Siji

395 20 0
                                        

[Loh kok?]

Saya beneran bingung kalau tiba-tiba dijodohin sama pria yang sama sekali enggak saya kenal, dan juga first impression-nya aneh.

***

Pacarnya mami💸

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pacarnya mami💸

Kapan mau pulang? Enggak kangen sama Papi?

Sakha mendengus, membaca chat WhatsApp yang baru saja masuk. Gadis usia dua puluh empat tahun yang baru saja menyelesaikan naskah revisi novel yang rencananya tahun ini akan terbit itu meletakkan gawai merek Samsung andalannya ke meja. Matanya terpejam sesaat sebelum akhirnya terbuka untuk memandang komputer perpustakaan yang masih muter-muter.

File hasil revisinya belum juga ke kirim ke nomor WhatsApp tim editor penerbit. Dia agak menyesal lantaran memutuskan untuk revisian naskah menggunakan komputer perpustakaan tempatnya bekerja sekarang, bukan menggunakan laptop alakadarnya di kost-kostan yang tentunya bakal lancar jaya lantaran jaringan internet-nya 4G.

Gawainya kembali berdering, menyenandungkan lagu milik KARA berjudul STEP yang ia jadikan sebagai nada dering. Dengan malas dan menahan kekesalan, gadis itu mengangkat telepon.

[Papi tunggu chat-nya kenapa nggak dibales? Kamu marah sama Papi?]

Sakha menjilat bibirnya yang kering, kemudian mengembuskan napas. "Enggak, Pi. Aku nggak marah sama Papi."

[Kalo enggak marah kenapa chat Papi didiemin?]

Haruskah dia ngomong ke-papinya perkara kekesalannya terhadap komputer perpustakaan yang lemot pake banget serta tenggat waktu kirim naskah revisian yang mepet? Belum lagi harus negur dan beresin kekacauan pengunjung yang ribut rebutan buku fiksi gegara lagi booming.

"Aku masih sibuk," alhasil hanya itu yang bisa gadis perawan dengan kemeja batik serta rok hitam itu katakan.

[Emang ngapain? Eh, tapi yaudah.]

Sakha kembali mengembuskan napasnya agak capai. Komputer di depannya belum juga menampilkan tanda-tanda akan waras. File naskahnya baru terkirim 75% artinya masih ada 25% lagi. Dan dia harus nunggu sampe kapan? Jam di komputer juga telah menunjukkan pukul 17:15 WIB. Masa si dirinya harus bermalam di perpustakaan bergaya klasik ini sendiri, ya nggak maulah. Bisa-bisa dia bakal bertemu manusia Belanda bukanya artis Korea.

"Pi?" Sakha bersuara memanggil papinya yang sedari tadi diam. "kok diem?"

Di seberang terdengar suara grusak-grusuk entah apa itu. Kadang Sakha agak heran sama suami maminya itu. Kalo teleponan begini pasti ada aja suara-suara nggak jelas ataupun tindakan papinya yang memilih bungkam untuk waktu yang tidak sebentar. Padahal jelas-jelas yang menghubungi duluan beliau, tapi dirinya malah dikacangi begini.

"Pi?"

[Maaf, Sa, barusan ada tamu. Jadi Papi tinggal sebentar. Iya kenapa?]

Nah, kan! Papinya bakal begini. Sudahlah kesabarannya udah mentok, ia akan menutup panggilan papinya itu.

Our Relationship : Como Lo Vueye Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang