Awas Jatuh Cinta

32 22 2
                                        

Gafa akan ke perpustkaan mengembalikan buku yang dipinjamnya dua hari lalu.
Danira yang bermaksud menemui Gafa di kelasnya melihat siswa itu sedang menuju perpustkaan dari kejauhan. Gadis itu dengan cepat mengejar Gafa.

"Gafa," panggil gadis itu pelan menghentikan langkah Gafa.

Danira langsung memegang lengan Gafa ketika sudah sejajar dengan pria itu.

"Apa?" tanya Gafa dengan datar.

"Aku rindu kamu," ujar Danira jujur dengan sungging manis. Sudah satu mingggu gadis itu tidak bertemu siswa di hadapannya itu.

Gafa dengan segala sikap cueknya berjalan tanpa memedulikan perkataan Danira.

"Gafaaa!" panggil gadis itu lebih keras yang masih berjalan di samping Gafa dari tadi meski diabaikan. Pria itu berhenti seketika dan hanya menoleh menatap Danira lalu kembali berjalan. Danira semakin gemas melihat sikap Gafa. Ia terus saja melangkah di dekat siswa itu hingga mereka sama-sama sampai di pintu perpustakaan. Danira ikut masuk meski tidak ada keperluan.

Gafa menuju meja petugas perpustakaan dan Danira masih mengekor. Setelah selesai dengan petugas Gafa mencari buku lain kemudian duduk membaca buku tersebut. Tanpa bicara Danira ikut duduk dan memperhatikan Gafa. Siswa itu mulai jengkel dengan siswi di dekatnya. Gafa segera berdiri mengambil sebuah buku lalu diberikan kepada Danira.
"Baca! Jangan liatin saya terus nanti naksir." Gafa berkata masih dengan sikap juteknya.

Danira yang mendengar itu langsung saja melongo tidak menyangka pria di hadapannya bisa berkata demikian.
"Kamu bisa bercanda juga?" tanya Danira dengan ekspresi masih tidak percaya. Gafa yang ditanya hanya abai dan kembali membaca. Karena diabaikan Danira membaca buku yang diberikan tadi.

Bel pertanda jam istirahat telah selesai berbunyi, Gafa segera mengembalikan buku yang dia baca di tempat semula tanpa kemudian keluar tanpa memedulikan Danira.
"Dasar cowok kutub," geram Danira lalu mengikuti Gafa yang telah lebih dulu keluar.

Gafa sudah sangat jauh di depan sana. Tiba-tiba Danira berlari kencang dan sengaja menyenggol Gafa keras. Gadis itu terus berlari tanpa memedulikan Gafa yang mendesis kesakitan.

"Dasar cewek rese." Gafa mengusap bahunya yang ditubruk Danira sambil melihat gadis itu berlari semakin jauh.

Gafa berjalan menyusuri lorong-lorong kelas akan pulang dan tidak sengaja melihat Dalvin dan dua orang temannya yang berjarak sepuluh meter darinya. Gafa segera kabur tetapi Dalvin telah melihatnya dan langsung mengejar Gafa. Dalvin memang sengaja menunggu siswa itu. Namun, tanpa sepengetahuan Gafa tiba-tiba muncul teman Dalvin yang lainnya tepat di depan siswa itu. Dalvin yang sudah berada di dekat Gafa langsung saja meninju perut Gafa sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa aba-aba.

Saat akan melayangkan tinju di wajah Gafa, seketika tangan Dalvin mengambang karena melihat Danira dari kejauhan. Dalvin segera mengajak teman-temannya pergi. Gafa memegang perutnya dengan sedikit meringis. Tanpa Gafa sadari gadis itu sudah mulai mendekat dengan langkah yang makin dipercepat. Gafa segera pergi dan membuat Danira berteriak memanggil siswa itu. Danira berlari ketika Gafa tetap berjalan tanpa menoleh, bahkan gadis itu tahu Gafa mendengar teriakannya.

"Gafaaa, iih tunggu." Danira menarik lengan Gafa kuat membuat pria itu terhenti dan menatapnya tajam. Danira yang melihat itu sedikit terkejut dengan bahu terangkat.

"Biasa aja dong liatnya, nanti naksir." Danira membalas perkataan Gafa seperti di perpustkaan tadi.
Pria itu menghela napas pelan lalu berjalan kembali. Danira yang tidak ada kapoknya masih saja mengikuti pria dingin itu.

"Aku abis ada kegiatan OSIS selama seminggu kemarin. Aku sibuk banget untuk persiapan kegiatannya. Untung hari Minggu kemarin dah kelar," jelas Danira ketika keduanya duduk di halte.

