Setelah Aira pulang dengan diantar mang Uus, supir pribadi keluarga Fayruz. Laura membawa Ardiaz kembali masuk ke dalam, dirinya ingin bertanya soal ungkapan perasaan nya tadi.
"Kamu yakin sama keputusan kamu bang?" Laura bukan tidak setuju, dirinya hanya ingin kembali memastikan itu beneran perasaan cinta atau hanya sekedar mengagumi.
"Ardi serius Bun. Ardi udah lama memperhatikan Aira, walaupun dari jauh." Ucapnya berharap bundanya percaya.
"Baik, bunda percaya sama kamu. Tapi bunda khawatir dengan Aira, dia seperti tidak senang waktu kamu menyebut dirinya sebagai calon menantu bunda." Ungkapnya yang sedari tadi ia tahan.
"Ardi tau Bun. Pasti Aira kaget, tapi Ardi percaya Aira bakal terima perasaan Ardi walaupun Ardi harus menunggu lama." Jawabnya dengan suara yang terdengar sedih oleh Laura.
Laura mengelus lembut pundak putranya memberi kekuatan. Lalu tersenyum menenangkan Ardiaz.
"Semangat sayang, bunda yakin Aira bakal terima niat baik kamu." Ucap Laura masih mengelus pundak Ardiaz.
"Makasih bunda." Ardiaz memeluk bundanya.
🐰
Di dalam mobil, lebih tepatnya di kursi penumpang belakang terdapat seorang gadis yang sedang melamun. Bahkan Mang Uus yang menjadi supir sudah berulang kali menanyakan alamat gadis tersebut tapi tetap tidak ada respon.
"Non! Ini dimana teh alamat rumah nya?" Tanya mang Uus sekali lagi dengan suara sedikit keras agar sang empu sadar dari lamunannya.
Kembali tidak ada tak ada jawaban mang Uus yang sudah kesal pun mengerem mobil dengan mendadak sehingga membuat gadis di belakang jidatnya terantuk kursi depan.
"Awshh." Ringisnya memegang jidat. "Mang sengaja ya mau buat Aira celaka?" Kesal gadis itu yang tak lain adalah Aira.
Mang Uus yang menjadi pelaku hanya menyengir tanpa rasa berdosa.
"Habisnya non di tanyain gak jawab, ya saya kesel makanya saya berhenti mendadak." Beritahu mang Uus.
"Maaf ya mang, Aira ga dengar mang Uus." Sesal Aira meminta maaf.
"Gapapa non. Saya juga minta maaf sudah buat jidat non terantuk." Akhirnya mang Uus minta maaf.
"Gapapa juga mang." Aira tersenyum.
"Nah sekarang mang ulangi pertanyaan mang tadi. Di mana alamat rumah non Aira? Mang dari tadi bingung sendiri mau belok kemana." Curhatnya yang sedari tadi hanya tak tau alamat Aira. Bukan gak tau, tapi mang Uus lupa. Tadi sebelum mengantar Aira meninggalkan kediaman Fayruz, Ardiaz sudah memberi tahu alamat rumah Aira pada mang Uus tapi yang namanya umur sudah tak muda pasti lupa jadilah seperti sekarang.
"Mang gak tau atau lupa?" Goda Aira.
"Hehe... Maaf non, maklum mang udah tua." Jujurnya malu.
Melihat mang Uus yang malu membuat Aira tertawa. Padahal tadi mood nya sedang kacau, tapi sedikit terobati berkat mang Uus.
"Rumah aku di jalan Cempaka Putih mang." Jawab Aira masih dengan sisa tertawanya.
"Oke siap non. Mang gas ke jalan Cempaka Putih." Hormat mang Uus sambil mulai menjalankan mobil. Aira hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan supir rumah keluarga Fayruz itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHE IS MINE (On-Going)
Diversos"Membuatmu mencintaiku adalah suatu keharusan yang terwujud." _Ardiaz Fayruz. "Membuatku mencintaimu adalah suatu tantangan." _Aira Lee Start: 20/7/23 End: -
