Di titik juang yang sama
Menetap di satu tempat singgah
Diberi banyak persamaan dari semesta
Juga sesekali di temukan tiba-tiba
Akankah semesta membuka percakapan kita?
Ketika takdir menyatukan perbedaan
Apa itu alasan semesta menyamakan?
Penasaran...
Rakha telah sampai di kantor milik celano. Ia segera masuk lift menuju Dimana ruangan celano berada. Sampai di depan ruangan itu Rakha sedikit menggeser tubuhnya menghadap berbicara dengan monitor yang ada di samping pintu ruangan itu.
"Assalamualaikum pa" ucapnya pada benda kotak itu.
"Waalaikumsalam, langsung masuk aja rakh" balasan dari dalam sana.
Rakha kembali bergeser berdiri di depan pintu kemudian segera masuk ketika pintu itu terbuka.
Sedikit informasi, pintu itu terbuka ketika terkena sensor tubuh seseorang. Tapi gak semua sembarangan orang yang bisa masuk kedalam sana. Cuma celano, Alin, dan Rakha tentunya.
"Duduk rakh, ada sesuatu yang mau papa bicarain sama kamu"
Rakha duduk dikursi didepan celano.
"Ada apa papa manggil Rakha kesini?"
Celano berdiri berjalan menuju lemari pribadinya, mengambil sesuatu kemudian memberikannya pada Rakha.
Rakha mengernyit, surat?
"Surat pa?"
"Iya rakh, itu,, surat yang ditulis Leo sehari sebelum dia menjalankan oprasinya, dia bilang kalo surat itu untuk kamu. Kenapa papa baru ngasih ini ke kamu,,karna papa rasa waktu itu belum tepat waktunya. Dan sekarang udah saatnya kamu tau semuanya" celano menjelaskan.
"Tiga tahun pa? Selama itu? Rakha emang anak angkat papa,tapi papa gak pernah nyembunyiin apapun dari Rakha. Apa yang Rakha gak tau pa?"
"Surat itu yang bakal menjawab pertanyaan kamu. Sudah papa manggil kamu cuma mau ngasih surat itu. Setelah ini papa ada meeting. Kamu mau langsung pulang atau mau baca surat itu disini?"
"Rakha langsung pulang aja pa" ucapnya seraya berdiri dari kursi.
"Yaudah kalo gitu, kamu hati-hati di jalan"
"Iya pa assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Celano menatap kepergian Rakha. Ia tau apa isi surat itu, karna waktu itu Leo sudah memberi taunya lebih dulu tentang isi suratnya. Celano menarik nafasnya dalam, ia setuju dengan ucapan Leo, dan ia juga yakin kalo Rakha memang benar-benar bisa menjaga putrinya.
Jadi bang Leo punya adik? Tapi dimana dia sekarang? Ahh gue pikirin itu nanti.
Rakha berjalan menuju balkon, menggenggam erat surat yang ada di tangannya.
"Sebenarnya tujuan adik Lo itu apa nyembunyiin identitasnya serapih ini. Sampe gue sendiri pun gatau kalo Lo itu punya adik. Gue sering banget ke rumah papa tapi di rumah itu gak ada tanda-tanda yang nunjukin kalo di situ ada perempuan, kecuali bi Tini. Gue yakin Lo pasti lagi liat gue sekarang. Gue janji bang sama Lo, gue bakal jaga adik Lo. Untuk saat ini gue emang gak tau adik Lo yang mana namanya juga siapa. Lo bilang adik Lo seumuran sama gue, berarti adik Lo itu ada di sekolah yang sama - sama gue, sekolahnya papa. Gue gak bakal nyari tau lewat papa, tapi gue bakal cari tau sendiri. Selama ini Lo selalu baik sama gue. Sorry waktu hari Lo di kebumikan gue gak ada di sana. Lo bantuin gue juga ya bang dari atas sana"
Rakha tersenyum lalu melihat surat yang kini sudah berada di dalam amplopnya.
Rakha kembali masuk kamar. Ia ingin segera tidur agar hari pertama pencarian adik bang Leo tenaganya sudah terisi penuh. Rakha memejamkan matanya, tak lama kemudian ia sudah tertidur dengan pulas.