"Terus apa hubungannya kamu jelasin ke saya?" tanya Pria yang sedang duduk di kursi halte menumpukan kedua sikunya di paha dengan badan yang agak condong ke depan.

"Ya kan kali aja kamu nyariin aku," jawab Danira polos. Gadis itu terlihat serius dengan ucapannya.

"Jangan kepedean," ucap Gafa kemudian berdiri dan langsung naik pada angkutan umum yang berhenti. Pria itu meminta supir segera jalan.

"Gafaaa! Heiii, kenapa ninggalin aku?" teriak Danira yang ditinggal Gafa tanpa kata.

"Dasar cowok ngeseliiin!"

"Haha. Ditinggalin Gafa, ya?" Tiba-tiba ada suara di samping Danira, gadis itu terkejuta dan langsung menoleh. Ternyata satu kelas Gafa yang waktu itu.

Danira yang masih kesal tidak memedulikan siswa di dekatnya itu. Kebetulan ada taksi, Danira langsung menghentikan dan langsung masuk menutup pintu dengan keras.

Saat di perjalanan menuju tempat kerja Gafa, mama gadis itu meneleponnya. Mamanya ingin ditemani ke mall untuk belanja karena ada temannya yang akan berulang tahun sekalian mereka ingin berjalan-jalan berdua. Sudah lama keduanya tidak melakukan hal itu.

Danira dengan senang hati menerima ajakan mamanya dan mengubah alamat tujuannya sekarang.

Danira segera bersiap-siap ketika sampai. Setelah merasa cukup gadis itu keluar dengan tas selempang kecilnya. Mama Danira sudah siap di ruang keluarga. Mereka berangkat diantar sang supir.

Dua wanita berbeda usia itu masuk mall saling bergandengan satu sama lain. Sesekali mereka tertawa. Keduanya memasuki beberapa toko dan keluar menenteng paperbag. Ketika mama gadis itu sibuk memilih beberapa pakaian, Danira tidak sengaja menoleh dan melihat seseorang keluar dari sebuah toko berjarak kurang lebih sepuluh meter. Sedikit samar, tetapi masih bisa menangkap sosok tersebut. Sekilas punggung lelaki itu mirip papanya, di samping lelaki itu ada seorang wanita yang menggandengnya.
Danira masih fokus menatap lelaki dan wanita yang makin menjauh itu, tetapi mamanya langsung menggandeng gadis itu pergi. Cuma mirip saja, pikir Danira.

Malam ini papa Danira pulang lebih cepat dan makan malam bersama anak dan istrinya. Danira memperhatikan lelaki yang begitu dia sayangi itu.

'Biasa aja, nggak ada yang aneh,' batin Danira saat akan menyuap makanan ke mulutnya. Lelaki yang duduk di hadapan Danira itu makan dengan lahap tanpa keanehan sikap apa pun.

"Apa tadi Papa ada urusan luar kantor?" tanya Danira berpura-pura terlihat santai sambil sibuk dengan makanan di piringnya.

"Papa di kantor, buru-buru selesaiin pekerjaan biar bisa makan malam bareng kamu dan Mama," balas lelaki itu santai sambil terus menyaupi mulutnya. Tidak ada gelagat aneh saat Danira melontarkan pertanyaan kepadanya.

Setelah makan Danira ikut menonton di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Namun, gadis itu teringat ada tugas yang harus dikerjakan. Danira pamit kepada dua orang yang sangat disayanginya.

Danira segera mengerjakan tugasnya sebelum matanya terserang kantuk. Pasalnya guru mata pelajaran tersebut sangat galak dan tidak kenal kata maklum. Saat memberi hukuman pun tidak main-main. Pernah sekali Danira lupa mengerjakan tugas dan harus dihukum membersihkan toilet guru. Tugasnya pun ditambah makin sulit dari sebelumnya.

Setelah mengerjakan tugas, gadis itu pergi ke dapur karena haus. Saat melewatin ruang keluarga, Danira hanya melihat mamanya.

"Belum tidur, Ma? Papa mana, udah tidur, ya?" tanya Danira mendekati mamanya.

"Lagi keluar, ada pekerjaan kantor yang tiba-tiba harus diselesaikan," ucap perempuan itu sambil menguap dan hanya dijawab anggukan oleh Danira. Gadis itu berlalu ke dapur sambil bersenandung kecil setelah mengucapkan selamat tidur kepada sang mama.

____

DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang