Danira keluar gerbang. Matanya memindai kiri kanan mencari supirnya. Namun, mata Danira membulat melihat seseorang yang ada di halte sana. Baru saja gadis itu akan berlari menemuinya, pemuda berseragam sama sepertinya itu naik angkutan umum. Buru-buru Danira masuk mobilnya dan meminta sang supir mengikuti angkutan tersebut.
"Pokoknya ikutin aja angkot itu, Pak," pinta Danira setelah supirnya bertanya ada apa. Mata Danira terus mengawasi angkutan umum yang ada di depan sana. Kali ini tidak boleh kehilangan jejak, gumamnya.
Angkutan umum berhenti di sebuah halte dan seorang siswa turun, lalu menyebrang terburu-buru. Danira meminta supirnya berhenti, lalu berlari mengikuti siswa yang tadi. Gadis itu mangabaikan teriakan sang supir. Matanya fokus mengawasi punggung siswa yang dikejarnya.
"Hei, tunggu!" teriak Danira yang makin mempercepat langkahnya. Namun, orang yang dipanggil tidak mendengar malah melangkah makin cepat. Siswa itu masuk ke sebuah restoran, Danira ikut masuk restoran tersebut.
"Tunggu!" teriak Danira lagi, setelah jarak mereka sudah dekat.
Pemuda itu masih mengenal intonasi suara tersebut, persis dengan suara beberapa minggu lalu, pemuda yang masih berseragam sekolah itu langsung berhenti dan berbalik.
Di hadapannya seorang gadis berambut sepunggung sedang mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Pria itu langsung tahu, bahwa gadis itu baru saja berlari.
"Ngapain kamu di sini?" tanyanya dingin.
"Aku ngikutin kamu," balasnya jujur.
"Ngikutin saya?" tanya pria itu lagi yang dibalas anggukkan seraya senyum manis.
"Kenapa?" lanjutnya sambil memperhatikan Danira yang mengusap keringat dengan punggung tangan.
"Em ...," Danira tersenyum kiku dan diam sejenak. Kemudian segera tersadar dan langsung mengulurkan tangan. "Aku Danira." Pria itu tidak merespon dengan kata apa pun, hanya melirik sebentar tangan gadis itu lalu beralih menatap wajah Danira datar. Danira yang merasa diabaikan, melirik bet nama yang ada di dada kanan pemuda itu.
"Oh, namamu Gafa? Nama yang bagus," komentar Danira berbasa-basi.
"Saya permisi." Gafa langsung pergi sebelum Danira berkata apa-apa. Gadis itu melongo dan memutar badan melihat punggung pria dingin itu menghilang di balik tembok.
Ponsel Danira berdering, dia langsung mengambil benda pipih miliknya dari tas, ibu jarinya menggeser tombol hijau.
"Iya, Pak. Tunggu sebentar." Ternyata sang supir sudah ada di luar sedang menunggu. Danira kembali melihat ke arah di mana Gafa tadi pergi dan seketika pria itu muncul dari balik tembok dengan seragam yang sama dengan pelayan restoran di tempat itu, Gafa berlalu ke arah lain tanpa memperhatikan Danira. Danira diam, sejenak pikirannya mencoba mencerna dari apa yang dilihatnya. Hingga gadis itu mengerti bahwa Gafa bekerja di restoran tersebut.
"Mbak, minta kertasnya dong," pinta Danira pada resepsionis restoran tersebut. Mbak itu mengulurkan secarik kertas dan pulpen. Dengan cepat Danira menulis sesuatu.
"Mbak, kasih sama cowok cuek yang bernama Gafa, ya." Mbak resepsionis itu tersenyum tipis lalu mengangguk.
Danira keluar restoran dan langsung pulang.
"Gafa," bisik Danira. "Heem, akhirnya aku tau juga namanya setelah berminggu-minggu," sambung Danira saat perjalanan pulang.
"Gafa, sini sebentar." panggil Mbak resepsionis dengan senyum-senyum, membuat Gafa bertanya-tanya.
"Iya, Mbak."
Mbak resepsionis mengulurkan sebuah kertas ke padanya.
"Dari cawek tadi." Kebetulan resepsionis itu sempat memperhatikan drama kedua anak berseragam sekolah tadi. Gafa mengambil kertas tersebut dengan ekspresi datar.
"Ih ih ih, muka kok datar gitu, bukannya seneng dapat surat dari cewek cantik juga." Gafa hanya tersenyum tipis mendengar ledekan itu.
