Danira kini duduk di meja belajarnya merapikan buku yang akan dibawa besok ke sekolah, gadis itu juga mengecek bukunya takut ada tugas yang belum dikerjakan. Cukup nilai ulangan hariannya saja yang jelek.
Saat mengeluarkan buku yang dibawa tadi dari tasnya, mata gadis itu tertuju pada selembar kertas. Seketika pikiran Danira berkelana pada wajah tenang Gafa saat terlelap.
"Astagaaa, apa-apaan sih aku ini. Kok jadi mikirin cowok dingin itu," protes Danira pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya. Danira kembali memasukkan buku mata pelajaran untuk besok dalam tasnya.
***
Hari ini Gafa sudah masuk sekolah meski tubuhnya belum terlalu pulih, tetapi pria itu sudah merasa kuat untuk ke sekolah. Gafa baru saja masuk gerbang sekolah. "Gafa!" Teriakan seseorang membuatnya berbalik dan mendapati orang tersebut berlari ke arahnya dengan senyum terukir di bibir manisnya. Pagi yang manis.
"Udah kuat sekolahnya? Dah nggak sakit lagi?" tanya gadis itu menyentuh bekas lebam pipi Gafa dengan tangan kanannya.
Gafa yang merasa jadi pusat perhatian menurunkan tangan Danira. "Udah nggak apa-apa, jangan lebay," jawab Gafa datar.
"Kenapa?" tanya Gafa dingin ketika Danira menatapnya sambil senyum-senyum.
"Seneng liat kamu," balas Danira masih dengan senyumnya. Mendengar perkataan Danira membuat Gafa kesal dan kembali menuju kelasnya meninggalkan gadis itu. Danira mengejar Gafa dan berusaha menyejajarkan langkah.
"Ngapain?" tanya Gafa menatap tajam Danira, gadis itu hanya cuek saja dan tetap berjalan di samping Gafa.
"Kelas kamu kan di sana," ucap Gafa sambil melihat lalu menunjuk ke arah kelas Danira dengan dagunya.
"Nemenin kamu ke kelas."
"Saya bisa sendiri." Gafa terus berlalu dengan santai sedangkan Danira berhenti sambil ngedumel,"Bisa sendiri bisa sendiri, gitu aja teros." Danira berlari mengejar Gafa dan setiba di samping siswa itu, Danira langsung menggayutkan tangan kirinya di siku kanan Gafa. Seketika pria itu menatap tidak suka pada Danira.
"Jangan pegang-pegang. Lepas!" pinta Gafa jutek berusaha melepas tangan Danira. "Nggak mau!" Gadis itu makin mempererat genggamannya di lengan Gafa. Gafa hanya mampu mengembus napas kasar dan tetap melangkah dengan perasaan muak dengan tingkah gadis di sampingnya.
Semua mata tertuju pada Gafa dan tangan Danira di lengan pria itu. Dari gerbang sekolah sampai di kelas dia menjadi pusat perhatian, menyebalkan menurut Gafa.
Setelah Gafa meletakkan tas di mejanya. Danira pamit ke kelasnya.
"Aku ke kelas dulu, ya." Gadis yang tingginya hanya mencapai dagu Gafa itu sedikit mendongak mengacak-acak rambut kakak kelasnya tersebut lalu segera berlalu.
Dalvin tiba-tiba muncul di depan meja Danira saat jam istiraha. Siswa itu mengajak Danira makan bersama di kantin. Namun, lagi-lagi gadis itu menolak dengan halus. Dalvin yang merasa kecewa pergi begitu saja. Ada banyak mata yang memperhatikan hal tersebut membuat Dalvin emosi, siswa itu tidak terbiasa dengan penolakan.
Jam pulang sekolah telah tiba. Danira segera keluar kelas dan berlari menuju kelas Gafa yang berada di lantai tiga. Gadis itu makin mempercepat gerakannya takut jika Gafa telah pulang lebih dulu. Gadis itu berhenti mengatur napas saat tiba di depan kelas Gafa sambil memindai kelas tersebut. Bangkunya telah kosong. Danira menanyakan pria itu. Benar saja, Gafa sudah keluar kelas. Danira langsung lari menuju gerbang sekolah sesekali memperhatikan sekitar barang kali dafa masih berada dalam sekolahan. Gadis itu terus berlari hingga gerbang sekolah dan melihat Gafa di halte. Danira lagi-lagi berlari tanpa lelah menuju pria itu. Danira melepas napas kuat setelah berada di halte, lalu membungkuk terengah-engah mengatur napasnya, sedang Gafa hanya melirik sekilas gadis itu lalu kembali fokus pada buku yang dibacanya dari tadi. Merasa diabaikan, Danira langsung duduk di samping Gafa, sengaja menubruk lengan pria itu dan kembali tidak mendapat respon apa pun. Danira mengambil ponselnya memesan taksi online
"Ayok!" Danira menarik tangan Gafa ketika sebuah taksi berada di depan halte, pria itu terkejut dengan kelakuan gadis di depannya.
