Sapu Tangan Biru

47 36 4
                                        

Gafa benar-benar kesal melihat gadis keras kepala yang berdiri di hadapannya itu, akhirnya pria itu memilih pergi meninggalkan Danira.
Gafa segera mengendarai sepeda motor yang dipinjamnya itu menyusuri jalanan yang begitu terlihat ramai.

"Malem-malem begini dari mana?" tanya ibu Gafa melihat anaknya yang baru masuk.

"Dari resto, Bu. Ada teman cariin," sahutnya sembari menyalami dan mengecup punggung tangan sang ibu.

"Loh, nggak bisa ditemuin besok aja?"

"Orangnya keras kepala, Bu," seloroh Gafa berlalu ke kamarnya.

Jam pelajaran kedua sedang berlangsung dengan khitmat, semua siswa menyimak dengan cermat. Danira yang mulai gelisah karena kebelet buang air kecil segera minta izin untuk ke toilet.

Keluar toilet Danira pergi ke kantin karena merasakan cacing di perutnya telah minta jatah. Membeli roti sekejap tak apa-apalah daripada pingsan kelaparan, pikirnya. Tadi pagi Danira terburu-buru dan tidak sempat sarapan, meski mamanya memaksa tetapi bukan Danira namanya kalau tidak ngeyel.

Saat menuju kantin, Danira melihat seorang siswa sedang berlari mengelilingi lapangan dari jarak yang lumayan jauh, dia memperhatikan sejenak, ketika akan mempercepat langkahnya, Danira merasa mengenal poster tubuh siswa tersebut. Kembali mengalihkan pandangannya ke lapangan, memperhatikan dengan saksama.

"Gafa?"

Gadis itu segera berlari ke kantin mengambil dua bungkus roti dan air mineral. Kemudian pergi dengan tergesa-gesa setelah mengatakan kepada pemilik kantin akan membayarnya nanti. Danira celingukan memindai sekitar, melihat tidak ada guru yang mengawasi, gadis itu segera memanggil Gafa. Siswa berambut belah samping ke kanan itu menoleh.

"Ngapain lagi dia?" sungut Gafa melihat Danira sekilas. Gafa melanjutkan hukumannya yang tinggal beberapa putaran lagi, tetapi Danira kembali memanggil pelan dan melambaikan tangan dengan senyum yang terus membingkai wajah cantiknya.

Gafa menghela napas dan segera menemui gadis itu agar dia cepat pergi dari sana.
"Dihukum kenapa?" berondong Danira cepat ketika Gafa masih berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. 

"Terlambat," jawab Gafa seraya memperhatikan sekeliling takut ada guru yang melihat. "Sana pergi! Entar diliatin guru. Mau dihukum juga?" usir pria itu.

"Nggak apa-apa dihukum asal dihukumnya sama kamu," goda gadis itu tersenyum centil dan hanya diabaikan oleh Gafa.

"Sana masuk kelas!" usir Gafa dengan nada dingin untuk kedua kalinya.

Danira yang sadar telah lama meninggalkan kelas segera mengulurkan satu bungkus roti dan air mineral yang dibeli tadi. Seperti biasa Gafa hanya diam tanpa kata. Melihat sikap Gafa yang masih diam, gadis itu meletakkan botol dan roti itu di atas pot bunga pinggir lapangan tersebut.
"Untukmu. Bye!" ujar Danira melambaikan tangan, Gafa menatap punggung Danira yang ditutupi rambut sepunggungnya. Semakin jauh lalu perlahan menghilang.

Cling. Danira yang baru saja keluar dari kantin segera merogo gawainya di saku roknya dan membaca pesan WA-nya.

[Udah ke kantin?]

[Huum, udah. Napa?]

[Ke sini, ya, di lapangan.]

[Penting?]

[Penting untuk aku]

[Untuk aku?]

[Ke sini aja dah. Cerewet.]
Danira menyimpan kembali ponselnya lalu berbelok ke arah lapangan di mana temannya saat ini menunggunya.

"Ada apa?" tanya Danira pada Ranu yang sedang sibuk dengan alat rock climbing yang dari tadi pemuda itu rapikan. Ranu berbalik dengan senyum penuh arti.

"Minjem duit." Danira menatap Ranu heran, "nggak banyak kok. Buat iuran."

Danira mengernyitkan dahi membuat kedua alis tebalnya hampir menyatu. Ranu yang mengerti ekspresi temannya itu langsung menjawab, "iuran organisasi. Aku sih ada duit cuma kan pulang nggak mungkin nggak megang duit, gimana kalau aku kehabisan bensin atau ban motorku bocor," celoteh Ranu panjang lebar.

