Ragandra mengeryit ketika mendapati sebuah mobil asing berhenti di depan gerbang rumah nya
Duda sembilan anak yang sedang menyirami tanaman terus memperhatikan ke arah mobil disana
Gibran memberhentikan mobil nya di depan gerbang kediaman Raganandra sekeluarga
"M-makasih" Ucap Jihana tanpa menatap Gibran
"Hm" Pemuda itu hanya berdehem
Kemudian Jihana turun. Ragandra semakin mengeryit kala seorang putrinya turun dari mobil asing tersebut
Di susul seorang pemuda tinggi yang juga turun dari mobil tersebut
Merasa mobil nya di perhatikan oleh sang tuan besar rumah tersebut lantas Gibran memutuskan untuk turun mungkin menyapa sejenak sembari menjelaskan agar tak terjadi kesalah pahaman
Jihana tercengo kesekian kali nya saat Gibran turut turun dan berjalan di sebelah nya dan Ragandra menatap keduanya intens terutama pada Gibran
Sesampai nya di depan Ragandra, Jihana menyalimi tangan ayah nya begitu juga Gibran yang ikut salim
Ragandra menatap sang anak tetangga itu tajam menghunus seakan mata elang yang siap siaga
Jihana merasa tidak enak dengan tatapan yang di lontarkan sang ayah lantas dia mencoba untuk menjelaskan takut takut juga nanti kayak cowo cowo yang sebelum nya dateng ke rumah meski Ayahnya juga pasti sudah tahu sosok Gibran ini tetangganya tapi tidak memungkinkan jika Gibran akan lolos dari tekanan sang Ayah
"A-yah Jihan bisa---"
"Masuk" Ucap dingin sang Ayah
Jihana pun berdehem kemudian menoleh sejenak menatap Gibran yang masih berekspresi datar seperti biasanya, gadis itu melangkah ke dalam rumah dengan langkah canggung mengikuti perkataan sang Ayah
Ragandra menatap Gibran dari atas sampai bawah menyelidik
"Maaf om saya----"
"Punya hubungan apa kamu sama Jihana?" Tanya Ragan tajam memotong ucapan Gibran yang belum selesai
Gibran menggaruk tengkuknya canggung "Eung... maaf sepertinya om salah paham, saya hanya memberikan Jihana tumpangan, tidak lebih"
"Yakin hanya memberikan tumpangan?"
Gibran mengangguk "Tadi kebetulan Jihana kesulitan mencari transportasi umum jadi sekalian saja ikut di mobil saya"
Ragandra mengangguk "Yasudah kalau begitu"
Gibran mengangguk kemudian menyalimi tangan Ragan kembali "Saya pamit om"
"Hm. Terimakasih"
Jihana menatap pemuda itu yang berjalan berbalik memunggungi rumah nya. Dia menghela nafas...
"HAYOLOH YANG KETAHUAN AYAH!" Jihana tersentak saat Joanna mengejutkan nya dari belakang
"Bangke, kaget gue"
"Cieee yang pulang satu mobil sama doi"
Jihana menghela nafas kemudian melirik sinis Jo lalu melewati nya gitu aja
"Eh kak, serius lo mau move on dari Gibran? Bukan nya bagus ada perkembangan nih?" Joanna membuntuti Jihana
"Gue rasa, gue emang nggak cocok sama Gibran"
"Kok lo bisa mikir gitu?"
"Gak tau kenapa rasa nya aneh aja kalo perasaan gue terbalaskan"
"Kok aneh? Bagus lah"
Jihana menggeleng "Enggak Jo, jantung gue yang gak bagus"
Joanna memutar bola matanya malas "Yaelah itu tanda nya lo udah cinta setengah mati sama Gibran"
KAMU SEDANG MEMBACA
nine girls: RAGANANDRA
FanfictionIni tentang kisah keseharian sebuah keluarga yang membuat iri seluruh kaum pribumi. Seorang ayah dan kesembilan putrinya Mereka merupakan sosok gadis hutan berkedok bidadari "JIHAAANNNA LO NGAPAIN DI ATAS GENTENG ASTAGA TURUN GAK!!" "KAK GHEA!! ALY...
