dimeja makan, tapi ini apa? Yang ditungu-tunggu malah asik tidur mana sambil pelukan lagi, padahal tadi udah kawathir banget loh tapi yang di kawathirin lagi menyelami alam mimpi.
"Bang, Dafin kawathir banget loh takut Papa bikin adek drop lagi, tapi ini..." ucap Dafin menggantungkan ucapannya
"Bukan abang aja yang kawathir kami juga sama bang, jantung Gilang berdetak cepat saking takutnya," ucap Gilang yang sama kawathirnya

KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimatussa'diyah (ON-GOING)
RandomJangan pernah mau berteman dengan Diyah jika tidak ingin tertular sifat bar-bar dan nakalnya, kesehariannya selalu memberontak dan pembangkang. Diyah punya moto "Dibuatnya sebuah peraturan berarti juga harus ada langgaran, buat apa ada peraturan jik...