"Mau ke mana?" tanya Gafa sambil berhenti, Danira yang masih memegang pergelangan tangan pria itu pun ikut terhenti, kemudian Danira langsung berbalik menghadap Gafa.
"Pulang."
"Saya mau ke resto."
"Resto? Emang udah kuat kerja?" Gafa mengangguk pelan.
"Ya udah kita ke resto." Danira kembali menarik pria itu masuk ke dalam taksi, selama di perjalanan Gafa hanya diam, meski gadis di sampingnya terus bercerita.
Ketika telah sampai di tempat kerja Gafa, pria itu langsung turun.
"Ngapain ikut turun?" tanya Gafa melihat Danira yang sudah berdiri di dekatnya setelah pria itu menutup pintu taksi.
'Nih cewek kapan keluarnya?'
"Nemenin kamu sampe dalem."
"Saya bisa sendiri." Gafa berjalan masuk restoran dengan cuek.
"Hiih itu mulu deh. Kamu cuma punya perbendaharaan kosa kata itu doang ya, saya bisa sendiri, saya bisa sendiri," omel Danira yang berjalan di samping Gafa.
"Suka-suka saya." Gafa terus melangkah masuk ke ruang ganti tanpa memedulikan Danira.
Danira yang merasa kesal hanya bisa mengomel dalam hati. Setelah menyapa Mbak resepsionis Danira menuju meja paling sudut restoran tersebut lalu memesan makanan dan harus Gafa yang mengantarnya.
"Saya lagi kerja, jangan ganggu!" tegas Gafa setelah meletakkan pesanan Danira kemudian meninggalkan gadis itu. Danira hanya bisa melongo melihat sikap jutek pria itu.
Saat sedang menikmati makanannya gawai gadis itu berdering. Segera digesernya tombol hijau tersebut.
"Ya, Ranu." Danira menerima panggilan sambil menguyah.
"Aku abis dari kelasmu nyariin. Katanya kamu pulang buru-buru."
"Hoo tadi ada urusan, lagi di mana?"
"Masih di sekolah, tadi ada urusan juga. Baru kelar. Kamu di mana?"
"Di restoran."
"Aku jemput. Sharlok, ya." Danira mematikan sambungan teleponnya lalu mengirim alamat di mana dia saat ini.
Danira yang melihat Ranu telah sampai dia segera keluar menemui lelaki itu dan mengajak Ranu untuk makan. Namun, temannya itu menolak karena sedang tidak ingin.
"Beneran nggak mau makan?"
"Iyaaa, ayook! Eh tapi aku jemput nggak cuma-cuma loh." Danira membelalak mendengar perkataan temannya.
"Bantuin milih sesuatu buat cewekku, ya. Kita mall."
"Apaan emang?"
"Ish ikut aja. Nanti juga kamu tau. Eh makanmu udah selesai kan?" Ranu memastikan kalau perut temannya itu sudah terisi penuh.
"Tunggu bentar, aku belum bayar," pinta Danira kemudian masuk ke dalam restoran. Danira mengambil tas di tempat duduknya tadi lalu memanggil pelayan untuk pembayaran. Sebelum pergi Danira menuju meja resepsionis. "Mbak, titip pesan buat Gafa, ya. Bilangin kalau aku udah pulang." Mbak resepsionis mengangguk paham. Setelahnya Danira melenggang keluar.
Gafa yang sedang membawakan pesanan pelanggan mencari-cari Danira karena tidak melihat gadis itu, hingga dia tidak sengaja melihat Danira bersama Ranu di luar restoran melalui dinding kaca berwarna gelap yang tembus pandang dari dalam, dua siswa berseragam SMA itu bersiap untuk pergi. Gafa terus menatap Danira hingga punggung gadis itu menghilang dibawa Ranu dengan kendaraannya.
Gafa sedang menuju dapur dengan nampan di tangannya, tiba-tiba Mbak resepsionis memanggilnya.
"Iya, Mbak. Ada apa?"
"Danira nitip pesan buat kamu. Kalau dia udah pulang." Mbak resepsionis menyampaikan sesuai pesan Danira.
"Ooh iya Mbak," jawab Gafa mengangguk kemudian berlalu.
___
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA GAFA (Kamu Luka yang Diam)
RomansKAMU, LUKA YANG DIAM Sebuah peristiwa pembully-an mempertemukan dua insan yang memiliki kepopuleran berbeda di sekolah. Danira wakil ketua osis dan idola hampir semua siswa & Gafa siswa sederhana yang berprestasi, tapi tidak terkenal. Suatu waktu Da...
