Setelah mengatakan kepada supir taksi agar menunggu Danira. Gadis itu membantu Gafa turun dari taksi, dari pintu rumah Gafa keluar wanita paru baya dengan terkejut dan segera mendekati Gafa menuntunnya masuk. Gafa langsung diantar ke kamarnya lalu membaringkan pria itu.
"Aku balik ke sekolah, ya." Setelah Danira melepas tas Gafa di punggungnya, gadis itu pamit kembali ke sekolah. Gafa yang masih lemah hanya bisa mengangguk.
"Danira." Suara lemah Gafa menghentikan Danira ketika sudah berada di ambang pintu kamar pria itu. Danira yang dipanggil pun berbalik ke arah pemilik suara.
"Makasih," ucap Gafa lirih dengan tatapan tulus. Danira mengangguk sambil menjawab, "sama-sama. Bye." Gadis itu melambaikan tangan yang dibalas anggukan oleh Gafa.
**
Ranu masuk di kelas Danira dan langsung berdiri di samping kursi temannya itu. Danira yang menatap kertas di tangannya tidak menyadari kehadiran Ranu. "Wish jelek banget tuh nilai," kelakar Ranu yang melihat angkah dalam lembaran di genggaman Danira.
Danira terkejut dengan kehadiran Ranu yang sudah berdiri di dekat kursinya.
"Ish apaan sih." Danira langsung menarik kertas itu menyembunyikannya di belakang punggung. Ranu tersenyum jahil menatap Danira. Mengetahui maksud jelek temannya, Danira menatap tajam Ranu. "Apaa! Mau ngadu?" tanya Danira kesal.
"Tumben nilainya dapet segitu. Ada apa?"
"Semalem tuh pas belajar aku ketiduran, malah bangunnya pas udah subuh."
"Makanya belajar tuh jang sambil rebahan. Ya udah ayuk ke kantin, kutraktir."
"Duluan aja, nanti aku nyusul."
"Di depan tangga, tadi ada Dalvin," ujar Ranu memberitahu yang memang tidak suka Danira dekat dengan cowok sombong itu.
"Ya udah tungguin, bareng aja." Danira yang mendengar nama cowok itu buru-buru memasukkan kertas ujiannya dalam tas.
"Buruan!" Danira berlari mengejar Ranu yang sudah lebih dulu pergi. Gadis itu segera menyejajarkan langkah di samping temannya itu dan Ranu langsung merangkul bahu Danira.
"Heh, harus gini, ya?"
"Diam aja, harusnya tuh kamu rangkul pinggangku. Biar cacingan tuh si cowo sok populer liatnya."
"Ish ogaaah."
"Cepetan jalannya, enggak tau dah kek mana jadinya kalo cewekku liat ini," pinta Ranu mempercepat langkahnya setelah melewati Dalvin di depan tangga dengan tatapan jengkel kepada Ranu.
"Kan tinggal jelasin."
"Hiih kek nggak tau aja gimana kalo cewek dah cemburu. Eh kamu kan nggak pernah ada cowok, ya, mana tau rasanya cemburu." Seketika Danira menyikut kuat pinggang Ranu lalu berjalan cepat meninggalkan temannya itu setelah merasa Dalvin sudah tidak melihat mereka.
Setelah dari kantin Danira melihat Gafa ke kelasnya saat jam istirahat, tetapi bangku Gafa kosong. Mungkin masih sakit, pikir Danira sambil meninggalkan kelas tersebut. Danira berniat mengunjungi Gafa setelah pulang sekolah nanti.
Gafa tertidur saat Danira datang. Danira menatap Gafa yang sedang pulas-pulasnya, seketika gadis itu tersenyum menyeringai, jiwa usil Danira merontah. Danira teringat, saat dijalan tadi dia membeli minuman dingin. Gadis itu mengambil minuman tersebut lalu menempelkan di pipi Gafa, Gafa terkejut dan langsung membuka mata merasakan sesuatu di pipinya.
"Kamu," ujar Gafa sambil mengucek kedua matanya. "Ngapain di sini?" tanya pria itu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Gangguin kamu."
"Kalau mau gangguin orang sakit. Sana pulang aja."
"Nggak mau."
"Apa hobimu emang gangguin orang?"
"Iyaaa," sahut Danira bangga sambil tersenyum manis. Gafa makin malas dibuatnya, pria itu segera memiringkan badan memunggungi Danira. Gadis itu terus memanggil nama pemuda di depannya. Namun, tidak mendapat respon bahkan saat Danira mencubit punggungnya, dia masih diam.
