Perpustakaan adalah tempat yang dari kemarin ingin dikunjungi Danira. Gadis itu mengembalikan buku kemudian mengambil satu buku untuk dibacanya sambil menunggu jam istirahat selesai. Namun, mata Danira sesekali melirik setiap siswa yang masuk dan keluar perpustakaan, posisi Danira tepat berhadapan dengan pintu. Dia salah satu yang masuk atau keluar adalah sosok yang membuatnya hadir di tempat itu. Namun, nihil. Lagi.
Bel berbunyi, jam istirahat telah berakhir. Danira meninggalkan perpustakaan dengan pertanyaan-pertanyaan berlarian di benaknya. Di mana dia? Kenapa sangat sulit menemukannya?
Dengan langkah cepat dan beberapa buku di tanganya, Gafa menuju perpustakaan. Namun, dari kejauhan dia tidak sengaja melihat Danira sedang berjalan ke arah yang akan ditujunya. Akhirnya Gafa mengurungkan niat awalnya. Gafa kini duduk di kursi yang lumayan jauh dari perpustakaan, tetapi siswa itu masih bisa melihat dengan jelas orang-orang yang masuk dan keluar dari perpustakaan. Saat mendengar bel berbunyi Gafa yang dari tadi membaca buku segara mengalihkan pandangannya ke perpustakaan, memperhatikan siswa-siswi, hingga dia melihat Danira. Gafa memandang punggung Danira yang makin menjauh, lalu beranjak ke kelas.
**
Lagi-lagi Danira gagal menemukan sosok siswa yang dicarinya. Sudah berhari-hari gadis itu menjadi pengunjung setia perpustakaan berharap bisa bertemu lagi dengannya, tetapi nol, siswa itu tidak pernah lagi terlihat oleh Danira setelah di perpustakaan waktu itu.
Hari ini akan ada perkemahan Sabtu Minggu yang diadakan Organisasi Pramuka. Danira mengetahui hal itu ketika menuju kantin, dua orang siswi berbincang soal perkemahan tersebut. Danira seketika tersenyum mendengarnya. Gadis beralis tebal itu berencana akan melanjutkan pencariannya di perkemahan itu. Semangat, Danira, gumamnya mensupport diri sendiri.
Tangan Danira dengan santai memasukkan buku-buku dalam tas, terdengar suara di depan kelas menyebut namanya. Danira tentu saja kenal dengan suara itu dan dia tetap sibuk dengan barang-barangnya.
"Aku mau jalan sama Elma, mau titip sesuatu?" Ranu langsung bertanya ketika masuk.
Danira menatap pria yang memakai jaket abu-abu perpaduan merah itu.
"Jaket baru?" Seperti biasa Danira selalu memamerkan senyum.
"Hehe, iyaah, cauple sama Elma. Bagus, nggak?" Mata pria itu selalu berbinar jika bicara soal kekasihnya.
"Bagus, kamu make apa aja cocok, kok."
"Apa kau sedang memujiku, Danira Floretta?" tanyanya menaik turunkan alis.
"Hahaha, apa kau sedang kepedean, Ranu Kumbolo?"
"Hei, kenapa kau suka sekali menyebut namaku sepanjang itu?" protes Ranu kesal dan akan mencengkram kepala Danira. Namun, gadis di depannya itu langsung menangkis. Sebenarnya itu bukan nama asli. Ranu Kumbolo hanya nama alam atau nama rimba saja, indentitas khas sebagai anggota pencinta alam. Namun, Danira lebih suka dengan nama itu.
"Udah, giih sana. Elma menunggumu."
Ranu perpamitan dan menuju ke parkiran meninggalkan Danira, tadinya temannya itu akan menemani menunggu sopirnya. Hanya saja Danira menolak dan mengatakan ada urusan. Gadis berpipi sedikit tembem itu segera menelepon mamanya agar supirnya tidak perlu menjemput sekarang.
Bunyi ketukan sepatu menemani langkah Danira menyusuri lorong-lorong kelas menuju lapangan di mana perkemahan pramuka akan dilaksanakan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Menyadari kegugupannya, Danira menghela napas lalu mengembuskan pelan untuk menenangkan degup jantung dan kegugupannya.
Di bawah pohon beringin yang belum terlalu lebat, di bagian sudut lapangan, Danira memperhatikan setiap siswa yang datang. Tidak ada satu pun di antara mereka siswa yang dicarinya.
"Huuh, sok misterius banget tuh cowok." Dumel Danira mondar-mandir, lalu kemudian bersandar di batang pohon sambil menyaksikan bagaimana serunya kegiatan mereka. Perkemahan telah dibuka setu jam lalu. Kini latihan dimulai. Ada yang latihan menggunakan bendera kecil merah kuning yang diikat pada kayu kecil sepanjang siku, ada yang latihan berbaris dengan tongkat di tangan.
Waktu menunjukkan pukul 17.00, tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan siswa yang ditungguinya.
Danira memutuskan pulang, dia terlihat lesu, gagal lagi. Namun, bukan Danira namanya jika dia menyerah.
"Besok lagi aja," ujarnya pada diri sendiri dan berjalan keluar sekolah, di luar sana sudah ada supirnya menunggu, sebelumnya telah dihubungi terlebih dahulu. Berjalan sambil celingukan sana sini. Di dalam hatinya, dia masih berharap siswa itu muncul, sampai akhirnya Danira tiba di mobil, dia berbalik memindai seluruh halaman sekolah lalu masuk dalam mobilnya.
Dalam perjalanan pulang Danira terlihat lemas, sang supir yang memperhatikan hal itu, bertanya apakah di sekolah ada masalah? Pasalnya baru kali ini anak majikannya itu tidak mengajaknya bicara. Namun, Danira malah meminta supirnya itu berhenti di depan penjual es krim. Sang supir hanya geleng-geleng melihat tingkahnya, hanya dengan es krim gadis kecil itu langsung ceria seketika.
"Ma! Ini dari siapa?" Danira berjalan menenteng kresek yang berisi berbagai macam cemilan dari kamarnya.
"Ooh itu tadi Ranu mampir, terus ngasih itu," sahut Mama Danira yang tetap fokus memotong wortel.
"Cewek yang dibawa Ranu tadi itu siapa? Cantik," tanya wanita itu lagi.
"Oh, pacar Ranu."
"Pantes saja ceria sekali anak itu."
"Di sekolah, semua orang disenyumin. Kang-kang jual yang lewat semua disenyumin juga." Tawa Danira menggelegar diikuti Mamanya. Mama Danira cukup kenal dengan Ranu, karena pemuds itu sering bermain di rumah Danira. Namun, sejak dilantik jadi pengurus di organisasinya, Ranu sangat sibuk hingga satu semester belakangan ini jarang menemui Danira. Bertemu pas disekolah saja, tetapi hal itu tak membuat mereka renggang.
"Mama mau cemilannya?"
"Buat kamu aja, Sayang," balas wanita itu seraya tersenyum. Senyum yang selalu menenangkan hati Danira.
"Bantu mama, yuk!"
"Apa Papa akan makan malam bersama kita?" tanya Danira yang sudah berdiri di samping mamanya dan memakan wortel yang telah dipotong.
"Mama harap juga begitu." Masih dengan senyum manis, wanita itu menjawab sambil mencuci bahan sayur yang sudah dipotong-potong.
"Atau Danira telfon Papa aja?"
"Jangan ganggu pekerjaan Papa, Sayang."
"Kan cuma mau nanyain, Ma." Bibir gadis itu mengerucut sambil melirik mamanya.
"Iya, iya. Nggak boleh cemberut nanti cepat tua loh." Wanita itu mencolek hidung gadis kecilnya.
**
Seorang pria tengah duduk menghadap wanita paru baya yang terlihat terkulai lemah di tempat tidur, tangannya memegang mangkuk berisi bubur yang dibuatnya sesaat setelah sampai di rumah. Dengan telaten dia menyuapi wanita luar biasanya itu.
"Maafin ibu, ya, Nak."
"Maaf untuk apa sih, Bu?" Tangan pria itu masih dengan sabarnya menyuapi ibunya.
"Gara-gara ibu sakit, kamu jadi batal ikut perkemahan."
"Nggak apa-apa, Bu. Ini cuma perkemahan biasa, Gafa masih bisa ikut lain kali." jelas Gafa meyakinkan wanita yang mulai berkerut garis wajahnya itu.
"Bener?" tanya ibunya memastikan.
Gafa mengangguk, lalu memberi senyum manis. "Aku sudah izin sama ketua, kok, Bu. Ibu jangan khawatir."
Sebelum pulang sekolah Gafa sudah minta izin untuk tidak ikut serta dalam perkemahan ini karena sejak kemarin ibunya sakit. Dia memutuskan untuk merawat orang tua satu-satunya itu selama sakit. Tadinya pemuda itu berniat bolos sekolah, tetapi sang ibu melarang keras karena sakitnya tidak cukup parah. Di balik sikap cuek Gafa, dia sangat perhatian kepada ibunya, mengingat hanya tinggal ibunya lah satu-satunya orang tua yang dimilikinya saat ini. Mereka hanya hidup bertiga dalam keluarganya. Gafa memiliki adik perempuan kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Namun, adiknya itu sudah minta izin pagi tadi akan kerja kelompok di rumah temannya, jadi akan terlambat pulang, maka dari itu Gafa memilih izin.
___
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
RomantikaKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
