Kantor

32 27 0
                                        

Kali ini Gafa memasuki gerbang sekolah  sesekali memindai sekeliling. Pria itu berjalan menuju kelasnya dengan langkah pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya. Saat akan masuk kelas siswa itu sekali lagi mengalihkan pandangan ke beberapa tempat.

Setelah meletakkan tas, Gafa duduk memegang tasnya dengan menumpu kedua lengan di meja. Siswa itu melamun sejenak kemudian setelah tersadar dia mengambil sebuah buku dalam tas lalu membacanya.

Sudah empat hari Danira sibuk dengan segala persiapan kegiatannya tersebut. Bahkan Danira sendiri ikut serta dalam penggalangan dana. Gadis itu memamg tidak terbiasa berpangku tangan lalu memerintah. Dia lebih suka bergerak bersama.

Tempat yang akan dituju Danira adalah kantor papanya sendiri. Berhubung kemarin gadis itu mendatangin tempat lain, barulah hari ini dia sempat mendatangi kantor sang papa. Namun, sebelumnya Danira akan ikut bersama teman-temannya ke pasar yang letaknya sekitar satu kilometer dari sekolah terlebih dahulu. Sebab, pasar tersebut akan tutup sebelum petang.

Mereka berpencar dari toko ke toko lainnya. Sebelumnya mereka membagi beberapa kelompok. Ada yang dua orang dan ada tiga orang. Danira bersama satu cewek dan satu cowok. Ketiga siswa-siswi itu memasuki toko satu per satu. Ketika memasuki toko ke enam baru saja mereka di depan pintu mereka sudah diamuk dan diusir pemilik toko. Maklum emak-emak kadang tidak paham, kata mereka bersamaan lalu tertawa sambil menuju toko selanjutnya.

Danira yang merasa lelah duduk sejenak di kursi depan toko sedangkan dua temannya masuk ke dalam.

"Danira, ibu di dalam maunya ngasih, dua pasang baju anak umuran sembilan tahun," ucap seorang siswa yang baru keluar dari toko.

"Haa?" Mata Danira berbinar mendengar penuturan barusan.

"Bagus dong. Angkut!" pinta Danira semangat.

"Apa pun itu selama bisa bermanfaat buat anak-anak di sana ambil aja. Asal bukan bekas sempak aja, sih," lanjut Danira saat masuk menemui pemilik toko.

"Bu, terima kasih, ya, semoga berkah, dilimpahkan rejekinya," ucap Danira tulus.

Kata-kata itu yang selalu diulang Danira saat akan keluar toko.

Hari sudah sore mereka sudah berkumpul kembali kemudian pulang di rumah masing-masing. Sedangkan Danira menuju kantor papanya.

Danira dalam perjalanan kantor papanya menggunakan taksi, Danira menatap padatnya jalanan di penuhi kendaraan. Saat melewati sebuah rumah makan, gadis itu seketika mengingat seseorang yang sudah empat hari tidak bertemu.
"Gafa apa kabar, ya?" gumam Danira."Mana nggak tau nomor hpnya lagi."

Lamunan Danira disadarkan oleh supir taksi yang telah berhenti di alamat yang dituju Danira. Gadis itu melihat gedung kantor yang ada di depannya kemudian tersenyum. Setelah membayar taksi Danira segera keluar dan berjalan cepat memasuki kantor tersebut. Dia langsung menuju meja resepsionis dan mengatakan akan bertemu papanya. Setelah resepsionis berbicara dalam telepon, Danira pun dipersilahkan masuk.

Seorang wanita cantik dan berpenampilan modis keluar dari ruangan papa Danira. Gadis itu tidak terlalu memperhatikan wanita tersebut dia hanya melihatnya keluar dari ruangan yang akan dituju saat ini.

Setelah mengetuk, Danira langsung masuk dan disambut peluk hangat papanya. Karena sudah tahu maksud kedatangan anaknya, Danira tidak perlu lagi menjelaskan apa-apa. Danira diajak pulang bersama papanya, tetapi gadis itu harus menunggu beberapa jam lagi. Danira yang merasa senang tidak keberatan jika harus menunggu. Sambil menunggu Danira melihat gawainya yang ternyata sudah banyak pesan masuk. Pesan grup whatsapp, ada yang menginformasikan ke mana saja mereka hari ini dan pengalaman-pengalaman lucu yang yang mereka rasakan. Danira pun menceritakan bagaimana dia dan kedua teman lainnya di amuk pada pemilik toko.
**

Hari terakhir untuk penggalangan dana. Dua hari lagi mereka akan masuk pada puncak kegiatan, yaitu mengunjungi panti.
Rencana setelah pulang sekolah telah matang. Mereka sepakat akan melakukan penggalangan dana di depan sekolah mereka kepada kendaraan yang lewat dan akan dikawal langsung pembina OSIS.