"Aku dapat nilai merah diulangan harian tadi," curhat Danira yang berhasil mengalihkan perhatian Gafa, pria itu langsung berbalik. "Haah. Kok bisa wakil ketua osis yang katanya populer dapat nilai merah."
"Hiih. Orang pintar aja bisa," cetus Danira melirik Gafa tajam.
"Nggak belajar semalem?"
"Belajar, cuma nggak fokus belajarnya."
"Kenapa?"
"Mikirin kamu," goda Danira memamerkan senyum. Gafa menghela napas kasar. Gadis di depannya ini benar-benar menjengkelkan, pikir Gafa.
"Liat!" titah Gafa yang berusaha bangun untuk bersandar kepala ranjang.
"Apanya?" tanya Danira bingung dan Gafa hanya diam menatap cewek menyebalkan itu menurut Gafa. Saat menyadari tatapan dingin Gafa, Danira berusaha mencerna maksud pemuda itu.
"Oh ulangannya? Bentar, bentar," tanya Danira yang langsung mengambil kertas ulangannya dan segera diberikan kepada Gafa.
"Tulisanmu jelek sekali," komentar Gafa jujur.
"Ya emang gitu. Karena yang manis itu kamu." Gafa yang kembali jengkel menatap tajam Danira.
"Harusnya kamu kembali ke TK, belajar nulis."
Dengan rasa sakit yang berusaha ditahannya, Gafa yang memang pintar menjelaskan beberapa materi kepada Danira dan gadis itu menyimak dengan saksama. Namun, tiba-tiba Gafa berhenti.
"Haus," jawab Gafa ketika Danira menanyakan mengapa pria itu berhenti menjelaskan. Apakah ada yang sakit?
Danira segera mencari ibu Gafa untuk meminta air minum. Sedang Gafa menggeleng-geleng melihat tingkah gadis itu sambil mengambil minuman yang diletakkan Danira di nakas. Kemudian diminumnya, setelah menyimpan kembali botol tersebut Gafa merebahkan badannya, sejenak saja, katanya. Namun, baru beberapa detik berlalu pria itu telah pulas kembali.
Danira yang telah kembali dengan segelas air di tangannya heran melihat Gafa terpejam dengan napas teratur. Danira meletakkan gelas itu di nakas. Lalu, memperhatikan pria itu yang begitu tenang dalam tidurnya, beberapa menit Danira melakukan itu. Tangan Danira terulur akan menyentuh kepala Gafa, tetapi seketika ditariknya lagi.
"Ish apa-apaan sih aku ini. Duh bisa bahaya nih lama-lama di dekat dia."
Danira bangkit berjalan ke ruang tamu dan duduk di kursi. Tak lama kemudian ibu Gafa datang dan duduk di depan Danira. "Ini bukan yang pertama kalinya," ucap ibu Gafa. Wanita paru baya itu menceritakan bahwa anak lelakinya itu sering pulang dengan kondisi babak belur seperti kemarin.
"Memangnya kenapa Gafa sering digituin?"
"Kamu tau Danira?" Ibu Gafa mengetahui gadis yang bersamanya itu saat Gafa menyebut namanya sebelum pulang kemarin.
"Beberapa tahun lalu, lelaki yang mencintai kami pergi meninggalkan kami untuk selamanya." Danira menyimak tanpa mengeluarkan suara.
"Bebera---."
Baru saja ibu Gafa akan lanjut menjelaskan seseorang mengucapkan salam di luar pintu, ibu Gafa beranjak melihat siapa orang tersebut. Ternyata pak RT datang memberikan undangan hajatan. Danira melirik jam tangannya, sudah cukup lama dia di rumah itu. Gadis itu memutuskan pulang.
Saat akan pulang Danira ingin menemui Gafa ke kamarnya. Namun, gadis itu berhenti di ambang pintu ketika melihat Gafa masih terlelap. "Hish masih molor." Danira kembali ke ruang tamu karena tidak ingin mengganggu istirahat Gafa. "Masih molor Bu, Danira pulang dulu ya," pamit Danira kemudian berjalan keluar dan diikuti wanita tersebut sampai di ambang pintu.
"Danira," panggil ibu Gafa pelan.
"Iya, Bu." Danira yang sudah berjalan beberapa langkah langsung berbalik dan melangkah ke arah ibu Gafa yang berdiri di pintu.
"Jadi teman Gafa, ya." Danira mengangguk seraya tersenyum tulus.
___
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
RomanceKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
