JANGAN LUPA BUAT TlANDAIN SETIAP PARAGRAF 🗨 DAN JANGAN LUPA BUAT VOTE!
[CHAPTER 30 : Hari Yang Tak Terlupakan]
"ingin kesana, hem? " tanya aiden sambil menunjuk ke arah penjual mesin capit disana.
"iya, boleh?" jawab tasya bertanya sambil menatap ke aiden dengan tatapan memohon seperti anak kecil yang meminta permen ke ibunya.
"ya boleh lah" kata aiden yang gemas dengan tingkah tasya.
Mereka berdua akhirnya berjalan menuju penjual mesin capit itu.
Setelah sampai di penjual itu, aiden menukar uang 20 ribunya agar mendapatkan uang koin khusus untuk di masukan ke mesin capit. Selesai menukar uang, aiden menuju ke mesin capit dan memasukan koin tadi, aiden mengerakan capitan dan ah.. Cobaan pertama gagal sampai koin milik aiden tinggal 5.
"coba aku aja" ucap tasya sambil memasukan koin lagi. Berfokus ke penjepitnya, lagi dan lagi mereka tidak bisa mendapatkan satu boneka saja "al gak bisa" lanjut tasya sambil menunjukan wajah sedihnya.
Aiden yang melihat wajah tasya langsung memasukan koinnya lagi untuk mencobanya lagi.
Gagal..
Gagal...
Gagal..
Sekarang hanya tersisa satu koin saja. Aiden memasukan koin terakhirnya dan menggerakkan pecapitnya dengan hati hati, setelah mendekat dengan boneka yang diiginkan tasya, aiden langsung mengangkatnya. Dan kali ini percobaan terakhir membuahkan hasil.
"yeyy, berhasil" ucap tasya kegirangan.
"nih buat kamu" sahut aiden sambil memberikan bonekanya tadi.
"makasih"
"iya sama sama"
Setelah mendapatkan satu boneka, mereka pergi untuk berkeliling menemukan hal yang baru. Mereka berhenti ketika tasya meminta permen kapas di depan mereka. Aiden langsung membelikan permen kapas itu untuk gadis tercintanya ini.
"bang beli permen kapasnya satu" ucap aiden dan penjual permen kapas itu memberikan satu permen kapas yang berwarna putih "ini uangnya" lanjutnya sambil memberikan uang kepada penjual permen kapas.
Setelah mendapatkan permen kapas, aiden mengajak tasya untuk duduk di kursi bawah pohon itu. Tasya yang sudah mendapatkan permen kapas itu langsung memakannya.
"al mau?" tanya tasya sambil mendorong permen kapas itu mendekat ke arah mulut tasya.
"kamu makan aja" jawab aiden mengelus pucuk kepala tasya.
"kan kamu yang beli, harusnya kamu juga cicipi dong, manis banget lo"
Tak mau membuat tasya sedih, ia langsung mencicipi permen kapas itu, walaupun sedikit.
"manis" ucap aiden sambil melihat ke arah tasya.
"kan benar, ini manis banget" sahut tasya.
"tapi masih manis kamu" goda aiden membuat tasya diam karena malu, bahkan pipinya sudah memerah.
"gombal" sahut tasya sambil mencubit lengan aiden.
"kata siapa hem? Kan emang kamu manis"
Tasya langsung mengalihkan pandangannya menuju ke arah lain agar aiden tak bisa melihat wajahnya yang sudah memerah.
"jangan ngomong kayak gitu, malu tahu"
"biarin"
Sedari tadi mereka masih duduk di tempat itu, tiba tiba saja seorang lelaki seumuran tasya sedang berjalan menghampiri mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
AIDEN ALEXANDER
Fiksi Remaja|| 𝕊𝕖𝕝𝕖𝕤𝕒𝕚 Aiden Alexander, pemimpin "Lion", dikenal dengan tatapan tajam dan aura yang mengintimidasi. Jalanan adalah dunianya, dan tawuran adalah kebiasaan . Namun, di balik topeng tajamnya, Ia jatuh cinta pada seorang gadis, seorang yang i...
