Selesai membersihkan diri Ardiaz merebahkan dirinya sebentar. Lalu setelah itu ia akan pergi menemui Marsel di tempat biasa ia mengumpulkan dosa.
Ardiaz hanya menggunakan setelan kemeja kream dan celana bahan hitam saja. Ia keluar kamar menuju lantai bawah.
Di meja makan dilihatnya orang-orang tersayang nya sedang menunggu ia datang.
"Abang mau kemana? Kok rapi banget." Tanya Fiona kepo.
"Abang ada urusan sama Marsel." Jawab Ardiaz seadanya sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah sang bunda.
"Yaudah kamu makan dulu sayang baru pergi." Suara lembut bunda.
"Iya Bun." Jawab nya.
Mereka berlima pun makan tanpa suara.
.
.
.
Ardiaz sudah sampai di tempat biasa Marsel menghilangkan stres nya. Dia masuk kedalam pintu neraka itu, apa lagi kalau bukan bar bintang yang terkenal di kota Jakarta.
Begitu ia masuk kedalam telinga nya langsung di suguhi dengan musik yang sangat memekakkan telinga. Ardiaz celingukan mencari dimana sahabat laknat nya itu sampai matanya berhenti di salah satu meja bar.
Tanpa suara ia duduk di sebelah Marsel yang sudah terlihat setengah mabuk.
"Akhirnya Lo datang juga bro." Marsel menoleh kearah tempat Ardiaz duduk.
"Hm." Dehem Ardiaz malas.
"Nih." Marsel menyodorkan vodca ke arah Ardiaz.
"Gak. Lo tau gue ga suka minum." Jelas dingin menggeser gelas itu jauh. "Air putih." Lanjutnya dengan barista di depannya.
Marsel ngangguk mengerti. Dirinya lanjut minum minumannya yang tinggal setengah hingga habis.
Melihat itu Ardiaz jadi berfikir kalau sekarang sahabat nya itu tengah galau berat.
"Hikss. Lo tau Yaz gimana rasanya patah hati tanpa memiliki?" Celetuk Marsel dengan wajah sedih.
Ardiaz menggeleng tanda tidak tau. Bagaimana tau rasanya, dirinya aja gak pernah berdekatan sama perempuan ataupun berpacaran. Jadi ia menggeleng saja.
"Sakit bro. Sakit!" Jawabannya sendiri sambil meneguk minumannya dengan sarkas.
Ardiaz diam mendengarkan curhatan Marsel sambil menepuk bahu nya pelan.
"Padahal gue sayang banget sama tuh cewe tapi dia gak mau sama gue dengan alasan yang gak masuk akal menurut gue." Ucap Marsel meracau namun Ardiaz mengerti.
"Gak biasa nya Lo kayak begini, Lo tuh playboy yang di setiap tempat ada." Heran Ardiaz pasalnya ia tidak pernah melihat Marsel menangisi perempuan sesedih ini.
"Gue juga gak ngerti sama perasaan gue, kayaknya gue beneran jatuh cinta deh sama tuh cewek." Jawab nya berusaha sadar.
"Kalau Lo beneran cinta ya perjuangin jangan minum disini." Cerewet Ardiaz mulai keluar.
Belum sempat Marsel bersuara Ardiaz bangkit meninggalkan kursi bar. "Woiii Yaz. Lo mau kemana?" Teriak Marsel kencang supaya di dengar Ardiaz. Ardiaz hanya mengisyaratkan dengan tangan kedepan tanda sebentar.
Pergi kemana Ardiaz? Dia sedang memastikan penglihatannya tadi. Saat mengomeli Marsel dirinya nggak sengaja melihat ke arah sofa yang tidak jauh dari mereka duduk, ada tiga orang wanita. Tiga diantaranya yang sedari tadi sore memenuhi isi kepalanya. Karena itu dia pergi meninggalkan Marsel karena ingin meyakinkan dirinya sedang salah orang atau tidak.
Ardiaz melihat tiga wanita itu tengah asik minum. Setelah sudah hampir dekat ia di buat terkejut. Ternyata benar apa yang dilihatnya tadi bahwa ia tidak salah liat dan kenal orang. Seketika rahang nya mengeras melihat pemandangan di depannya yang memperlihatkan satu wanita yang sedikit linglung namun masih sadar. Ia paling tidak suka melihat seorang wanita minum-minum.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHE IS MINE (On-Going)
Sonstiges"Membuatmu mencintaiku adalah suatu keharusan yang terwujud." _Ardiaz Fayruz. "Membuatku mencintaimu adalah suatu tantangan." _Aira Lee Start: 20/7/23 End: -