"Berapa?"

"Tiga puluh lima ribu." Danira merogo sakunya dan mengambil selembaran memasukkan ke saku baju Ranu.
Pria itu cengengesan sembari mengangkat tangan kanannya akan menyentuh pucuk kepala gadis yang hampir sama tinggi dengannya. Danira menatap tajam Ranu membuat tangannya mengambang sejenak, tanpa pikir panjang segera menurunkannya.

Danira menatap satu per satu alat rock climbing di depannya. "Ada latihan RC lagi? Di mana?"

"Nggak. Ini mau dipinjemin ke sekolah lain, katanya butuh beberapa," jelas Ranu yang dibalas anggukan. Seketika Ranu ingin sekali mengerjai temannya itu.

"Bantuin rentangin tali karmantel dong," pinta Ranu memberikan ujung tali pada Danira. Gadis itu segera berlari membawa ujung tali tersebut menjauh dari Ranu.

"Yang kuat, Mundur lagi!" perintah Ranu yang diikuti Danira dengan senang hati. Saat Ranu merasakan tarikan tali itu sudah kuat, pria itu langsung menarik kuat tali tersebut membuat Danira tersentak. Menyadari Ranu sedang mengerjainya, Gadis itu tak mau kalah, dengan mengerahkan seluruh tenaganya dia menarik kuat tali tersebut dan terjadilah tarik menarik seperti lomba tarik tambang.

Ketika sedang berusaha mengalahkan Ranu gadis itu merasakan kakinya seperti menginjak sesuatu, Danira merunduk dan melihat di bawah kakinya ada sebuah kain kecil. Danira yang penasaran langsung melepas tali begitu saja dan membungkuk mengambil benda tersebut. Di ujung sana Ranu sedang meringis berusaha bangkit karena baru saja terjungkang.
"Dasar Danira rese, napa nggak bilang kalo mo lepasin talinya sih," omel Ranu yang tidak akan didengar Danira.

Danira membentangkan kain berwarna biru itu, terdapat sebuah tulisan pada pinggiran bagian sudutnya.

"Gafa," ucap Danira membaca tulisan tersebut. Danira mencoba mengingat-ingat saat menemui Gafa tadi. Seketika Danira sadar, sapu tangan itu dipakai Gafa pagi tadi, dililit di tangan kanannya. Danira segera memasukkan sapu tangan tersebut di saku roknya, ponselnya berpindah di tangan.

"Kamu kok main lepas-lepas aja sih," protes Ranu yang sedang membersihkan celananya dengan menepuk pakai tangan. Danira yang sudah berdiri di dekatnya tertawa. "Ya sorry, sini kubantuin." Danira ikut menepuk-nepuk jaket Ranu yang digunakan menutupi seragamnya.

"Iya iyaaa, tapi bantu beresin ini dulu." Ranu berjongkok memasukkan semua alat rock climbing tersebut pada carrier yang dipegang Danira.

Saat Ranu sudah menuju kelasnya, Danira mencoba mencari Gafa untuk mengembalikan sapu tangan yang di temuinya tadi. Danira menyusuri setiap kelas pasalnya dia belum tahu kelas pemuda itu. "Di kelas ini ada yang namanya Gafa nggak, yang anggota pramuka itu?" Danira melontarkan pertanyaan yang sama saat memasuki setiap ruang kelas. Namun, semua siswa tidak ada yang tahu. Danira terus berlari dari kelas menuju kelas lainnya. Baru saja akan menuruni tangga menuju lantai satu bel sudah berbunyi. Kelas Danira berada di lantai dua tempat di mana gadis itu berdiri sekarang.

Dengan napas yang terengah-engah Danira berjalan masuk kelasnya sembari mengatur napas. Dia langsung menghepaskan tubuhnya di kursi, setelah rasa lelahnya perlahan hilang, gadis itu menatap kain yang ada di tangannya, cukup lama. 

Bel pertanda pulang sekolah telah berbunyi. Danira buru-buru membereskan bukunya ke dalam tas.
"Bu, duluan, ya," pamit Danira kepada gurunya yang sedang bersiap-siap keluar. Danira berlari menuju gerbang membuat rambut gadis itu mengibas-ngibas. Saat sampai di gerbang Danira mengarahkan pandangannya ke halte berharap Gafa berdiri di sana. Gadis itu sengaja buru-buru agar bisa menemui cowok cuek itu. Danira pergi ke halte berniat menunggu Gafa di tempat itu.

___

DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang