Prolog.

5.5K 264 124
                                        


***




***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Kelak, rasa dendam itu tak akan pernah memudar sedikitpun.

Tak akan pernah terkikis. Bahkan oleh waktu sekalipun.



Dia. Dia yang datang dalam hidupmu. Yang datang layaknya Pangeran dalam cerita-cerita dongeng milikmu, membangunkan jiwa tak berdaya milikmu dari setitik mimpi buruk kini telah meninggalkan bayang-bayang miliknya dari dunia.

Meninggalkan dunia yang kerap mereka panggil dengan Masa Lalu.

Dia yang hadir dalam tiap sajak. Tiap waktu, tiap detik. Yang tak perlu bicara untuk mengerti. Yang selalu ada, hadir tanpa syarat.

Tak ada ucapan selamat tinggal. Tak pernah terdengar sayup-sayup pesan mereka yang memekakkan telinga. Tak juga ada bisikan "Kelak, jika aku mati suatu hari nanti ..." yang akan mengikis tiap bagian gendang telinga hingga habis tak tersisa.

Seakan dunia sekalipun enggan untuk membiarkan dirinya merasakan eksistensi mereka untuk sekali saja.

Hanya sebuah angan-angan yang akan terus menjadi bayang-bayangan kabur semata, katanya.

Mimpi buruk yang KATANYA hanyalah sebuah mimpi buruk tiada arti.

Dan di saat semua itu menggoroti jiwanya, kan hadir sosok yang akan 'ada' tiap seutas mimpi buruk itu menitikkan pesonanya.

Dengan sebuah tepukan halus mendarat di kepala seakan mengatakan, "Tak apa. Aku disini. Tidurlah."



Api menyulut. Menyambut satu sama lain. Angin yang dulunya berhembus menerpa wajahnya. Yang membuat rambutnya bergelombang di udara kini berhembus untuk memberikan dukungan semangat kepada si jagoan merah.

Tiap kepingan memori ikut perlahan terbakar oleh api. Menyisakan percikan api yang akan menjadi awal dari kepingan memori baru.

Dua kaki jenjang miliknya tak kuat lagi untuk menopang tubuhnya. Membiarkan dirinya jatuh.

Tubuh tanpa jiwa tergeletak di tengah-tengah kobaran api. Terbaring tak berdaya. Seakan sengaja. Sengaja mereka pajang untuk kiasan utama. Menjadi tema dari ukiran seni yang begitu indah hingga terlalu sulit untuk dilupakan.

Tangan yang dulunya pernah menepuk-nepuk pelan kepalanya kini mencuat dari puing-puing setengah hangus. Tanpa ragu ia raih. Ia genggam.

Rasa hangat itu hilang. Rasa aman, rasa sayang yang perlahan terkubur dalam perut bumi.

Kini, hanya ada rasa dingin yang menusuk kulit. Menjadi satu-satunya hal yang menyadarkan dirinya bahwa dia ... mereka kini tak lagi bersamanya.

Alasan tuk hidup telah redup. Membiarkan waktu menelan semuanya.

Lalu, dalam diamnya, satu alasan untuk hidup baru saja terukir dalam benak. Mengukir awal dari segalanya.

Kobaran api yang tak berhentinya meraup segalanya pada hari itu menjadi saksi. Begitu juga dengan langit yang memperhatikan.

Memperhatikan, menonton bagiamana sebuah janji-sumpah-terikat pada satu jiwa yang telah kehilangan rumah untuk dirinya berpulang.


***





***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Rumah. Bukan hanya sekedar bangunan untuk berteduh.

Terkadang, mereka yang selalu ada dalam tiap hadirmu juga bisa kau sebut sebagai rumah. Tempat dimana tak perlu takut untuk berbicara.

Tak perlu takut untuk mengekspresikan segalanya. Menemukan kenyamanan, kehangatan pada seunggut jiwa.

Angin menerpa. Lembut. Membelai wajahnya. Seakan tengah menyeka air matanya. Dalam sunyinya malam dan deru ombak yang mengaung, angin kembali berhembus. Membawa sebuah suara.









"Tak apa. Aku disini."









.








.








.









"Gangler. Lupin Black kerap ikut andil. Kan ku berikan titik koordinat-nya padamu."





























"Lupin Black, ya?"







.







.









.










.






















Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


















┆𝗟𝗨𝗣𝗜𝗡𝗥𝗔𝗡𝗚𝗘𝗥 𝗩𝗦 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗔𝗡𝗚𝗘𝗥: 𝗟𝗨𝗣𝗜𝗡 𝗕𝗟𝗔𝗖𝗞Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang