Di pintu masuk mall, Danira berpapasan dengan mobil yang mirip seperti mobil papanya. Danira tidak sempat melihat nomor serinya hingga membuat gadis itu bertanya-tanya. Pasalnya kantor papanya berlawanan arah dari posisinya sekarang. Atau mungkin ada rapat di luar kantor dan mall ini lah yang menjadi pilihan lokasi rapat, pikir Danira. Setelah turun dari motor Ranu, gadis itu menanyakan posisi papanya lewat pesan singkat.
[Papa di kantor, Sayang.] balas papa Danira.
Ranu memperhatikan Danira yang sedang bingung bertanya, "Kenapa sih?"
"Tadi liat mobil mirip punya papa."
"Ellah, emang cuma papamu aja yang make mobil kek gitu."
"Iya iyaaaa. Ayok masuk." ajak Danira
Setelah berjalan berkeliling sana sini tibalah dua siswa itu di sebuah tokoh sepatu
"Mau beliin sepatu olahraga buat Elma. Yuk bantu pilihin," jelas Ranu sebelum temannya itu bertanya.
"Make nomor berapa cewekmu?" Ranu menyebutkan angka dan tidak lupa menyebut warna kesukaan pacarnya. Setelah mendapat sepatu yang cocok buat kekasih Ranu mereka menuju kasir untuk transaksi.
"Kamu sekalian giih. Pilih aja yang kamu mau," ucap Ranu menahan Danira saat akan menuju kasir.
"Nggak. Punyaku masih bisa dipake, kok." Gadis itu menjawab sambil terus melangkah. Danira bukan tipikal yang suka membeli sesuatu yang hanya berakhir menjadi pajangan saja. Bukan tak mampu membeli, tetapi memang tidak ingin.
Matahari perlahan turun menuju barat, dua anak berseragam SMA itu baru sampai di rumah Danira. Danira turun dari motor matic yang membawanya tadi, gadis itu segera masuk tanpa pamit kepada temannya.
"Aku nggak diajak mampir gitu?" tanya Ranu yang sudah berjalan di samping Danira.
"Lah, ini kan udah mampir ndiri, ngapa diajakin lagi. Diajak atau nggak kan tetep mampir juga." Setelah berada di ruang tamu, Ranu langsung duduk dan Danira langsung ke kamarnya kemudian mandi. Gadis itu membiarkan Ranu di ruang tamu bersama mamanya.
Lembar demi lembaran dibuka Gafa setelah membaca setiap halaman dari buku yang sudah dua hari ini rutin dibacanya di ruang keluarga yang tidak terlalu luas itu.
"Apa kabar Danira, Nak?" tanya ibu Gafa yang sedang melipat pakaian, berjarak tak jauh dari pria itu.
"Baik." Gafa masih sibuk membaca buku di tanganya menjawab sekenanya.
"Gadis itu baik loh, Nak."
"Terus kenapa kalau baik, Bu?" tanya Gafa lembut sambil membuka halaman berikutnya tanpa beralih.
"Jangan dijutekin."
"Dia suka dijutekin."
"Kak Gafa punya teman cewek? Baru kali ini Kak Gafa punya teman cewek," komentar adik perempuan Gafa yang sedang mengerjakan PR di meja ruangan tersebut.
"Siapa, Bu?" tanyanya lagi yang memang tidak menyimak dengan baik percakapan kakak dan ibunya.
"Tanya kakakmu," jawab ibu dua anak itu yang masih melanjutkan aktivitasnya.
"Kasih tau dong, Kak. Satu sekolahan Kak Gafa, ya?"
Gafa masih tetap abai dengan pertanyaan sang adik. Kemudian pemuda itu masuk ke kamar meninggalkan pertanyaan-pertanyaan menggantung tanpa jawaban.
**
Masih pagi sekali Danira sudah ada di pintu masuk sekolah. Gadis itu sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya hanya untuk menunggu Gafa di gerbang sekolah. Gadis itu merasa tidak enak telah pulang dengan menitipkan pesan pamit pada Mbak resepsionis di tempat kerja Gafa.
"Pagi," sapa Danira mengagetkan Gafa yang fokus menatap jalan, sementara gadis itu muncul di depannya dengan tiba-tiba. Untung saja Gafa tidak menubruk gadis itu. Gafa menatap Danira seolah-olah bertanya ada apa?
"Kemarin dijemput teman. Nggak sempat langsung ke kamu."
"Tau. Kenapa harus pamit?" sahut Gafa jutek.
"Ya kan ke restonya bareng. Lagi kan kita teman. Nanti kamu cariin."
"Nggak usah ge-er." Gafa langsung pergi usai berkata. Danira mengejar pria itu sambil meneriakkan namanya. Namun, pemuda itu tidak mempedulikannya, dia tetap berjalan ke arah kelasnya.
"Ada apa lagi sih?" tanya Gafa sambil berhenti dan langsung menghadap gadis itu, Danira ikut berhenti lalu menatap Gafa tanpa bersalah. "Kenapa gangguin saya mulu?" lanjut siswa itu kesal.
"Cuma mau nganterin, kok."
"Berhenti gangguin saya," ujar Gafa penuh penekanan.
Seketika ponsel Danira berdering, dia mengambil benda tersebut dari dalam tas dan segera menekan tombol hijau setelah melihat ada nama ketua osis terpampang di layar pipinya.
"Ok, aku ke sana." Danira segera mengakhiri sambungan telepon dan memasukan gawainya ke dalam tas kemudian berjalan mundur beberapa langkah sambil mengoceh, "Jutek jutek juteeek."
Setelah puas dengan ocehannya gadis itu segera berbalik dan berlari ke ruang osis.
Sudah ada beberapa orang yang berkumpul di ruangan osis tersebut, ada ketua, sekertaris, dan bendahara. Danira langsung duduk dan bertanya agenda bulan ini. Ketua osis menjelaskan sambil melihat buku agenda osis bahwa ada jadwal kegiatan rutin seperti biasa. Mereka semua sepakat akan mengadakan rapat setelah pulang sekolah nanti. Sang sekertaris ditugaskan menginformasikan kepada seluruh anggota osis untuk hadir rapat melalui grup Whatsapp.
Setelah berbicang-bincang sejenak, Danira pergi ke kelas karena bel pelajaran pertama sebentar lagi akan berbunyi.
Kantin sekolah sudah mulai ramai berdatangan siswa-siswa, ada yang sedang berkumpul dengan beberapa orang dalam satu meja, ada yang berdua, ada yang hanya sendiri. Seperti seseorang yang duduk di ujung depan sana. Danira bisa mengenali orang tersebut bahkan saat dia baru saja berada di pintu kantin. Danira langsung saja berjalan ke arah meja tersebut.
"Eh kamu, ngagetin aja." Ranu menoleh pada sosok yang menepuk bahunya sedikit keras itu.
"Gimana? Dia suka nggak sepatunya?" Siswa yang ditanya itu hanya mengangguk sambil mengaduk isi mangkuk di depannya.
"Terus kenapa itu muka ketekuk gitu, kek nggak pernah ketemu setrika?"
"Cewekku diajak ke kantin bareng, nggak mau. Katanya mau makan sama temannya di kantin sebelah."
Sekolah mereka memang ada dua kantin. Kantin ini menjadi favorit dua siswa itu.
"Ellah, terus kamu ngambek gitu? Hilih kek anak cewek aja kamu," ledek Danira sambil menyuap makanan di mulutnya yang langsung dipesannya saat masuk tadi.
"Entar mau pulang bareng?"
Danira yang masih sibuk menguyah menggeleng.
"Aku ada rapat," sahut Danira terdengar samar karena di mulutnya penuh makanan yang dibalas anggukan oleh lawan bicaranya.
Danira menuju ruang osis sambil memainkan ponselnya, gadis itu mengirim pesan kepada mamanya bahwa dia akan pulang terlambat. Satu per satu anggota osis berdatangan, Danira duduk di sebelah sekertaris yang sedang membuat daftar presensi rapat. Sesekali mereka mendiskusikan apa saja yang kurang.
Telah tiba pada jam yang telah disepakati tadi, maka rapat akan dimulai meski masih ada beberapa kordinator dari setiap devisi belum hadir. Ada juga yang berhalangan hadir.
Ketua osis memimpin pembukaan rapat menjelaskan secara ringkas agenda mereka kemudian memperkenalkan kegiatan tersebut, selanjutnya dan lebih lengkapnya akan dikawal Danira.
Danira mengambil alih, memimpin rapat. Pertama akan membahas tentang tema kegiatan. Gadis itu melempar ke forum untuk memberikan saran tema. Anggota pria lebih mendominasi memberikan judul tema, mereka seakan-akan berlomba merebut perhatian wakil ketua osis itu. Memberikan ide terbaik dan menjelaskan argumennya atas tema yang diajukan itu. Sang sekertaris dengan cekatan mencatat setiap usulan tema di papan tulis. Sedangkan ketua osis memantau jalannya rapat, seraya diam-diam tersenyum puas melihat antusias peserta rapat.
___
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
RomanceKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
