Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Duduk diam di tepian jendela kamar pada malam hari merupakan kebiasaan baginya.
Dirinya merenung, mendongak menatap bulan dengan mata lelah nan mengantuk miliknya itu.
Bintang-bintang pada langit malam layaknya penerang pada gelapnya malam. Layaknya warna-warni pada permukaan kanvas.
Lima ratus tahun.
Kata-kata itu terbesit dalam benak, mengingat kembali kenangan-kenangan lama.
Suara-suara mereka begitu jelas, tapi tidak dengan wajah mereka. Mereka terbayang dalam benak, memutar kembali kenangan-kenangan lama layaknya radio rusak.
Angin malam berhembus, membuatnya sedikit bergidik menggelitik karena dinginnya angin berhembus.
Kakinya dengan perlahan turun, menyentuh permukaan lantai apartemen tempat ia tinggal. Dengan malas ia melangkah menuju kasurnya, menjatuhkan diri ke permukaan kasur lembut nan hangat itu.
* * *
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kaki jenjangnya sesekali mendorong pelan ayunan yang ia duduki.
Hari semakin gelap, udara semakin dingin dan kota Tokyo kini sunyi.
Helaan napas panjang ia keluarkan. Dirinya tak bisa tidur. Daripada melongo memperhatikan atap apartemen, lebih baik keluar cari angin di luar, kan?
Kapan ... Kapan ini akan berakhir..?
Kepalanya menoleh ke arah ayunan yang seharusnya kosong di sebelahnya. Dan, hal pertama yang ia lihat adalah seseorang—laki-laki—dengan ekspresi khawatir melihat dirinya.