Si Manis Jembatan Ancol

15 12 0
                                        

Danira berjalan memasuki pintu gerbang sekolah dengan santai. Gadis itu merogoh saku seragamnya untuk mengambil ponselnya, tetapi tidak ada. Tangan Danira beralih ke saku roknya, benda yang dicarinya tidak ada. Terakhir dia mengambil tasnya yang tersampir di lengan dan langsung menggeledah mencari gawainya. Danira mulai panik dan terus mencari di dalam tasnya. Gadis itu membuka semua bagian resleting pada bagian kantong tasnya. Namun, nihil.

Seketika Gafa lewat dan melihat Danira sibuk dengan tasnya.
"Kenapa?" tanya Gafa mengejutkan Danira.

"Eh Gafa, emm itu. Boleh pinjem HP, nggak?"

"Nggak bawa HP," jawab Gafa bohong.

"Boong," ujar Danira menatap Gafa dengan sedikit melotot. Gadis itu meraba saku seragam Gafa. Lalu beralih ke saku celana Gafa.
"Berenti."
Danira mendongak menatap Gafa kesal dengan bibir mengerucut.

Siswa itu membuka tas yang dicangklong dari bahunya lalu mengambil sebuah benda di dalam sana. Gafa langsung mengulurkannya kepada Danira. Seketika senyum gadis itu mengembang. Manis.

Danira segera menyambar ponsel Gafa lalu mengetik deretan nomor dan menekan tombol hijau untuk menyambungkan ke nomornya lalu menempelkan di telinga.
Terdengar dering tersambung di seberang sana, tetapi tidak mendapat jawaban. Gadis itu menarik napas pelan kemudian menelepon kembali ponselnya.

"Halo," jawab seorang wanita di seberang sana. Danira tahu persis suara tersebut.

"Halo, Ma. Ini Danira. Make nomor teman. Tadi nyariin Hp tapi nggak ada. Tau-tau ketinggalan."

"Ada-ada aja kamu ini."

"Ya udah, ya, Ma." Danira menutup sambungan telepon tersebut dan seketika tangan Gafa akan mengambil ponselnya ditahan Danira.

"Bentar iih." Gadis itu masih sibuk menyentuh layar pipih milik Gafa kemudian tersenyum setelah selesai mengetik. Gadis itu mengulurkan benda tersebut kepada pemiliknya.

"Pelit."
Gafa cuek saja dengan perkataan Danira. Siswa itu pergi setelahnya tanpa memedulikan teriakan yang terus melantunkan namanya di belakang sana. 
**

Gafa sedang menata beberapa piring dalam nampan. Tangan pria itu dengan cekatan meletakkan piring-piring tersebut. Seketika gawai Gafa bergetar dalam saku celananya. Pria itu segera mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dengan nama yang tidak di kenal.

"Si Manis Untuk Gafa." Kedua alis pria itu seketika berkerut, mengingat siapa pemilik nomor dengan nama sepanjang jalan kenangan. Gafa kemudian membuka pesan tersebut.

[Hai.] Sekadar sapaan.

Tanpa membalas pria itu menyimpan kembali ponselnya dalam saku. Ia tidak sampai kepikiran kalau itu Danira. Gafa melanjutkan aktivitasnya tadi dan mengantarkan makanan kepada pelanggan.

Sementara di sebuah ruang keluarga seorang gadis menatap ponselnya dengan jengkel sambil mendengkus kesal.
"Ish kok nggak dibales sih," ujar gadis itu geram sambil meletakkan ponsel dengan keras. Baru beberapa menit Danira kembali mengambil HP-nya dan mengirim pesan ke nomor yang tadi berkali-kali. Namun, pemilik nomor belum membuka pesan tersebut.

Gafa yang baru saja mengantarkan pesanan pada meja pelanggan mendengar ponselnya bergetar berulang-ulang. Segera diambil ponselnya itu dan ada beberapa pesan dikirim dari nama yang sama. Gafa membukanya sambil berjalan membawa nampan yang kosong.

[Hai.]

[Hai.]

[Hai.]

[Selamat sore, Cowok Jutek Sejagat Sekolah.]

Membaca pesan terakhir, Gafa kini tau siapa pemilik nomor dibalik nama lebai itu. Pria itu berhenti dan segera menekan tombol edit lalu menghapus beberapa huruf kemudian mengetik kembali. Gafa mengklik tangkapan layar pada ponselnya kemudian gambar tersebut dikirim kepada pemilik nomor sambil menyeringai. Kemudian melanjutkan langkahnya ke dapur.

Cling. Danira segera melihat pesan baru tersebut karena gadis itu tidak keluar dari room obrolan. Mata gadis itu membelalak sambil mengaga dan matanya masih fokus pada gambar yang dalam pesan. Sebuah foto tangkapan layar dengan nomor miliknya bertuliskan, 'Si Manis Jembatan Ancol' Danira menggeram usai membaca nama itu, lalu berteriak murka. "Gafaaa!!!"

Seketika mama Danira keluar dari kamar mendengar pekikan anak gadisnya.

"Danira, ada apa? Kok teriak-teriak?" tegur mama gadis itu sambil berjalan ke  ruang keluarga.

"Nggak kok, Ma. Ini ada teman rese," jawab Danira yang dibalas ber-oh dari mamanya. Wanita yang seiras dengan wajah Danira itu duduk di sebelah anaknya lalu mengambil remot memindahkan siaran televisi.

[Kenapa diganti namaku, hah?] tulis Danira kesal.

[Suka-suka saya. Hp-hp saya.]

[Dasar kang suka-suka. Suka kamu, boleh, nggak?] kirim Danira dengan senyum usilnya.

Gafa seketika geleng-geleng membaca pesan tersebut.

[Kamu gabut, ya. Gangguin saya terus.] balas Gafa meledek gadis itu lalu menyimpan kembali ponselnya.

Namun, baru beberapa menit ponselnya bergetar lagi pertanda ada pesan masuk lagi. Pria itu sengaja menggunakan mode getar pada ponselnya agar tidak berisik, menurutnya.

Sebuah foto dua wanita berbeda usia, wanita dewasa menghadap kamera tersenyum dan seorang gadis menatap wanita tersebut, gadis itu tidak menampakkan wajahnya.

[Lagi nonton bareng mama setelah kerja tugas tadi.] caption pada gambar.

Percakapan keduanya telah berakhir karena Gafa tidak membalas lagi. Sedangkan Danira sibuk membantu mamanya di dapur.

Setelah makan malam Danira menonton sejenak menemani mamanya. setelah menguap berkali-kali mama Danira menyuruh anaknya ke kamar untuk istirahat. Gadis itu langsung menurut dan masuk kamarnya. Gadis itu menyiapkan perlengkapan sekolahnya untuk besok.

Danira mengambil ponselnya dan kembali mengirim pesan kepada Gafa. Gadis itu tidak pernah bosan mengganggu cowok dingin itu.

[Sudah pulang dari resto?] Kirim Danira ke nomor WA Gafa. Namun, lagi-lagi tidak mendapat balasan. Gadis itu mengirim pesan berkali-kali seperti sore tadi.

Gafa yang sudah merebahkan badan mendengar ponselnya bergetar. Pria itu segera meraih HP-nya dan membuka pesan dari nama kontak 'Si Manis Jembatan Ancol'.

[Jangan chat lagi. Saya mau tidur.]
Gafa segera membalas dan menyimpan gawainya lalu terpenjam.

Danira memanyunkan bibir membaca pesan tersebut. Danira pun menarik selimutnya dan terlelap sebab tahu Gafa tidak akan membalasnya lagi meski ribuan pesan yang dikirim gadis itu.
**

Gafa mengantarkan makanan kepada pelanggan, saat beberapa langkah dari meja pelanggan Gafa terkejut dan seketika melambatkan langkahnya mencoba memperhatikan seseorang di meja itu lebih seksama. Seorang lelaki dewasa dan wanita cantik lebih mudah memegang mesra tangan si pria. Sebelum pelanggannya menyadari kehadirannya pria itu menormalkan keterkejutannya kemudian melangkah kembali mendekati meja tersebut.

Gafa menata makanan di meja dengan hati-hati kemudian beberapa detik melirik pelanggan lelaki tersebut. Setelah selesai Gafa meninggalkan meja tersebut dan mencoba mengingat kejadian hampir dua minggu lalu, seorang lelaki dewasa mengecup kening seorang siswi lalu merangkulnya dan membuka kan pintu mobil, di depan sekolah.
"Danira," gumam Gafa pelan.

Pria itu segera membuka foto yang dikirim Danira kemarin. Gafa memperhatikan wanita yang bersama pelanggannya itu kini dan foto di ponselnya. Setelahnya Gafa bisa menebak keadaan tersebut.

Baru saja selesai menyebut nama gadis itu, ponsel Gafa bergetar, pria itu melihat segera dan ternyata Danira.

[Aku mau ke resto, udah di jalan. Bentar lagi nyampe.]

Gafa membaca pesan itu berulang kali kemudian bergantian menatap lelaki yang ada di meja dekat pojok dengan senyum terus dia pamerkan kepada wanitanya.

Bagaimana jika Danira melihat papanya? Itulah yang ada dalam pikiran Gafa saat ini. Gafa berusaha berpikir untuk mengalihkan perhatian Danira agar tidak melihat semua ini. Bukannya pria itu bermaksud menyembunyikan hal tersebut, tetapi gadis itu pasti akan sangat terpukul melihat cinta pertamanya bersama wanita yang bukan mamanya. Meskipun nanti atau sekarang sama saja.

____

DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang