Bagian Wholulas Njih

83 5 0
                                        

|The Truth|

"Semuanya akan terkuak, diwaktu yang tepat."

***

Sakha diajak berbicara berdua dengan ibunya Yudha di kantin rumah sakit. Hari sudah larut dan dirinya serta sang papi belum memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Papinya tidak tega meninggalkan sahabatnya dalam kondisi buruk seperti dirinya dulu, saat kehilangan separuh jiwanya. Mami Sakha memang sudah meninggal sejak gadis itu dilahirkan, apa penyebabnya Sakha juga tidak tahu. Papinya Abraham tidak berterus terang.

Sakha menyeruput lyche tea dalam botol dengan sedotan, menunggu perempuan berjilbab di sampingnya untuk berbicara. Kantin rumah sakit ini tidak terlalu ramai di waktu petang begini. “Tante jadi mau ngomong sesuatu?” tanya gadis itu.

Rani yang hanya terdiam sambil menggenggam cup teh hangat itu mengembuskan napas lalu mengangguk. “Jadi kok, saya jadi mau ngomong sama kamu,” balasnya dengan nada dibuat tegar. Sakha mengangguk.

Ibu sambungnya Yudha itu mengarahkan pandangannya pada Sakha, gadis itu menaikkan dua alisnya, masih menggenggam botol lyche tea yang tinggal setengah. “Sebelumnya, saya ingin meminta maaf atas nama Yudha karena berkali-kali membuat kamu sedih.” Sakha mengernyitkan kening, kenapa tante Rani harus meminta maaf padanya? Yang salah juga Yudha. Itu yang ada dibenaknya sekarang.

“Saya tahu kalau kamu berkali-kali dibohongi oleh Yudha, pasti kamu merasa sangat kecewa, ‘kan?” Sakha yang nampak bingung itu hanya mengangguk. Rani menyunggingkan senyuman tipis. “Saya kalau jadi kamu pun akan melakukan hal yang sama, marah, kecewa dan mungkin akan menyumpahi dia.”

Tante Rani menghela napasnya lagi dan melepaskan genggamannya pada cup teh putih di depannya dan beralih mengarahkan seluruh tubuhnya dengan salah satu tangan bersandar pada meja kantin.

“Yudha itu sosok yang terbilang unik menurut saya. Dulu saat pertama kalinya kami bertemu, pria itu tidak seperti sekarang yang kamu kenal.”

“Memangnya Yudha seperti apa, Tan?” balas Sakha penasaran.

“Yudha itu anak yang cukup kacau saat pertama kalinya setelah beberapa saat saya melihatnya,” Rani segera mengoreksi perkataannya, “bukan kacau dalam tanda kutip nakal, ya. Dia sama sekali bukan anak nakal malahan.”

“Lalu?”

“Yudha itu punya semacam penyakit mental, it can be said a trauma.

Sakha betul-betul mengerutkan kening seolah berpikir, ‘iya, kah? Trauma semacam apa? Apa itu berat sekali?’

“Saya tidak berhak untuk berterus terang pada kamu, karena itu termasuk aib bagi Yudha. Jadi yang akan saya bicarakan dengan kamu kali ini ialah kehidupan masa kecilnya sebelum dia akhirnya mendapatkan trauma itu.” Rani memegang pundak Sakha yang terbalut havier sweater camel. “Nggak usah tegang begitu wajah kamu, saya akan menceritakan hal-hal yang menyenangkan kok.”

Our Relationship : Como Lo Vueye Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang