Sakha sangat tidak mau dijodohkan oleh orangtuanya. Walau bagaimanapun ia sudah dewasa dan bisa mencari pasangan hidup sendiri. Namun, papinya malah menjodohkan dirinya dengan pria yang ia temui di halte bus bernama Yudha. Sakha enggak habis pikir...
"Jika diberikan waktu kembali, mungkin saya masih mau untuk memperbaiki hubungan dengan orang itu. Iya, walaupun pada akhirnya hanya dianggap 'teman'."
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sakha meloloskan kemeja batik mega mendung yang membalut tubuh berbobot 47 kg-nya dan menampakkan kulit fairly light yang tertutup tanktop. Barusan ia pulang dari perpustakaan dan mampir ke warteg untuk membeli lauk karena ia tidak masak pagi tadi. Kakinya lantas melangkah ke kamar mandi untuk cuci kaki. Gadis itu belum berkeinginan untuk mandi sekalian karena ingin makan dahulu. Setelah selesai, ia berjalan kembali mengambil piring serta sendok dan menyiduk nasi. Jemari lentiknya kemudian membuka bungkusan plastik berisi tongkol balado tersebut lalu memakannya lahap.
Sakha sendiri adalah tipe manusia pemilih makanan, banyak jenis yang ia tidak sukai. Jika makan di restoran atau cafe saja ia hanya mau mencoba menu yang benar-benar terlihat enak sesuai seleranya saja. Enggak mau yang namanya ngikutin selera review teman-temannya. Di rumah Yogyakarta saja, ia hanya mau makan masakan papinya. Kalo ada tetangga atau punjungan hajatan saja kadang ia enggak makan. Kecuali kalo papinya udah bilang makanannya bener-bener enak.
Selesai makan, Sakha mengambil ponselnya yang berbunyi. Gadis itu dengan malas mengangkat panggilan video by WhatsApp dari Yudha.
"Ngapain kamu nelpon aku?" tanya Sakha to the point. Gadis itu agaknya masih merasa kesal lantaran bertemu dengan pria aneh―yang wajahnya sama sekali enggak terpampang di layar gawai―saat kencan dengan Ezra sehari lalu.
Di seberang―terlihat dari gawai gadis yang rambutnya sudah dicepol asal-asalan itu―Yudha belum bersuara, hanya terdengar suara grusak-grusuk dan video yang goyang lalu fokus kembali menyorot pada sebuah meja kerja yang terisi tumpukan buku, tempelan note warna-warni, dan juga komputer yang menyala. Sakha masih berusaha untuk tidak beralih memandang yang lain, walaupun sejujurnya ia ingin mengakhiri saja panggilan video itu. Cause it's so weird, dude! Yakali dia di telepon malam begini cuma buat mantengin tumpukan buku dan tempelan note warna-warni doang, badannya udah bau keringat dan kecut lho. Belum juga dia salat Isya. Kurang kerjaan banget.
Sakha hampir memencet tombol akhiri panggilan sebelum akhirnya suara Yudha terdengar. [Maaf, Sa. Saya baru terima orderan Mie Gacoan, jangan ditutup dulu.]
Mata bulatnya yang terbalut kacamata geometric tersebut berputar malas. Aelah, anying bat itu orang! Sakha meletakkan gawai Samsung silvernya itu bersandar pada gelas yang isinya tinggal separuh. Ia membawa piring kotornya ke wastafel dan cuci tangan dulu, lalu kembali lagi duduk menatap gawainya.
Kini layar gawai gadis itu sudah tidak lagi menyorot meja kerja yang menurutnya cukup berantakan, sekarang hanya sebuah kamar yang bernuansa light grey dengan ranjang ukuran king size yang keliatan. Kondisinya kurang lebih sama dengan meja kerja yang tadi, acak-acakan dengan selimut tebal masih teronggok serta buku dan peralatan tulis yang berserakan di atasnya.