"Ya udah, ya, Mbak. Aku lanjut lagi," pamit Gafa dengan membawa kertas tadi.
**
Dengan langkah tergesa Danira pergi ke perpustakaan, dia sangat senang, pasalnya dia akan bertemu Gafa. Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, meski hanya itu satu-satunya yang dia ketahui tentang siswa itu. Sekadar nama, tapi mampu membuat hatinya bahagia.
Danira membuka bolak-balik lembaran buku yang ada di depannya tanpa dibaca. Matanya tidak pernah beralih dari pintu perpustakaan. Sudah dua hari gadis itu melakukan hal yang sama di tempat yang sama. Berharap hari ini Gafa menemuinya, setelah kemarin dibuat menunggu tanpa kedatangan.
Danira yakin Gafa akan datang hari ini. Namun, bel jam istirahat berbunyi, pria itu belum juga datang. Kecewa? Tentu saja, sudah dua hari berlalu setelah menuliskan pesan untuk pria itu. Danira menarik napas pelan dan mengembuskan kasar.
Sudah beberapa kali Gafa membuka kertas berisi tulisan siswi idola satu sekolah itu, membaca lalu meremasnya kembali. Kertas itu sudah sedikit sobek, setelah dibaca lalu diremas selama dua hari di setiap jam istirahat. Gafa memutuskan tidak menemui Danira, melempar kasar kertas itu kembali dalam tasnya. Lalu, pria itu mengeluarkan dua buku dan pulpen. Gafa mengerjakan PR-nya, agar malam nanti bisa langsung istirahat ketika pulang kerja.
Danira melihat halte yang berjarak sekitar kurang lebih seratus meter dari sekolahnya, berdiri sekitar lima belas menit, tetapi orang yang diharapkannya berada di sana tidak terlihat sama sekali.
Gadis bermata sedikit bulat itu memutuskan mengunjungi restoran tempat Gafa bekerja paruh waktu.
"Beneran, nggak masuk?" tanya Danira pada Mbak resepsionis, setelah Mbak itu mengatakan bahwa Gafa tidak masuk kerja hari ini.
"Aku boleh liat ke dalam?" kekeh gadis itu.
"Nggak boleh, Dek. Nggak sembarang orang yang boleh masuk ke sana. Mbak nggak bohong, Gafa sudah izin."
"Biar kutungguin aja, Mbak." Danira langsung berjalan menuju meja paling pojok.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.15 dan Danira masih setia di tempat duduknya. Resepsionis yang prihatin melihat gadis cantik itu segera menelepon Gafa.
"Aarrrggh, cewek itu," geram Gafa di seberang sana.
"Suruh dia pulang, bilang aku nggak masuk," sambungnya lagi.
"Sudah, tapi dia tetap kekeh nungguin kamu." Gafa langsung mematikan sambungan telepon.
Gafa langsung masuk restoran setelah memarkirkan motor tetangga yang dia pinjam. Setelah mendapat telepon tadi, pria itu segera meminjam motor tetangganya dan langsung menuju restoran. Senyum manis Danira terbit ketika melihat Gafa. Danira berlari ke arah Gafa yang sedang berjalan ke arahnya.
"Keras kepala," cetus Gafa. Danira tidak peduli dengan perkataan Gafa, justru gadis itu menyungging senyum lebar.
"Hei. Kamu kenapa tidak datang? Aku udah nungguin kamu du---."
"Ngerjain PR," potong Gafa datar.
"Itu kan perkerjaan rumah, kenapa dikerjain di sekolah." Gafa hanya menatap gadis yang ada di hadapannya itu tanpa berniat menanggapi.
"Pulang sana!"
"Aku mau bicara sama kamu."
"Saya harus pergi." Pria berkaos oblong itu berputar arah meninggalkan Danira.
"Sebentar," Danira berlari menghalangi jalan Gafa.
"Boleh aku tau kamu kelas berapa?" Gafa tidak peduli dengan pertanyaan Danira, pria itu abai dan pergi begitu saja. Lagi-lagi Danira berlari keluar restoran mengikuti Gafa. Namun, pemuda itu sudah pergi dengan motor yang dikendarainya. Danira menatap jauh punggung pemuda yang telah membuatnya seperti orang kurang waras sekarang.
"Masih ada hari esok," gumamnya.
"Ayok kita pulang, Pak!" ajaknya pada supir yang dari tadi setia menungguinya. Danira sudah memberi tahu mamanya bahwa akan pulang malam meski mamanya ragu, tapi gadisnya itu berhasil meyakinkan.
___
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
RomanceKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