Semua anggota berkumpul di ruang OSIS, mereka kembali melaporkan perkembangan persiapan kegiatan. Setelah itu mereka menuju jalan raya depan sekolah dengan beberapa siswa menenteng kardus.

Danira menatap halte untuk beberapa saat mencari seseorang. "Mungkin Gafa udah pulang," gumamnya. Sudah lima hari Danira tidak bertemu siswa yang dianggap temannya itu. Ada rasa rindu di hati Danira, dia rindu menjahili pria dingin itu.

"Nyariin siapa?" tanya siswa yang tiba-tiba ada di samping Danira membuyarkan lamunan gadis itu.
"Dari tadi liatin halte mulu," lanjut sang ketua OSIS yang dari tadi memperhatikan Danira.

"Nggak. Nggak apa-apa. Apa yang bisa kukerjakan?" tanya Danira mengalihkan pembahasan kemudian kembali memperhatikan teman-temannya. Bergantian dengan siswa lain Danira ikut menenteng kardus dan berjalan ke arah pengendara yang berhasil dihentikan oleh anggota lain.

Matahari perlahan turun ke barat, senja akan segera bertandang. Pembina OSIS mengarahkan mereka agar berkumpul untuk bersiap-siap pulang. Sang pembina menanyakan apa-apa saja jadwal untuk besok yang langsung dipaparkan langsung oleh ketua osis. Setelah semua selesai mereka pun akhirnya pulang.

"Danira, mau aku anter?" tanya ketua OSIS, tetapi gadis itu menolak.

"Aku dijemput, supirku udah dijalan, kok," jawab Danira santai. Tak lama kemudian supir Danira datang, gadis itu  pamit lebih dulu untuk pulang.

Danira memasuki rumah dan mencari mamanya. Setelah mendapati wanita yang melahirkannya itu di dapur Danira ke kamarnya setelah menyapa mamanya sesaat.

Ketika makan malam Danira menanyakan papanya, ternyata lelaki itu sudah mengabari akan lembur lagi. Sambil makan mama Danira menanyakan ke mana saja anaknya itu pergi. Danira menceritakan yang dialaminya tadi siang hingga membuat wanita berkuncir itu tertawa terpingkal-pingkal. Pengalaman seru, katanya.

Gafa beberapa kali terlihat tidak fokus pada pekerjaannya. Pria itu sering melamun tiba-tiba. Tidak ada yang tahu ada apa dengan Gafa. Mbak resepsionis yang memperhatikan Gafa dari tadi memanggil pemuda itu.

"Apa kamu nggak enak badan, Gafa?" tanya Mbak tersebut sambil memperhatikan raut Gafa. Wanita itu memang perhatian kepada semua teman kerjanya.

Wajah pria itu terlihat baik-baik saja.
"Dari tadi diperhatiin kok kamu nggak semangat gitu?"

"Nggak apa-apa, kok, Mbak. Aku baik."

"Kalau kamu emang lagi nggak enak badan. Kamu pulang saja."

Gafa hanya menggeleng pelan kemudian berlalu.

"Apa ada hubungannya dengan Danira?"

Seketika langka Gafa terhenti mendengar nama gadis itu. Gafa menoleh lalu berkata, "Saya baik-baik aja, Mbak dan nggak ada hubungannya dengan dia."

"Beberapa hari ini Danira nggak keliatan, biasanya dia ngikutin kamu terus."

Gafa berlalu meninggalkan meja resepsionis karena mulai kesal dengan pertanyaan yang menyangkut gadis pengganggu itu.
**

Masih terlalu pagi, Danira sudah bertemu dengan orang yang selalu dihindari gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Dalvin. Siswa itu kini berada di kelas Danira dengan segala basa-basinya.
"Aku dengar-denger kamu lagi ada kegiatan penggalangan dana, ya."

Danira hanya mengangguk kecil.
"Aku mau ikut berpartisipasi. Ini!" ujar Dalvin sambil mengulurkan beberapa lembar uang berwarna biru.

"Aku lagi nggak bawa proposalnya, Dalvin. Kamu bisa langsung ke bendahara. Mungkin dia sedang ada di ruang osis."

"Nggak. Aku maunya sama kamu," ucap Dalvin tegas. Danira langsung mengambil uang tersebut lalu berkata, "Ya udah. Biar kubawain sekarang, ya. Aku lupaan soalnya." Danira langsung pergi dan meninggalkan siswa itu yang masih setia berdiri di depan meja Danira.

___

DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang