"Danira." Gadis itu menoleh pada sumber suara.
"Ya?"
"Nggak dijemput? Aku anter ayok!" tanya Dalvin yang berdiri di depan Danira. Gadis itu segera menggeleng.
"Nggak. Aku ada urusan."
"Aku temenin, ya."
"Nggak usah. Makasih."
Baru saja Dalvin akan bicara seseorang memanggil namanya di gerbang sekolah. Teman-temannya sudah mengajak pergi.
"Danira, aku pergi dulu, ya." Sebelum pergi Dalvin memberi senyum termanisnya.
"Oke."
Danira melihat jam tangannya sambil memindai sekitar matanya tajam mencari Gafa.
Sekolah sudah terlihat sepi, halte juga kini tinggal Danira seorang. Danira merogo ponselnya dan memesan taksi online. Tujuannya kini adalah tempat kerja Gafa.
Danira masuk ke restoran dan langsung menuju meja resepsionis.
"Hai, Mbak," sapa Danira sambil senyum. "Em ... Gafanya udah dateng?"
"Udah," jawab Mbak itu singkat. Danira menuju meja kosong yang tidak jauh dari meja resepsionis lalu duduk menunggu Gafa.
Gafa keluar dari dapur resto membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Setelah Gafa meletakkan pesanan tersebut di meja pelanggan, pemuda itu berjalan santai, sama sekali tidak menyadari keberadaan Danira. Danira segera berdiri memanggil Gafa. Pria itu menoleh dan tetap diam di tempatnya, menyadari Gafa tidak akan menghampirinya Danira berjalan cepat mendekati pria itu.
"Kamu mencari sesuatu, nggak?" tanya Danira sedikit mendongak setelah berada di hadapan pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Mencari sesuatu?" Gafa mengulang pertanyaan Danira sambil mengernyit.
"Separuh hatimu mungkin. Kalau iya, separuhmu itu ada di aku." Lagi-lagi gadis itu sengaja menggodanya. Gafa yang merasa muak dengan tingkah Danira segera berlalu. Namun, langkahnya terhenti karena Danira berhasil mencekal lengannya.
"Tunggu, kali ini aku serius."
Danira membuka tasnya dan mengambil sebuah benda kecil.
"Ini punya kamu, bukan?" Danira mengulurkan sapu tangan biru yang ditemukannya tadi.
Gafa terkejut melihat sapu tangannya. Dia menatap Danira sejenak dan menatap benda yang dipegang Danira lalu mengambilnya cepat.
"Tadi nemu di lapangan," jelas Danira menjawab kebingungan Gafa.
"Makas---."
"Sama-sama," ucap Danira sengaja memotong perkataan pemuda itu. Seketika Gafa tersenyum tipis.
"Gih kerja lagi, aku pulang, ya." Gafa mengangguk pelan.
Gafa pergi ke ruang ganti untuk menyimpan sapu tangannya. Cukup lama Gafa menatap kain kecil itu. Dia bersyukur Danira yang menemukanya dan mengembalikan padanya. Sapu tangan itu sangat penting buat Gafa, benda satu-satunya kenangan dari ayahnya yang selalu menjadi penyemangat. Dengan sapu tangan itu Gafa merasa bahwa ayahnya masih bersamanya dan menjaganya.
"Lihat sapu tangan ini!" pinta lelaki paru baya itu seraya mengulurkan sesuatu kepada pemuda yang sedikit lagi melampaui tinggi badannya.
"Ambil lah. Ini buat kamu," ujarnya lagi melihat yang diajak bicara diam saja.
"Suatu saat ketika ayah sudah tidak bisa lagi di sampingmu. Lihatlah kain ini anggap ayah masih bersamamu. Lihatlah ketika kamu sedang rindu ayah," titahnya lagi setelah pemuda itu mengambil kain itu.
"Jangan gitu lah, Yah ngomongnya."
"Gafa, tidak ada yang abadi di dunia ini. Orang-orang yang bersamamu suatu saat akan pergi. Kamu paham kan maksud ayah?" Gafa mengangguk sambil membuka sapu tangan itu yang sedari tadi terlipat.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
Любовные романыKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
