Rapat sudah berjalan hampir empat jam lamanya. Tema, waktu dan tempat serta pembagian panitia telah disepakati bersama. Di tangan sang sekertaris sudah ada catatan hasil rapat yang akan dibacakan kembali oleh ketua osis.
Setelah hasil rapat dibacakan, rapat ditutup.
Ketua osis memberi tahu sekertaris agar segera menyelesaikan proposalnya.
**
Di meja makan sudah lengkap menu kesukaan Danira dan Papanya. Malam ini Danira dengan binar bahagia terpancar di mata bulatnya karena bisa makan malam kembali dengan lelaki cinta pertamanya itu. Keluarga kecil itu makan dengan khidmat, tidak ada suara selain denting sendok saling beradu dengan piring. Setelah makan malam selesai mereka berkumpul di ruang keluarga untuk menonton bersama.
"Pa, Danira boleh minta jatah uang jajan satu bulan ke depan nggak?"
"Buat apa, Sayang?"
"Em ... Maksud Danira, emm mau ngambil separuhnya lebih dulu," ucap gadis itu tersenyum tipis.
"Ada apa? Tumben anak papa minta uang gini."
"Itu Pa, di OSIS lagi ada kegiatan berbagi berjamaah di panti asuhan, kami lagi penggalangan dana. Danira mau make separuh uang jajan Danira."
"Oke, nanti Papa kasih."
Danira yang sudah mengantuk lebih dulu pamit tidur kepada kedua orang tuanya.
***
Saat jam istirahat Danira pergi ke ruang OSIS, sudah ada sekertaris dan bendahara. Danira langsung menyodorkan sebuah amplop kepada bendara.
"Widih dah dapet aja nih. Dari siapa?" tanya bendahara sambil mengeluarkan buku catatan kas khusus kegiatan kali ini.
"Nggak usah kepo. Yang penting kan uangnya."
Kedua pengurus inti itu tertawa bersama mendengar ucapan Danira.
Danira menanyakan proposal kepada sekertaris apakah sudah selesai atau belum, sang sekertaris mengacungkan jempol pertanda semua telah beres di tangannya lalu menepuk tumpukan proposal yang sudah tersusun rapi di meja.
"Udah ditandatanganin kepsek, pembina, dan ketua osis?"
"Udah dong, tinggal jalan, Cuy."
Danira mengangkat tangan kanan yang mengepal mengarah ke sekertaris osis, sang sekertaris menyambut dengan adu kepalan, selayaknya orang salam tos. Kemudian Danira membuka proposal bagian atas untuk melihat isinya.
"Aku minta satu proposal untuk peganganku, ya." Danira mengambil satu proposal untuk dia bawa ke mana-mana.
"Mau ke mana, aku kan baru dateng?" tanya ketua osis pada Danira yang baru saja masuk.
"Aku mau ke kantin dulu. Sekalian ...," ujar Danira menunjuk proposal di tangannya.
"Sama Bu kantin?"
Danira mengangguk, "Berbagi rezeki itu tidak melihat soal siapa, kalau dia mau dan mampu kenapa tidak?" Gadis itu tersenyum sambil berlalu.
Sesampai di kantin Danira langsung menuju seseorang yang baru saja akan ke dapur kantin setelah membawakan pesanan siswa. Danira menjelaskan secara singkat soal kegiatan yang akan diadakan osis seraya memperlihatkan proposalnya. Penjaga kantin tersebut mengerti dan memberikan sebuah amplop kepada Danira. Gadis itu menulis nama pada amplop tersebut. Biar bendahara yang beresin, pikir Danira.
Danira yang sedang memilih meja di kantin tiba-tiba melihat Ranu duduk di dekat pintu kantin, dan ia pun menghampirinya.
"Apaan itu?" tanya Ranu ketika Danira meletakkan proposal di meja.
"Lagi mau ada kegiatan. Kita cuma punya waktu empat hari buat ngumpulin dana." Danira membuka proposal memperlihatkan pada temannya. Ranu membaca sekilas proposal tersebut.
"Hem, menarik juga," komentar Ranu. "Besok ke kantor papaku, yuk. Hari ini soalnya aku ada janji sama teman."
"Ngapain?"
Pria yang ditanya itu hanya mengetuk-ngetuk proposal milik Danira. Seketika gadis itu mengerti maksud temannya. Mata gadis itu berbinar seperti menemukan sebongkah berlian dari Bang Toyib.
**
Hari ini Danira bersiap-siap lebih pagi. Gadis itu melihat papanya sudah siap dengan pakaian kantor dan siap untuk berangkat. Danira segera berlari ke pintu keluar menunggu lelaki yang selalu terlihat ramah itu persis dengan Danira.
"Pa, boleh nitip proposal nggak, di kantor papa?" tanya Danira tersenyum memamerkan giginya. Dengan senang hati papanya menerima proposal tersebut kemudian pamit.
"Besok Danira ambil ke kantor papa, ya!" teriak gadis itu yang dijawab anggukan.
Jam istirahat kali ini panitia inti kembali rapat melaporkan apa saja yang telah siap dan apa yang belum serta kendala dari urusan mereka.
Yang paling dibutuhkan dan mendominasi dalam kegiatan ini adalah dana. Untuk persiapan lainnya tidak ada yang berat-berat.
Salah satu di antara mereka mengusulkan untuk menitipkan proposal di setiap wali kelas. Barang kali ada siswa yang ingin berpartisipasi.
"Em, nggak deh, takut membebani siswa dan mereka merasa wajib ikut berpartisiapasi." Menurut Danira dan beberapa di antaranya membenarkan.
Kemudian ketua osis mengusulkan untuk membuat kotak amal lalu diletakkan di depan pintu kantin. Alternatif paling sederhana dan ternyata semua setuju. Beberapa anggota ditugaskan untuk melaksanakan ide tadi. Ada juga yang diberi tanggung jawab memasukkan proposal di kantor guru.
Hari ini, sesuai Rencana kemarin, Danira sudah menunggu Ranu di depan kelasnya untuk pergi ke kantor papa Ranu. Guru di kelas temannya itu masih menyampaikan beberapa wejangan. Setelah guru tersebut pergi, Ranu bergegas keluar karena melihat Danira sudah menunggu. Kedua anak berseragam sekolah itu melaju membelah jalanan dengan kendaraan roda dua Ranu.
Ranu langsung menuju resepsionis kantor tersebut kemudian pergi ke ruangan papanya dan Danira terus mengikuti langkah temannya itu dengan sangat bersemangat.
Setelah mengetuk pintu, suara dari dalam mempersilahkan masuk. Lelaki paru baya yang masih terlihat gagah itu sedikit terkejut melihat anaknya berada di kantornya, masalahnya Ranu tidak mengatakan apa-apa sebelumnya, dan kini ia tiba-tiba datang.
"Hai, papaku yang gagah," sapa Ranu menyalami papanya dan diikuti Danira.
"Ranu, tumben? Ada apa?" tanya papa Ranu heran.
"Nganterin Danira, katanya ada perlu sama papa," jawab Ranu yang melanggang menuju sofa ruangan tersebut sedangkan Danira masih berdiri di depan papa temannya yang juga masih berdiri setelah menyalami dua anak berseragam SMA itu.
"Duduk, Danira." Lelaki yang sedikit gemuk itu mempersilahkan Danira duduk lalu menanyakan maksud gadis itu. Tanpa basa-basi Danira menjelaskan kedatangannya sambil menyerahkan proposal itu kepada lelaki di hadapannya. Lelaki itu mengangguk-angguk mengerti.
"Kegiatan yang sangat positif, bagus Danira. Sebentar, ya." Papa Ranu menelepon sesorang dan memintanya datang keruangan tersebut sambil menulis sesutu pada sebuah kertas. Tak lama kemudian datang seorang perempuan berpenampilan rapi yang kemudian membawa pergi proposal yang dibawa Danira. Ranu dan Danira saling berpandangan senang saraya bersorak dalam hati masing-masing.
Setelah menunggu setengah jam perempuan tadi telah kembali membawa proposal tadi. Papa Danira memanggil gadis itu yang sedang duduk di sofa. Papa Ranu membiarkan mereka menunggu karena sekertarisnya akan mengurus segalanya dan segera selesai.
Sebuah amplop kini dipegang erat oleh Danira dengan perasaan senang.
Ranu dan Danira pamit pulang karena sudah mulai sore. Keduanya menyalami kembali lelaki paru baya itu.
"Langsung antar pulang Daniranya, ya, Ranu kalau udah nggak ada urusan," pesan papa Ranu saat mereka akan keluar ruangan tersebut.
"Masih ada urusan?" tanya Ranu setelah mereka tiba di tempat parkir.
"Udah nggak ada. Langsung pulang, yuk." Gadis itu menggeleng dan melihat jam tangannya. Kemudian segera naik di boncengan Ranu. Ranu melanjukan motornya pelan menuju rumah Danira.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
RomanceKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
